Rumah Hikmah

Rumah Hikmah: membangun kemakmuran umat melalui sharing belajar bersama berbagi Ilmu dan Amal dalam ber-bisnis mandiri melalui kantor di rumah sendiri sampai memiliki bisnis mandiri mancanegara Eksportir Indonesia.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-856-111-1819

Eksportir Indonesia

Membangun bisnis mandiri skala International Eksportir Indonesia bersama pe-bisnis Korea, China dan Malaysia. Seharusnya kita mampu menjadi pemenang dengan memaksimalkan potensi alam yang kita miliki disertai dengan ilmu pengetahuan.

Dinar Islam

Membangun pondasi perekonomian keluarga islami berdasarkan Al Qur'an dan As Sunah. Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Membangun Kemakmuran Umat

Saatnya kita membangun (kembali) kemakmuran umat yang sebenarnya memiliki Sumber Daya Alam yang kaya akan tetapi terjajah oleh kurangnya iman, ilmu pengetahuan dan amalan.

Bersama kita bisa...!!!

Saling berbagi pengalaman, kemampuan yang dimiliki masing-masing individu dan berbagi ilmu pengetahuan, kita bersama-sama membangun (kembali) kemakmuran umat dengan kekayaan potensi alam yang kita miliki..

Entrepreneur inside "I"



1. Informasi

Ayat pertama di Al-qur’an yang turun ke Rasulullah SAW adalah Iqra’...(bacalah...), ini untuk menggambarkan betapa pentingnya membaca atau menangkap informasi ini. Membaca apa yang tersurat seperti yang ada di Al-Qur’an ataupun membaca apa yang tersirat di alam sekitar kita.

Hasil dari ‘bacaan’ tersebut terkumpullah informasi di otak kita yang kemudian sebagian bisa menjadi peluang untuk berusaha. Bila Anda tahu misalnya masyarakat sekitar Anda membutuhkan sesuatu, dan Anda-pun tahu bagaimana atau dimana sesuatu tersebut bisa diperoleh – maka Anda sudah bisa jadi pengusaha dalam pemenuhan sesuatu kebutuhan tersebut.

Beberapa dekade lalu contohnya ada pengusaha di Indonesia yang menangkap informasi bahwa masyarakat perlu cara minum yang mudah, maka mulailah dia membotolkan air yang terus kemudian berkembang menjadi air dalam kemasan gelas plastik, dalam galon dlsb. Tanpa kita sadari inilah hasil informasi yang diolah oleh pengusaha tersebut sehingga kita begitu mudah menyajikan minum untuk tamu kita misalnya. Seandainya produk air dalam kemasan ini belum ada, maka mungkin kita masih harus merebus air setiap saat ada tamu di rumah !.

2. Intelligence

Intelligence adalah kemampuan untuk menangkap dan mempelajari fakta kemudian trampil pula mengolahnya. Informasi yang sama berseliweran di depan kita semua, namun sebagian kita bisa menangkap kemudian mengolahnya menjadi suatu usaha – sebagian yang lain tidak menangkap apa –apa, faktor intelligence inilah yang sangat berperan dalam hal ini.

Karena berupa ketrampilan atau skills otak, maka intelligence ini bisa diasah atau dilatih. Bila diasah untuk ketrampilan mengolah peluang usaha misalnya, maka pemilik intelligence ini akan memiliki apa yang disebut business acumen yaitu kemampuan untuk secara cepat memahami situasi kemudian cepat pula mengambil keputusan bisnisnya.

Bagaimana melatihnya ?, sesi-sesi idea brainstorming seperti yang kami adakan di komunitas www.kantor-di-rumah.com adalah salah satu contohnya.

3. Intuisi

Kadang sebuah informasi tidak begitu jelas, antara ada dan tiada. Namun bagi entrepreneur yang berbakat dan berketrampilan, dia sudah bisa mengambil keputusan berdasarkan intuisi-nya.

Intuisi adalah pengetahuan atau kepercayaan tentang sesuatu berdasarkan instink, tanpa harus membuktikan bahwa sesuatu itu ada beneran atau tidak. Intuisi tentang suatu bidang usaha – lagi-lagi bisa diasah dengan pengalaman dan praktek di lapangan.

4. Ilham

Setiap kita sebenarnya telah diberi ilham untuk mampu membedakan sesuatu itu buruk atau baik “fa alhamahaa fujuu ra haa wa takwahaa” (QS 91 : 8), jadi tanpa bertanya ke siapapun sebenarnya hati kecil kita bisa berfatwa untuk diri kita sendiri apakah suatu jalan itu akan membawa kepada suatu kebajikan /ketakwaan atau membawa keburukan.

Hanya saja lagi-lagi bila hati ini tidak dilatih untuk menggunakan ilham tersebut, maka hati ini akan mati – tidak mampu lagi membedakan mana suatu kejahatan dan mana suatu kebajikan.

Seorang muslim yang bekerja/berusaha dalam lingkungan ribawi misalnya, awalnya hati kecil menolak, gelisah dlsb. Namun karena tidak ditinggalkannya pekerjaan/usaha tersebut lama kelamaan hatinya tidak bekerja lagi – dia enjoy saja di lingkungan ribawi tersebut.

5. Inisiasi

Setelah kita menangkap peluang, mengolahnya dengan cerdas, instuisi kita mengatakan ini peluang yang baik dan hati kecil kita pun comfortable dengan ide tersebut – maka ini belum apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa sebelum pekerjaan mengolah peluang tersebut benar-benar di inisiasi atau dimulai.

Inilah yang paling berat, banyak orang pinter dengan berjuta ide ‘man of ideas’ tetapi tidak menjadikan satupun ide-nya diterapkan. Di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi tersedia ratusan ribu atau bahkan jutaan thesis-thesis dari S1 sampai S3, namun hanya sebagian sangat kecil saja dari pemikiran-pemikiran cemerlang tersebut ter-inisiasi-kan dalam sesuatu yang riil.

Tidak ada cara lain untuk melawan ketakutan terhadap sesuatu selain menghadapinya, maka inisiasi inilah cara kita untuk melawan ketakutan akan gagal dalam mengimplementasikan rencana, dalam membangun usaha dan seterusnya.

6. Istiqomah

Setelah kita mulai mengimplementasikan rencana-rencana usaha kita, berbagai masalah akan bermunculan. Peluang itu berkorelasi langsung dengan risiko, artinya di setiap risiko yang kita hadapi – ada peluang bagi kita bila kita berhasil mengatasi risiko tersebut.

Yang diperlukan adalah sikap istiqomah dalam implementasi usaha, yaitu kemampuan kita untuk secara tekun dan terus menerus mengatasi masalah-masalah yang muncul dari rencana yang diimplementasikan dan tidak lari dari masalah atau kesulitan, “maka sesungguhnya bersaman dengan kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS 94:5-6).

Lebih dari itu bila usaha yang kita implementasikan adalah dalam rangka ketaatan kita kepada Sang Pencipta, misalnya diniatkan untuk menciptakan lapangan kerja yang banyak, diniatkan untuk memberi makan di hari kelaparan, maka insyaallah Allah akan menurunkan malaikatnya membantu kelancaran usaha kita.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS 41:30).

7. InsyaAllah

Sebagai orang beriman, kita yakin betul bahwa segala sesuatu hanya terjadi bila Allah menghendakinya terjadi. Sebaliknya, sekeras apapun kita mengusahakannya bila Allah tidak menghendaki sesuatu itu terjadi – maka pasti tidak akan terjadi. Maka tidak ada yang bisa kita sombongkan dari segala upaya ini, karena hanya Dia-lah yang menetukan keberhasilan atau kegagalannya, yang kita bisa lakukan adalah sekedar berusaha.

Lantas bagaimana kita menyikapi dengan I yang ketujuh ini untuk menunjang keberhasilan kita ?, kiat-nya adalah menyelaraskan usaha kita dengan kehendak Allah; karena yang Dia kehendaki pasti terjadi – maka bila kita bisa menangkap kehendakNya di alam ini, itulah peluang sukses terbesar kita.

Lantas bagaimana kita bisa menangkap kehendak Allah ini ?, kembali ke I yang pertama – yaitu informasi atau membaca apa yang tersurat (di Al-Qur’an) dan yang tersirat di Alam. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Pasar kalian tidaklah seperti ini...


Judul tulisan ini diambil dari penggalan hadits Sunan Ibnu Majah (hadits no 2224) yang bunyi lengkapnya adalah : Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam pergi ke pasar Nabith, lalu beliau memperhatikannya dan bersabda: "Pasar kalian tidak seperti ini". Lalu beliau pergi ke suatu pasar (yang lain) kemudian memperhatikannya dan bersabda: "Pasar kalian tidaklah seperti ini (juga)". Kemudian beliau kembali ke pasar ini dan mengelilinginya, lalu bersabda: "Inilah pasar kalian, maka janganlah dikurangi (hak dan timbangan, atau berlaku curang) dan janganlah dibebani dengan pajak".

Ini adalah pelajaran menarik tentang suatu proses yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dalam mempersiapkan pasar bagi kaum Muslimin. Beliau memperhatikan dahulu pasar-pasar  yang sudah ada, setelah beliau melihat sendiri tidak ada pasar-pasar tersebut yang kondusif bagi kaum Muslimin untuk melaksanakan perdagangan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam – maka beliau memutuskan untuk menyiapkan pasar bagi kaum Muslimin yang kemudian  dalam sejarah dikenal sebagai Pasar Madinah.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam datang ke Madinah memang sudah ada beberapa pasar, di antaranya adalah pasar Habasyah yang khusus untuk jual beli budak, pasar Zibalah, pasar Bani Qainuqa' atau pasar Jisr, pasar Mazahim dan pasar Shafshaf.

Pasar Bani Qainuqa' adalah pasar terbesar dan teramai aktivitasnya, pasar ini dimiliki dan dikelola oleh kaum yahudi. Karena dalam kendali yahudi, sulit bagi kaum muslimin untuk memajukan perdagangannya di pasar ini, bahkan banyak di kalangan Sahabat yang dahulunya merupakan pedagang sukses di Mekah seperti Abdurrahman bin 'Auf yang awalnya terpaksa berdagang di pasar ini juga terkendala oleh para pedagang dan pengelola pasar yang yahudi ini.

Itulah sebabnya kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam memutuskan untuk menyiapkan pasar bagi kaum Muslimin. Karakter atau aturan dari pasar bagi kaum Muslimin ini berdasarkan hadits tersebut diatas ada dua yaitu : "fala yuntaqashanna" dan “fala yudhrabanna”. Sulit mencari terjemahannya yang pas dalam bahasa Indonesia, tetapi kurang lebih yang pertama berarti “jangan mencuranginya , mengurangi timbangan, mempersempit (mendirikan bangunan di dalamnya, membatasi akses orang lain) dan berbagai kecurangan lainnya”.  Yang kedua berarti “jangan membebaninya (dengan pajak dan sejenisnya)”.

Penafsiran hadits ini diperkuat oleh apa yang dilakukan Umar Ibn Khattab ketika menjadi Muhtasib (pengawas pasar) menggantikan peran Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam, Umar melarang orang membangun bangunan di pasar, menandai tempatnya, atau mempersempit jalan masuk ke pasar. Bahkan dengan tongkatnya Umar  menyeru “enyahlah dari jalan” kepada orang-orang yang menghalangi orang lain masuk ke pasar. Kemudian Umar mempertegas dasar-dasar pengelolaan pasar bagi kaum muslimin ini dengan pernyataannya yang terkenal “Pasar itu menganut ketentuan masjid, barang siapa datang terlebih dahulu di satu tempat duduk, maka tempat itu untuknya sampai dia berdiri dari situ dan pulang kerumahnya atau selesai jual belinya”. Tidak ada yang meng-kapling shaf di Masjid, maka demikian pula di pasar.

Berbekal hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan apa yang dilakukan oleh Umar Ibn Khattab tersebut diatas yang kemudian menjadi ciri khas pasar bagi kaum muslimin yaitu kesamaan atau kebebasan akses untuk berjualan di pasar bagi seluruh kaum Muslimin (tidak dikapling oleh pihak yang mampu/kuat saja) dan tidak adanya beban-beban yang memberatkan seperti pajak dan sejenisnya; maka kinipun kita bisa meniru Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dalam melakukan observasi ke pasar-pasar yang ada di jaman modern ini, sebelum kita tiru pula bagaimana nantinya Pasar Umat ini bisa kita hidupkan kembali.

Seperti halnya kendala dalam skala mikro; skala makro di perdagangan global – masalahnya kurang lebih sama. Negara yang miskin sulit sekali menyaingi negara-negara yang lebih dahulu mapan, karena tanpa kita sadari negara-negara kaya tersebut juga telah meng-kapling pasarnya masing-masing. Bahkan dengan canggihnya mereka mampu mengkapling otak kita agar pro dengan produk-produk mereka – bukan produk kita sendiri.

Setelah 65 tahun merdeka misalnya, kita masih meng-impor 99.5% kapas untuk industri tekstil dalam negeri. Mengapa demikian ?, Karena pikiran kita sudah ‘dikapling’ oleh mereka bahwa bahan alami tekstil ya kapas. Meskipun negeri ini tidak bisa memproduksi kapas sekalipun (hanya 0.5 % saja dari kebutuhan yang bisa kita hasilkan sendiri) – ya pokoknya harus kapas, harus impor hampir keseluruhannya-pun jadilah asal dapat kapas !.

Seandainya saja kita bisa berpikir out of the box sejak awal kemerdekaan, bahwa untuk bahan alami tekstil adalah serat; tetapi serat tidak harus kapas. Maka berbagi riset dan pengembangan di negeri ini insyaAllah sudah akan menghasilkan bahan alami tekstil yang bahkan lebih baik dari kapas karena mendekati serat sutra – kita bisa gunakan serat gedebog pisang misalnya.

Contoh lain adalah impor tepung terigu atau gandum yang mencapai 100% darti kebutuhan negeri ini, lha wong gandum tidak tumbuh di isini. Memang para pakar kita sedang mengupayakan agar gandum (yang sesungguhnya merupakan tanaman sub-tropis) bisa ditanam di negeri tropis kita ini dengan belajar dari India dan membawa bibit hard wheat yang konon bisa tumbuh di daerah-daerah tertentu di Indonesia dengan ketinggian diatas 800 m dari permukaan laut; namun pertanyaannya adalah mengapa harus bersusah payah dengan  gandum  yang aslinya adalah tanaman sub-tropis?. Lantas dimana makanan asli bangsa ini yang dahulu kita pelajari di SD  bahwa selain makan nasi dari beras, bangsa ini punya sumber bahan pangan lain seperti tepung gaplek, sagu, jagung,  dan sumber tepung yang tidak kalah enaknya dibandingkan dengan terigu seperti tepung garut atau arerut. Bahkan di jaman ini juga banyak potensi lain untuk menggantikan terigu (minimal sebagiannya) seperti MOCAF (Modified Cassava flour), tepung pisang dlsb. ?.

Kita tidak swasembada dalam kebutuhan kapas dan gandum dalam contoh diatas; karena memang oleh para pemasar global kita telah dijadikan pasar raksasa yang sudah terlalu lama mereka nikmati – mereka tentu tidak ingin kita bisa menggantikan dua kebutuhan tersebut diatas dengan hasil karya kita sendiri.

Wal hasil, secara mikro maupun makro – umat Islam yang penduduknya mayoritas di negeri ini hanya menjadi target pasar bagi sebagian kecil penduduk yang bisa mengakses pasar; dan dalam perdagangan global kitapun hanya dijadikan target yang bahkan selama 65 tahun merdeka belum sempat berpikir lain untuk bisa swasembada dalam beberapa kebutuhan hajat hidup  seperti kapas dan gandum tersebut diatas.

Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam melihat pasar-pasar yang ada di jaman kita sekarang,  baik yang mikro maupun yang makro , maka kemungkinan besarnya beliau akan bersabda yang sama “Pasar Kalian Tidak Seperti Ini…”; namun beliau tidak ada di sekitar kita, dan nampaknya belum ada pemimpin negeri ini dari tingkat pusat mapun daerah yang peduli terhadap kebutuhan kaum Muslimin untuk memiliki pasar sendiri sebagaimana pedulinya Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam terhadap umatnya – maka siapa lagi yang bisa membangun pasar bagi kaum Muslimin ini selain kita-kita sendiri ?.

Dengan Collective Intelligence kita bersama, insyallah bisa kita pecahkan dan implementasikan prinsip-prinsip "fala yuntaqashanna" ,  “fala yudhrabanna” dan pengelolaan pasar yang mengikuti ketentuan pengelolaan masjid – yang paling sesuai dan applicable di zaman modern ini.

Sambil kita berusaha melahirkan kembali Pasar Madinah yang diharapkan bisa memberi peluang luas bagi penduduk mayoritas negeri ini untuk bisa berdagang dan mentas dari kemiskinan, bagi yang sudah mampu berdagang di berbagai pasar yang ada juga tidak perlu menunggu lahirnya Pasar Madinah untuk berdagang secara maksimal dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam meraih kejayaan ekonomi umat.  Untuk inipun kita bisa belajar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dengan para sahabatnya.

Dalam Shahih Bukhari Ibnu ‘Abbas Radliallahu ‘Anhuma berkata : “ Ukazh, Majannah dan Dzul Majaz adalah nama-nama pasar di jaman Jahilliah. Ketika Islam datang mereka (kaum muslimin) seakan-akan merasa berdosa bila tetap berdagang di pasar-pasar tersebut. Maka turunlah firman Allah Ta’ala di Al Qur’an surah Al –Baqarah ayat 198 : ‘Tidak ada dosa bagi kalian  jika mencari rizki Rabb kalian...’ Ini dilakukan selama musim haji, menurut Ibnu ‘Abbas Radliallahu ‘Anhuma.”

Sudah barang tentu berdagang di pasar yang tidak dikelola secara Islami akan dijumpai banyak kendala bagi kaum Muslimin yang berusaha menerapkan syariah dalam bermuamalah di pasar-pasar tersebut, oleh karenanya upaya untuk melahirkan kembali nilai-nilai dan system pengelolaan Pasar Madinah perlu ada yang merintisnya.  Setidaknya upaya ini kita mulai, biarlah Allah sendiri yang menuntunnya sampai kemana hasilnya kelak.

Semoga kelak kitapun bisa meniru Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dalam berucap kepada saudara-saudara kita kaum Muslimin : “….Inilah pasar kalian, maka janganlah dikurangi (hak dan timbangan, atau berlaku curang) dan janganlah dibebani dengan pajak”. Amin

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Sejarah dan Manfaat Alfaafa / Alfalfa

Tahukah Anda bahwa postur tubuh sesungguhnya lebih tergantung pada nutrisi, bukan pada genetik? Dan tahukah Anda, bahwa di abad pertengahan, postur tubuh rata-rata kaum Muslimin lebih tinggi dan kekar dari rata-rata orang-orang Eropa?
Ketika tahun 711 M pasukan Thariq bin Ziyad mendarat di Spanyol dan mengawali 781 tahun (711-1492) kekuasaan Islam di sana, mereka tidak hanya membawa visi hidup yang baru tetapi juga banyak teknologi yang baru, antara lain di bidang pertanian. Pertanian itu menentukan makanan yang menjaga kesehatan kaum muslimin dan juga logistic untuk sarana jihadnya, yaitu kuda.

Posisi logistik dalam setiap ekspedisi jihad adalah vital. Kemenangan perang manapun sering di tentukan bukan oleh senjata atau kehebatan tempur pasukan tetapi oleh logistik yang sudah direncanakan ditaruh di tempat yang  tepat pada saat yang tepat. Ibaratnya, sebuah kapal induk bertenaga nuklir, tidak ada artinya bila kehabisan bahan bakar dan awaknya kelaparan.

Pada masa Thariq bin Ziyad, logistik yang menentukan adalah makanan prajurit dan pakan kuda! Jadi pada setiap pergerakan harus ada rumput bergizi tinggi yang bisa ditanam atau disediakan dengan cepat.
Sejarah dan Manfaat Alfaafa / Alfalfa
Alfaafa / Alfalfa
Karena jihad menjangkau daerah yang luas dengan waktu yang lama—bisa puluhan tahun —  maka logistik berupa rumput ini juga harus bisa dihasilkan di daerah-daerah yang stratedis yang sudah dikuasai oleh pasukan Islam. Maka bagian logistik dari pasukan Islam saat itu sudah mengenal rerumputan bergizi tinggi yang sangat efektif untuk menumbuhkan kuda, tanaman bergizi tinggi inilah yang disebut alfalfa. Karena penguasaan Islam yang lama khususnya di Spanyol , teknologi menanam alfalfa ini lalu  menular ke bangsa Spanyol.

Ketika 800 tahun kemudian panglima Spanyol Hernando Cortez menaklukkan bangsa Aztecs di Mexico dengan strategi perang yang menjiplak Thariq bin Ziad –membakar kapal– beserta cara membangun logistiknya dengan tanaman yang sama -alfalfa– yang diperkenalkan Islam di Spanyol selama 781 tahun! Akhirnya alfalfa terbawa ke benua Amerika. Oleh karena itu sangatlah wajar jika Amerika Serikat menjadi dominan di bidang “nutritious plants” dan pengekspor daging terbesar di dunia.
Sejarah dan Manfaat Alfaafa / Alfalfa
Umat lain yang memanfaatkan Alfaafa / Alfalfa
Dari mana kita membuktikan bahwa alfalfa berasal dari dunia Islam? Yang termudah adalah dari sisi bahasa! Karena peradaban Islam yang berkembang hampir  8 abad di Spanyol,  Maka banyak sekali kata atau nama-nama yang berasal dari Islam—termasuk diantaranya alfalfa ini!. Keith Millier seorang warga Amerika pakar Timur Tengah menulis dalam karyanya “Arabic Words in English” (millerworlds.blogspot.com/2010/07/arabic-words-in-english.html) bahwa  alfalfa berasal dari al-fisfisa, yang berarti “fresh fodder” atau pakan segar.

Dalam bahasa Spanyol maupun bahasa Inggris hingga kini tidak ada kata lain yang searti dengan alfalfa untuk nama tanaman bergizi (nutritious plants) yang dibawa dari dunia Islam 14 abad lalu itu. Maka dari nama ini tidak bisa disangkal lagi bahwa kekuatan produk pertanian terbesar ke-3 di Amerika tersebut –alfalfa– bisa dirunut berasal dari peradaban Islam.

Ironinya di dunia Islam sendiri tanaman ini kini nyaris tidak pernah terdengar lagi karena tidak menjadi perhatian untuk di produksi. (padahal sari alfalfa 500ml sekarang bisa mencapai 250 ribu).

Prof. DR. Zagloul Al Najjar – Fellow of Islamic Academy Science di Mesir—yang menulis lebih dari 150 mukjizat Al-Quran dan Implikasinya pada ilmu pengetahuan, menjelaskan dengan detil rantai makanan yang diungkapkan Allah dalam serangkaian Ayat di surat ’Abasa mulai dari ayat 24 tersebut diatas sampai ayat 32.

  “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma,  kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (Q.S.’Abasa :24-32)

Ketika professor ini membahas ayat “wa ‘inaban wa qadhban” misalnya—yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “dan anggur dan sayur-sayuran”-dalam bahasa Inggris diterjemahkan “and grapes and nutritious plants” – ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan nutritious plants adalah tanaman alfalfa—yang memang sangat kaya dengan gizi.

Kalau kita melihat bahwa Alquran masih sama, masih pula dihafal oleh banyak orang tetapi dulu kaum Muslimin bisa menjadi umat dengan fisik yang kuat serta memiliki pasukan jihad yang kuat, maka apa yang hilang sehingga sekarang keunggulan kita di bidang ini tiada?

Salah satu jawabannya, karena kita sekarang tidak memiliki lagi negara yang mendorong kita menjadi umat yang unggul, tak ada lagi misi jihad untuk merahmati seluruh alam, tidak ada lagi yang membutuhkan teknologi logistik di belakangnya, sehingga juga tidak ada lagi anak-anak cerdas kaum Muslimin yang mencurahkan waktu dan pikiran untuk mempelajarinya.

Sumber:  Prof Dr Ing Fahmi Amhar   (Media Umat Edisi 66, 25 Syawal—5 Dzulqaidah 1432 H/ 23 September—6 Oktober 2011 M)

Dengan mengetahui alur perkembangan tanaman ini, maka sekarang kita mengetahui betapa bermanfaat tanaman ini bagi kesehatan tubuh.

Berikut ini manfaat tanaman alfalfa :
  • Daun tanaman alfalfa mengadung delapan asam amino esensial, yang kandungan proteinnya sangat tinggi. Hal ini membuat alfalfa memiliki sumber gizi yang sangat baiik, ketika dibuat menjadi teh alfalfa atau dimakan mentah. Selain asam amino, alfalfa mengandung vitamin, termasuk vitamin D dan vitamin K, tingkat tinggi klorofil, Fosfor, kalium, magnesium, dan kalsium.
  • Manfaat lain : dapat menambah nafsu makan, menghentikan pendarahan, menurunkan kolesterol, kadar gula darah, mengobati sakit perut atau diare, dan mengurangi rasa sakit pada sendi. Daun alfalfa dapat juga digunakan sebagai diuterik, membuat anda buang air kecil lebih sering untuk membersihkan sistem dan membersihkan penyumbatan di kandung kemih atau ginjal.

Manfaat lainnya
  • Membantu tubuh dalam melawan virus (seperti virus influenza)
  • Mengurangi resiko timbulnya radang sendi dan reumatik
  • Dapat mencegah dan menurunkan tekanan darah tinggi
  • Mencegah timbulnya kadar gula darah yang tinggi
  • Menurunkan kadar kolesterol, membantu menurunkan berat badan dan menurukan resiko terkena berbagai penyakit hati
  • Menurunkan resiko terkena stroke dan menghambat penurunan fungsi syaraf
  • Memperbaiki fungsi kognitif bermanfaat bagi kesehatan gusi
  • Mencegah sesak nafa dan mengurangi stress
  • Menghilangkan kelelahan dan keletihan
  • Mampu mencegah timbulnya penyakit kanker, mampu mengendalikan pertumbuhan tumor dan membantu penyembuhan penyakit kanker
  • Berfungsi sebagai anti radang tenggorokan
  • Mencegah osteoforosis
  • Mencegah timbulnya alergi
  • Melindungi lever dan mencegah hepatitis
  • Bagus dikonsumsi oleh penderita diabetes.
http://goo.gl/6vhlj
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/dwI6i
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Belajar dari Krisis Keuangan Dunia

Meskipun dampaknya yang sangat luas melanda seluruh dunia, nampaknya sangat sedikit orang yang memahami apa dan bagaimana krisis ini, dari mana dia berasal, apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya dst. Karena sedikit yang paham, maka lebih sedikit lagi yang bisa mengambil pelajaran.

Belajar dari Krisis Keuangan Dunia
Belajar dari Krisis Keuangan Dunia
Agar kita bisa mengambil pelajaran, marilah kita menjadi golongan yang sedikit tersebut dengan mencoba memahami krisis ini. Kita coba menuliskan dengan lebih sederhana berupa point-point pentingnya saja sebagai berikut :
  • Krisis ini bermula di Amerika Serikat; penyebab awalnya adalah tindakan bank sentral mereka the Fed yang berusaha memulihkan ekonomi paska peristiwa WTC 9/11 dengan cara menurunkan suku bunga secra terus menerus.
  • Rendahnya suku bunga memicu keluarga-keluarga di Amerika keranjingan meng-‘gadaikan’- rumahnya, menjadikan rumah-rumah mereka sumber duit untuk keperluan yang nggak terlalu penting sekalipun.
  • Karena maraknya permintaan kredit perumahan ini, maka lahirlah opportunis-opportunis baru seperti Quick Loan Funding yang memberikan kredit bahkan ke orang-orang yang tidak layak menerima kredit, atau seperti Ownit yang memberikan kredit perumahan sampai 100% - tanpa pengaman uang muka !.
  • Kredit atau pinjaman ke orang yang tidak seharusnya menerima yang kemudian disebut Sub-prime borrowers, inilah yang kemudian memicu gelombang krisis yang sangat besar dan luas dampaknya.
  • Penyebar luasan kredit buruk ini difasilitasi oleh pasar modal kebanggaan Amerika – Wall Street – yang mem-package investasi-investasi ‘sub-prime’ menjadi seolah investasi yang menjanjikan. Investor diseluruh dunia membeli investasi buruk ini hanya karena melihat ini berasal dari Wall Street di Amerika – yang mereka selalu banyangkan sebagai ‘gurunya’ investasi.
  • Situasi ini diperburuk dengan munculnya product-product dengan nama canggih seperti Collateralized Debt Obligations (CDOs) yang tidak hanya tidak dipahami oleh orang awam, tetapi gurunya bank sentral sekaliber Alan Greenspan – pun mengaku tidak memahami produk ini .
  • Bukan hanya perorangan, atau investor tanggung yang membeli produk-produk investasi buruk tersebut. Bahkan institusi pemerintah-pun ikut-ikutan membeli.
Di Norwegia misalnya ada pemerintah kota Narvik yang kesulitan keuangan gara-gara investasi di Wall Street terutama pada CDOs. Padahal niat investasi mereka tadinya untuk meningkatkan pendapatan pemerintah kota yang pas-pasan. Alih-alih mendapatkan tambahan pendapatan, mereka malah kesulitan keuangan dan harus menutup sekolahan dan layanan untuk panti jompo.

Karena banyaknya kredit yang macet, bank-bank mulai terkena dampaknya . Kepercayaan antar  mereka menurun, pinjaman antar bank berkurang dan akhirnya likuiditas-pun menghilang dari pasar.

Ketika pemerintah-pemerintah dunia menyedari krisis ini telah terjadi dan telah menyeret sendi-sendi ekonomi secara luas, mereka mengambil berbagai langkah darurat. Namun sayangnya langkah-langkah yang mereka tempuh justru banyak yang akan menimbulkan potensi krisis jangka panjang – misalnya melalui penghancuran nilai mata uang melelaui program quantitative easing mereka.

Lantas apa pelajarannya dari krisis tersebut ? banyak, diantaranya :
  • Jangan membangun ekonomi berbasis Riba; karena riba-lah yang mendorong institusi keuangan mencari untung dari bunga yang harus dipikul oleh orang-orang yang sebenarnya tidak mampu sekalipun.
  • Jangan berhutang kecuali untuk hal-hal yang memang sangat dharurat. Berhutang, apalagi yang ribawi untuk keperluan yang tidak terpaksa – akan menjerat pelakukanya dalam lilitan hutang – yang kita diajarkan untuk berlindung darinya pagi dan petang.
  • Bagi otoritas moneter, jangan menggunakan instrumen bunga (riba) untuk men-stimulir pertumbuhan ekonomi – pasti gagalnya (karena dimusuhi Allah dan RasulNya – QS 2 : 275-279)
  • Untuk para investor, jangan investasi pada produk yang sulit dipahami. Investasikanlah pada hal-hal riil yang Anda mudah memahaminya.

Wallahu A’lam.

http://goo.gl/VWPbo
www.rumah-dinar.com
http://goo.gl/Z7cXE
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal

Seribu empat ratus tahun lebih sebelum manusia modern mencemaskan tiga kelangkaan yang disebut FEW (Food, Energy and Water) atau makanan, energi dan air, Uswatun Hasanah kita telah memberikan solusinya untuk umat ini dalam sabda beliau : “Orang-orang muslim itu ber-syirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745).

Hadits di atas menguatkan keyakinan kita akan kebenaran tuntunan agama ini, sebagai agama akhir jaman – dimana kita tidak akan pernah tersesat selamanya selama kita berpegang pada dua pegangannya yaitu Al-Qur’an dan Al Hadits.

Di dunia yang semakin kapitalis, sumber-sumber kehidupan seperti lahan, air dan api (selanjutnya saya sebut energi) diperebutkan oleh kelompok-kelompok manusia dengan serakahnya. Yang kuat tentu menjadi pemenangnya, menyisakan mayoritas manusia dalam kekurangan.

Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal
Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal
Padang rumput yang mewakili lahan produksi, kini tinggal segelintir orang saja yang masih menguasainya – bahkan menguasainya secara berlebihan. Ada keluarga yang menguasai lahan begitu luasnya sehingga mampu membuat tiga kotanya sendiri di seputar Jakarta. Bahkan pernah ada di negeri ini kelompok usaha yang menguasai hak pengelolaan hutan seluas kerajaan Inggris !

Yang lainnya bagaimana ?, mayoritasnya berjuang dengan kerja keras hanya untuk bisa menguasai lahan beberapa puluh atau ratus m2 untuk rumahnya – inipun banyak yang tidak terjangkau. Kepemilikan lahan pertanian yang waktu dahulu masih di kisaran 0.25 ha/keluarga, konon kini tinggal sekitar 0.10 ha/keluarga karena telah dipecah-pecah menjadi bagian anak-anak dari pemilik sebelumnya (waris).

Air bersih yang dahulu mudah kita ambil sendiri dari sumur-sumur kita, kini selain jumlahnya yang menyusut – pencemaran dan intrusi air laut telah membuat air tanah dari sebagian besar kota tidak lagi layak minum. Penduduk yang kaya di perkotaan masih bisa membeli air dengan relatif murah dari PDAM setempat, ironinya justru penduduk miskinnya membayar air dengan harga lebih mahal melalui jerigen-jerigen yang dijajakan dalam kereta dorong tukang air. Bahkan untuk minuman-pun kita semua bersedia membayar dengan harga yang mahal melebihi harga bensin.

Api atau energi yang mestinya tersedia cukup untuk semua orang, kembali hanya yang mampu yang punya pilihan. Ketika pemerintah pusing dengan subsidinya, yang mampu tetap bisa membeli bahan bakar non subsidi atau bahkan bahan bakar yang dijajakan oleh pompa-pompa bensin asing.

Lha yang miskin bagaimana ?, mereka dahulu terbiasa membeli minyak tanah secara eceran satu - dua liter atau bahkan kurang dari satu liter – karena penghasilan mereka hari itu harus dibagi-bagi sebagian untuk beras, sebagian untuk minyak sebagai bahan bakar untuk memasaknya. Kini untuk mampu membeli gas 3 literan-pun mereka harus menabung dahulu dari penghasilannya beberapa hari.

Gejala kelangkaan pangan, energi dan air itu begitu nyata dan akan semakin parah dampaknya pada generasi-generasi yang akan datang kecuali bila kita bisa mulai berbuat membalik arahnya pada generasi ini.

Dengan apa kita bisa berbuat ini ? bukan dengan revolusi, redistribusi aset atau istilah-istilah lain yang  menyeramkan bagi sebagian orang. Kita bermain sesuai dengan jamannya, dengan bahasa kaumnya !, bila lahan-lahan yang luas itu hanya bisa diselamatkan dengan membelinya – maka marilah kita rame-rame yang mampu membelinya.

Setelah lahan-lahan luas tersebut berhasil kita kuasai rame-rame, maka kita akan bisa menerapkan kembali konsep yang diungkapkan dalam hadits tersebut di atas. Kita bisa bersyirkah dalam pengelolaan lahan produksi, energi dan air.

Itulah sejatinya latar belakang pemikiran Pengelolaan Lahan Pertanian dan Peternakan bersama dengan mengkonservasi lahan-lahan tidak produktif (tandus) menjadi lahan produktif (subur) dengan Ilmu dan Amalan, agar rame-rame umat ini dapat kembali mengelola lahan. Setelah disuburkan, dimakmurkan bersama untuk produksi pangan – sehingga tidak melanggengkan ketergantungan pada produksi bahan pangan impor. Untuk produksi energi, sehingga yang miskin-pun bisa punya pilihan energinya – produksi bioethanol misalnya akan memungkinkan untuk tujuan ini. Untuk memperbaiki cadangan air dalam tanah – sehingga mengamankan kebutuhan air untuk anak cucu, tanaman-tanaman jangka panjang akan bisa menjadi sarana untuk ini.

Solusi untuk segala macam persoalan kita itu sudah ada di grand design-Nya yang sempurna, yaitu Al-Qur’an dan sunah RasulNya – kita hanya tinggal terus menggali dari keduanya agar tidak pernah tersesat selamanya – InsyaAllah.

http://goo.gl/ibpkN
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/2bFuE
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Investasi yang Islami, prinsip 1/3 Rule

Di dunia personal finance dikenal apa yang disebut 70/30 rule, yaitu bila Anda mampu mengkonsumsi hanya 70 % dari pendapatan Anda dan sisanya 30 % ditabung – maka Anda akan memiliki hari tua yang baik. Orang-orang di negara maju pada umumnya lebih bisa mengimplementasikan rule ini karena pendapatannya memang cukup, di negara-negara yang sedang berkembang seperti kita – rule ini masih sulit diterapkan oleh setidaknya dua sebab.

Penyebab pertama adalah pseudo-wealth euphoria atau eforia kemakmuran semu, ini terjadi di seluruh tingkatan ekonomi masyarakat. Seorang pekerja rumah tangga yang baru datang dari kampung dan mulai bekerja di Jakarta, begitu merasa mendapatkan penghasilan cukup – yang dibeli pertama adalah handphone. Sepertiga penghasilannya untuk mencicil handphone dan sepertiga lagi dihabiskan untuk membeli pulsanya, maka sulit sekali terangkat kemakmurannya.

Fenomena yang tidak jauh berbeda adalah di kelompok menengahnya. Begitu mereka mendapatkan pekerjaan yang baik dan dengan pendapatan yang baik pula, mereka berlomba membeli mobil dengan nilai maksimal yang mereka bisa beli. Sampai-sampai perbankan dan lembaga pembiayaan-pun membuat aturan dalam kreditnya, yaitu nilai cicilan maksimal 1/3 dari gaji karyawan yang membeli mobil secara cicilan tersebut.

Mobil dan handphone sesungguhnya bukan hanya mengkonsumsi 1/3 pendapatan. Biaya untuk pemeliharaan, bahan bakar, asuransi dan perilaku konsumtif yang terbawa setelah orang membeli mobil untuk kelas menengah  atau handphone untuk kelas bawah – meskipun kelihatannya membuat pemiliknya menjadi makmur, sesungguhnya justru memiskinkan – inilah yang disebut kemakmuran semu itu.

Penyebab kedua adalah inflasi. Kalau toh 70/30 rule tersebut Anda terapkan dan Anda berhasil menyisihkan untuk ditabung 30% dari pendapatan Anda, dalam bentuk tabungan, deposito, asuransi dlsb. Tidak ada jaminan bahwa hari tua Anda akan makmur. Mengapa ?, karena tabungan Anda akan beradu cepat pertumbuhannya dengan angka inflasi.

Penyebab kedua ini berlaku di negara berkembang seperti kita maupun di negara-negara maju sekalipun, walhasil statistik di negara maju tidak jauh berbeda dengan statistik di negara berkembang bahwa kurang lebih 9 dari 10 pegawai tidak siap untuk pensiun pada waktunya.

Lantas apa solusi terbaik bagi kita ?, solusi terbaik itu datang dari contoh terbaik – uswatun hasanah, yang juga pernah saya tulis di situs ini empat tahun lalu. Kali ini saya akan perjelas dengan contoh aplikasinya.

Contoh ini saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin-nya Imam Nawawi, yang mebahas sebuah hadits panjang berikut :

Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- (yaitu nama yang dia dengar di awan tadi)”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”. (HR. Muslim).

Investasi yang Islami
Investasi yang Islami
Maka dengan hadits tersebut di atas ternyata 1/3 rule atau saya sebut prinsip 1/3 -lah yang lebih cocok untuk kita, bukan 70/30 rule. Bila kita mampu menerapkan prinsip 1/3 ini – yaitu 1/3 pendapatan kita konsumsi, 1/3 pendapatan untuk bersedeqah dan 1/3-nya lagi untuk investasi – maka insyaallah akan turun ‘hujan khusus’ untuk kita-kita.

1/3 yang kita investasikan akan memakmurkan kita dan orang lain di dunia ini, dan kombinasi dari 1/3 yang menciptakan lapangan kerja ini dengan 1/3 yang disedeqahkan insyaallah akan membawa keberkahan untuk bekal akhirat kita.

Teorikah ini ?, mungkinkah kita terapkan ?. Setiap kali saya membahas prinsip 1/3 ini, pertanyaan yang selalu muncul adalah – “bagaimana pak kita bisa hidup hanya dengan 1/3 ?, lha wong dengan 100%nya saja tidak cukup ?”.

Inilah yang memang harus dibudayakan, yang mengaku tidak cukup tersebut dia sesungguhnya mampu menggunakan uangnya untuk membeli handphone dan pulsanya. Mampu mengkridit motor dan membiayai operasinya, mampu mengkredit mobil beserta perawatan dan biaya operasinya dst.dst.

Maka bila prioritas itu diubah, pos biaya yang konsumtif yang tidak perlu-perlu benar dipindahkan sebagian untuk sedekah dan sebagian untuk investasi produktif –insyaAllah prinsip 1/3 tersebut bisa dijalankan oleh siapapun yang mampu membeli handphone, mengkredit motor atau mobil.

Hari-hari ini saya sedang berbicara intensif dengan rekan-rekan di perbankan. Bagaimana kalau mereka secara bertahap mengurangi kredit konsumsinya dan menggantinya dengan pembiayaan usaha yang produktif. Program seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang berbiaya rendah dan jaminan juga rendah – bisa diperluas targetnya.

Bila selama ini KUR diarahkan untuk para pemilik usaha yang sudah jalan dengan SIUP, TDP dlsb, bagaimana kalau pembiayaan KUR ini berlaku juga untuk menggiring para pegawai yang ancang-ancang untuk pindah kwadran ?. Mereka belum punya usaha sendiri, jadi jelas belum punya SIUP, TDP dlsb. Tetapi mereka selama ini mampu membayar cicilan mobilnya yang berharga ratusan juta, mengapa tidak dengan cicilan untuk investasi produktif ?.

Pihak bank akan lebih aman karena selama pegawai tersebut masih bekerja – jaminan pembayaran itu datang dari penghasilannya. Begitu usahanya jalan, si pegawai benar-benar melompat ke kwadran entrepreneur – jaminan pengembalian itu datang dari hasil usahanya.

Lha siapa yang menjalankan usaha si pegawai selama mereka belum terjun sendiri ?, pihak bank bisa memilih dan mengawasi pihak-pihak professional sebagai mitranya untuk mengelola usaha si pegawai yang calon pengusaha itu.

Untuk industri pertanian/perkebunan misalnya, program Kepemilikan Kebun Produktif bisa menjadi arena pembelajaran yang menarik untuk semua pihak. Si pegawai calon pengusaha bisa belajar berkebun yang baik – sambil tetap bekerja sampai dia merasa comfortable untuk terjun dan mengelolanya sendiri.  Karena disamping penghasilannya dari bekerja, dia berpotensi mendapatkan penghasilan pula dari usahanya, maka dia insyaallah bisa lebih berkesempatan untuk bersedeqah yang 1/3 tersebut di atas. Untuk sementara waktu (5 tahun pertama) dari usaha berkebunnya dapat diserahkan ke kami untuk kami kelola bersama-sama dengan kebun lainnya.

Pihak bank bisa menyalurkan kredit produktif dengan aman – karena dikelola secara professional sejak kredit produktif tersebut keluar, aman pula pengembaliannya karena dijamin oleh penghasilan si pegawai awalnya dan baru setelah jelas hasilnya – dibayar dari hasil usaha yang di danai investasinya tersebut.

Bila skema ini berjalan secara massal, maka akan ada perubahan paradigma di masyarakat, yaitu yang selama ini rame-rame kredit motor, kredit mobil – akan berubah menjadi investasi produktif yang menciptakan lapangan kerja dan memakmurkan para pelakunya dunia akhirat – karena diterapkannya prinsip 1/3 dari hadits tersebut di atas. InsyaAllah.

http://goo.gl/xdbQW
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/PZOC6
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Musibah oleh Perbuatan Kita Sendiri

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). QS 42:30

Musibah oleh Perbuatan Kita Sendiri
Musibah oleh Perbuatan Kita Sendiri
Di kala dunia lagi sibuk mengatasi krisis ini, kita di Indonesia masih asyik berpesta pora menghabiskan dana yang nggak kehitung jumlahnya. Setelah pesta ‘demokrasi’ yang ini selesai lanjut lagi dengan pesta yang itu...!, jumlah yang kecewa akan berpuluh kali lipat dari yang bergembira.

Mengapa ?, karena setiap kursi yang diperebutkan mereka harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan kandidat lainnya. Padahal masing-masing kandidat telah menguras harta kekayaannya untuk kursi yang mereka perebutkan tersebut. Maka tepatlah langkah antisipatif yang dilakukan oleh rumah sakit- rumah sakit jiwa (RSJ) di berbagai daerah yang berbenah dan bersiap kebanjiran tamu dari para mantan calon anggota legislative ini.

Dua masalah yang berbeda ini saya gabung dalam satu tulisan karena diantara keduanya ada benang merah persamaannya. Yaitu mereka menciptakan musibah bagi diri (atau bangsa) mereka sendiri seperti ayat yang saya kutip di awal tulisan ini.

Para pemimpin dunia berusaha mengatasi problem yang dihadapi oleh ekonomi kapitalisme ribawi – padahal ekonomi yang ribawi ini sudah dijanjikan kehancurannya oleh Allah Ta’ala pencipta kita semua. (QS 2 : 276 & 279)

Para caleg yang sangat ingin (tetap) menjadi Anggota Legislative dengan mengeluarkan seluruh sumber daya yang dimilikinya, mudah-mudahan mereka sadar tentang apa tugas mereka setelah benar-benar terpilih.

Tugas utama anggota legislative adalah membuat undang-undang atau membuat hukum; padahal muslim yang membaca Al-Qur’an dan mengerti maknanya tentu tahu bahwa kalau kita berhukum kepada hukum selain hukum Allah – maka menurut Al-Qur’an kita dihukumi sebagai kafir (QS 5 :44) , dhalim (QS 5:45) dan fasik (QS 5:47). Kalau yang berhukum (yang menggunakan) saja dihukumi seperti ini, lantas apa hukumnya bagi orang yang membuat hukum diluar hukum Allah tersebut ?, lantas apa pula hukumnya bagi orang yang membantu (memilih) mereka untuk menjadi pembuat hukum selain hukum Allah ?. Biarlah pertanyaan ini jadi renungan kita masing-masing menjelang hari pemilihan minggu depan.

Nasihat kecil ini barangkali berguna bagi sebagian besar calon (karena sebagian besarnya tentu tidak akan kepilih); bersyukurlah Anda bila nanti tidak kepilih. Bisa jadi Allah Ta’ala sedang sayang kepada Anda sehingga Anda diselamatkan olehNya, bisa jadi pula kalau Anda kepilih malah membuat musibah untuk diri dan bangsa Anda sendiri. Buatlah kecewa RSJ-RSJ yang telah siap menerima Anda, karena Anda tidak kunjung datang, karena Anda bukannya stress malah bersyukur dan berbahagia dengan tidak menjadi anggota legislative. Berterima kasih pulalah Anda pada saudara-saudara Anda yang tidak memilih Anda, karena dengan demikian mereka telah ikut berpartisipasi menyelamatkan Anda dengan ijin Allah.

Lebih baik mencari rejeki yang banyak melalui "jalur perdagangan", kita investasikan modal kita melalui cara yang benar dan insyaAllah kita akan dapat memberikan upah yang banyak kepada orang-orang yang bekerja untuk kita yang juga akan menjadi amalan sodaqoh kita. Janganlah kita berinvestasi modal besar untuk mendapatkan keuntungan yang besar melalui "jalur pengabdian", dimana kita bekerja untuk menerima upah. Kondisi inilah yang menyebabkan maraknya korupsi dimana-mana.

Hidup ini pilihan, bila Anda memilih sebagai hamba abdi atau penerima upah, Anda adalah follower (pengikut) dari yang memberikan upah untuk Anda, pemberi upah tersebut bisa para pedagang/pengusaha atau rakyat/negara. Sadarlah bahwa Anda harus bekerja dengan ikhlas sesuai dengan komitmen tanggung jawab dan upah yang Anda terima, Janganlah berharap terlalu tinggi yang mengakibatkan musibah untuk diri Anda.

Bila Anda memilih sebagai pedagang/pengusaha, Anda adalah leader (pemimpin) yang insyaAllah akan memakmurkan umat dari jalur produksi dan  perdagangan dari hasil investasi modal dan waktu yang dapat menggerakkan stimulus perekonomian negara dan memberikan upah kepada para pekerja yang mengikuti (follower) Anda. Berharaplah setinggi mungkin kepada Allah SWT, karena Andalah pendekar-pendekar kemakmuran umat yang telah bersedia menjadi penggerak roda perekonomian negara.

Wallahu A’lam.

http://goo.gl/rHXYf
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Tugas kita untuk memakmurkan Bumi dan Umat

“…. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS 11:61) 
Bisa kita amati bumi Jawa Barat (dan Indonesia umumnya) yang sebenarnya subur namun terkesan gersang bila kita lihat melalui perjalanan darat sepanjang jalan Tol Cipularang, ini tidak terlepas dari paradigma menguasai – namun tidak memakmurkan.

Tugas kita untuk memakmurkan Bumi dan Umat
Tugas kita untuk memakmurkan Bumi dan Umat
Pemilik-pemilik tanah di sepanjang Tol tersebut baik itu perorangan, perusahaan swasta maupun BUMN telah menjadi penguasa atau pemilik tanah-tanah tersebut padahal mereka tidak mau atau tidak mampu memakmurkannya. Hasilnya sepanjang jalan yang kita lihat adalah kegersangan.

Memakmurkan tanah yang utama adalah menanaminya, oleh karena itulah ada beberapa hadits yang mendorong kita untuk menanam ini. Diantaranya yang mashur adalah hadits : “Tak ada bagi seorang muslim yang menanam tanaman atau membuka persawahan kemudian ada burung, atau manusia atau hewan ternak memakannya, kecuali baginya itu sedeqah” HR. Bukhari dan Muslim.

Bahkan pemilik tanah yang tidak mampu atau tidak mau memakmurkan tanahnya lebih dari tiga tahun, dalam Islam sebenarnya dia sudah tidak dianggap sebagai pemilik atas tanah tersebut sebagaimana hadits berikut ; “Tanah-tanah lama yang pernah ditinggalkan maka menjadi milik Allah dan RasulNya, kemudian untuk kalian sesudah masa tersebut. Barang siapa yang membuka lahan (tanah) baru, maka tanah itu menjadi miliknya dan tidak memiliki hak lagi apabila selama tiga tahun diabaikannya”.

Jadi tugas kita sebenarnya bukan menjadi penguasa, penguasa tunggal hanyalah Allah semata: “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? …”( QS 2:107). Tugas kita adalah menjadi pemakmur bumi ini !.

Tugas menjadi pemakmur bumi yang diamanatkan ke kita semua seperti ayat tersebut diatas, selama ini memang belum menjadi perhatian serius di negeri ini. Tidak ada lomba besar-besaran dengan dana trilyunan untuk ini, tidak seperti perlombaan untuk menjadi penguasa yang digelar secara besar-besaran setiap lima tahun (PEMILU). Bahkan bagi yang sudah serius pingin memakmurkan bumi dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya-pun sampai sekarang masih harus berjuang keras untuk memperoleh lahan yang siap untuk  di tanami.

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan kekuatan dan kemampuan untuk dapat memakmurkan bumi dan umat, Amin Allahuma Amin.

http://goo.gl/ilGku
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/2OPpF
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Membuat perencanaan Usaha Mandiri

Entrepreneur itu bisa belajar dari siapa saja, bahkan bisa belajar dari seorang petinju seperti Mike Tyson sekalipun. Melalui ucapannya yang terkenal “semua orang bisa ber-strategi, tetapi ketika pukulan lawan mengenai muka Anda – baru Anda tahu apakah strategi Anda bekerja atau tidak” – dia memberi pelajaran bagi para (calon) entrepreneur bahwa strategi saja tidak cukup. Karena realita ini pulalah kini mulai terjadi perubahan pendekatan dalam memulai usaha, dari yang beresiko tinggi ke arah yang beresiko relatif lebih rendah.

Ironinya resiko tinggi itu bisa jadi ketika usaha dimulai dengan menyiapkan business plan yang sangat detil, dikumpulkan modalnya yang besar untuk memulainya - kemudian baru diimplementasikan. Contoh kasus kegagalan fenomenal yang sering dijadikan case study di sekolah-sekolah bisnis adalah kegagalan proyek telephone satelit Iridium – yang sebelum  mengajukan proses kebangkrutannya tahun 1999 – telah menghabiskan dana US$ 5 Milyar.

Lantas bagaimana usaha bisa bermula bila tanpa perencanaan yang detil ? jawabannya adalah memulai dengan ber-hipotesa, kemudian bergerak membuktikan hipotesa tersebut. Secara teknis kurang lebih dapat dilihat pada ilustrasi di bawah :

Source : Harvard Business Review (05/2013)

Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Pendekatan yang kemudian disebut Lean Startup ini menggunakan filosofi yang sama dengan Lean Manufacturing yang mulai berkembang di Jepang tahun 1980-an yang disebut Kanban. Intinya adalah mulai dari yang benar-benar dibutuhkan.

Aplikasinya di industri manufacturing adalah dengan antara lain bahan baku yang pas cukup untuk produksi pada waktunya, mendeteksi kesalahan/cacat produksi sedini mungkin – dan ketika menjadi produk juga langsung didistribusikan ke pasar.

Aplikasinya di usaha baru adalah mulai dengan hipotesa siapa (calon) customer Anda, apa kebutuhannya, berapa banyak dlsb. Kemudian hipotesa ini divalidasi dengan produk yang Anda duga dibutuhkan oleh (calon) customer tersebut. Belum tentu dugaan Anda betul, dan ini hanya akan diketahui setelah produk-produk awal tersebut Anda coba jual ke para (calon) customer tersebut.

Sangat bisa jadi produk-produk tersebut akan mengalami penajaman berulang kali sampai ketemu produk yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh customer Anda.

Hanya setelah produk final ini bisa bener-bener diterima pasar Anda, Anda bisa mulai memproduksinya secara massal, membangun portfolio customer dan membangun usaha Anda dalam skala penuh lengkap dengan berbagai divisi penunjangnya.

Mengapa cara ini beresiko lebih rendah ?, karena kegagalan-kegagalan produk akan terdeteksi di awal sebelum Anda terlanjur keluar banyak dana modal. Ketika Anda putuskan membangun usaha-pun, produk-produk Anda (bisa barang maupun jasa) telah melalui serangkaian penajaman-penajaman.

Bagaimana bila untuk membuat produk awal-pun dibutuhkan modal yang besar seperti pabrik untuk memproduksinya, atau team IT untuk mengembangkan software aplikasi dlsb ?.

Produk-produk awal untuk proses pencarian customer dan penajamannya ini tidak harus produk dalam bentuk full scale-nya. Cukup bagian utama yang mewakili produk itu, yang mencerminkan kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh produk yang bersangkutan. Produk awal ini disebut Minimum Viable Product (MVP) yaitu versi awal dari suatu produk yang cukup untuk memvalidasi hipotesa Anda tentang adanya suatu kebutuhan.

Lantas apakah aman membuat usaha tanpa perencanaan detil ?, tanpa perencanaan detil bukan berarti tanpa perencanaan sama sekali. Ada yang minimum perlu Anda lakukan atau persiapkan sebelum memulai, yaitu membuat apa yang disebut Business Model Canvas – yaitu untuk menjawab 9 pertanyaan dasar ‘Business Model Building Block’.  Bentuknya kurang lebih seperti ilustrasi di bawah.

Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Business Model Building Block
Jadi seperti yang dikatakan Mike Tyson tersebut di atas, intinya jangan terlalu sibuk dengan membuat strategi di atas kertas, tetapi sibuklah dengan melatih ketrampilan di lapangan – merespon dan memenuhi kebutuhan customer Anda !

http://goo.gl/JvNwv
www.kantor-di-rumah.com
http://goo.gl/mpSas
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan