Solusi Pertanian untuk Presiden dan para Menteri-nya

Waktu krisis kedelai melanda negeri ini hampir sepuluh bulan lalu, saya ‘Bermimpi’  Pak Kyai diundang hadir di sidang kabinet untuk ikut mengatasinya. Maka ketika hari ini harian Kompas (21/05/13) mengangkat sebagai berita utamanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang semakin lebar di era reformasi yang sudah berjalan 15 tahun terakhir, saya kembali ‘bermimpi’ Pak Kyai diundang di sidang kabinet untuk membantu menyelesaikan masalah bangsa ini. Mengapa perlu Pak Kyai ?

Solusi Pertanian untuk Presiden dan para Menteri-nya
Solusi Pertanian untuk Presiden dan para Menteri-nya
Sidang kabinet kali ini fokusnya membahas laporan harian Kompas yang mengungkap pembengkakan gap antara si kaya dan si miskin yang diukur dengan index Gini.  Sebelum reformasi, index Gini itu berada pada angka 0.35, dan memasuki tahun ke 15 reformasi index Gini malah menjadi 0.41 (semakin besar – semakin lebar jurang si kaya dan si miskin itu).

Meningkatnya ketimpangan ini juga ditandai dengan meningkatnya jumlah pengangguran, sebelum era reformasi (1997) pengangguran itu 4.18 juta jiwa (4.68%) sedangkan 15 tahun era reformasi pengangguran malah menjadi 7.17 juta jiwa (5.92%).

Peningkatan pengangguran ini juga tidak terlepas dari meningkatnya ketergantungan kita pada produk-produk industri dan pertanian impor. Ini tercermin dari menurunnya kontribusi sektor industri kita yang turun dari 26.79 % (1997) menjadi tinggal 23.94% (2012). Demikian pula kontribusi sektor pertanian yang mengalami penurunan dari 16.09 % (2007) ke angka 14.44% (2012).

Maka dalam ‘mimpi’ saya kali ini setelah Pak Presiden mempersilahkan masing-masing menteri yang terkait menanggapi laporan Kompas tersebut, Pak Presiden berucap begini :

“Terima kasih tanggapan saudara-saudara para menteri yang terkait, saya yakin apa yang saudara telah sampaikan masing-masing didukung dengan data yang valid dan juga dengan argumentasi yang professional”. Kemudian beliau melanjutkan : “Namun realitanya bahwa pengangguran itu meningkat, kontribusi sektor produksi industri dan pertanian pada ekonomi keseluruhan menurun. Lantas bagaimana saudara-saudara bisa men-justify realita ini dengan data dan argumen saudara ?”.

Karena semua menteri pada diam, Pak Presiden kemudian berbicara lagi : “Dalam situasi seperti ini, kita butuh pemikiran yang out of the box. Pemikiran yang segar diluar data dan argumen yang biasa kita diskusikan di sidang seperti ini. Maka sama dengan yang kita tempuh 10 bulan lalu ketika menghadapi krisis kedelai, kali inipun saya mengundang Pak Kyai untuk hadir di sidang ini. Kita dengarkan pendapat beliau untuk masalah yang kita hadapi kali ini”. Kemudian Pak Presiden mempersilahkan Pak Kyai untuk menyampaikan pendapatnya.

Setelah menyampaikan syukur dan salam sebagai muqodimahnya, Pak Kyai-pun berucap : “Mohon maaf Bapak Presiden dan para menteri, setelah mendengarkan segala permasalahan yang didiskusikan tadi yang disertai data dan argumen para menteri – saya melihat secara bodon (cara orang bodoh memahami masalah), ada hal yang terlewat dari potensi besar ekonomi kita - yang terlupakan”. Mendengar perkataan Pak Kyai ini, para menteri mengkerutkan dahi dan Pak Presiden mendekat mejanya untuk meraih microphone kemudian bicara : “ maksud Pak Kyai Apa potensi besar ekonomi yang terlewatkan itu  ?”

Pak Kyai tahu banyak menteri yang kurang berkenan dengan pembukaannya, kemudian menjelaskan : “Sekali lagi mohon maaf sekali Bapak Presiden dan para menteri, saya sekedar urun rembug dari kaca mata orang bodoh seperti saya…”. Dia melanjutkan : “selama ini saya yakin bapak-bapak sudah bekerja jungkir balik siang dan malam untuk bangsa dan negeri ini, tetapi bila realitanya yang terungkap sebaliknya seperti data yang tersaji tadi – berarti ada yang salah dalam pola kerja kita.”

“Kita berusaha bersaing dengan negara-negara lain dalam bidang teknologi, jasa dan perdagangan – kita bersaing dengan kekuatan yang ada di mereka, maka tidak mengherankan kemenangan-pun ada di tangan mereka. Kita menjadi pengimpor produk-produk mereka”.  Pak Presiden kemudian memotong : “ Terus menurut Pak Kyai mestinya bagaimana ?”

Pak Kyai segera menjelaskan : “Tidak ada salahnya mengembangkan kekuatan teknologi, jasa dan perdagangan. Namun yang menjadi ujung tombak persaingan kita haruslah yang kita memang memiliki keunggulan utamanya. Kita harus bersaing dengan kekuatan yang ada di kita…”. 
“Menurut Pak Kyai apa yang kekuatannya ada di kita itu ?” Sela pak Presiden.

Pak Kyai-pun menjawab : “Kita dikarunia lahan-lahan subur yang sangat luas di antara dua lautan. Matahari sepanjang tahun dan air hujan-pun rata-rata turun tidak kurang dari separuh tahun. Gunung berapi dan sungai-sungai sangat banyak, semuanya dapat mendatangkan keberkahan tersendiri bagi ekonomi kita”. Jadi, lanjut Pak Kyai : “Bidang yang kekuatannya ada di kita itu mestinya adalah kehutanan, kelautan dan pertanian pada umumnya !”

Banyak menteri yang tentu saja meragukan pernyataan Pak Kyai ini, bahkan menteri-menteri yang terkait dengan kelautan, kehutanan dan pertanian pada umumnya-pun kurang PD (Percaya Diri) bila dianggap bidangnya yang seharusnya menjadi kekuatan itu.

Pak Kyai-pun sudah menduga dan menangkap keraguan itu. Maka dia melanjutkan penjelasannya : “Sekarang coba bapak-bapak bayangkan. Industri apa yang paling efisien itu semestinya ? dengan input yang sangat kecil tetapi memiliki output yang sangat besar bahkan cenderung tidak terhingga ?” Para menteri semakin tidak nyaman dengan teka-teki Pak Kyai ini, maka tidak ada seorang-pun menjawabnya.

Pak Kyai kemudian menjawabnya sendiri : “Industri yang paling efisien itu adalah kelautan, kehutanan dan pertanian. Kalau di industri software misalnya, programmer harus membuat program dari A sampai Z, harus diselesaikannya sendiri dan tidak boleh ada yang salah sedikit-pun. Di industri otomotif pabrikan harus menyediakan seluruh komponen dan kemudian teknisi harus merakitnya secara sempurna sebelum produk bisa dijual. Di industri kreatif, seorang artis harus menyelesaikan karyanya sendiri dari A sampai Z pula agar karyanya bernilai tinggi”.

Pak Kyai menarik nafas sambil melihat ke menteri-menteri yang terkait “Tetapi tidak dengan industri kelautan, kehutanan dan pertanian pada umumnya !. Di laut Anda tidak perlu tenaga kerja untuk menumbuhkan ikan-ikan yang kecil menjadi besar. Di hutan tidak butuh tenaga kerja untuk menumbuhkan bibit-bibit menjadi pohon-pohon besar. Di Pertanian Anda hanya perlu menaruh bibit, maka Allah-lah yang menumbuhkan dan membesarkannya dengan hasil berlipat-lipat”.

Para menteri-pun berebut meng-interupsi Pak Kyai. Salah satunya kemudian berbicara : “Tidak sepenuhnya benar Pak Kyai, Petani tidak bisa hanya menaruh benih kemudian tumbuh sendiri. Petani harus memupuknya dengan mahal, menyemprotnya dengan penyemprot hama yang mahal dlsb. walhasil pak tani-pun tidak memperoleh nilai tambah yang berlipat-lipat seperti kata Pak Kyai”.

Dengan wawasannya yang luas dan pribadinya yang tenang, Pak Kyai-pun menjawab interupsi Pak Menteri ini : “Disitulah masalahnya Pak Menteri, selama ini kita ini merusak bumi bukan memakmurkannya. Laut dicemari dan diambil ikannya- bahkan oleh orang lain- tanpa aturan sehingga sumber-sumber kekayaan laut itu terkuras sebelum bisa dinikmati. Hutan-hutan ditebang diganti tanaman monoculture hanya untuk kepentingan segelintir orang. Para petani dibiarkan mencari solusinya sendiri-sendiri dalam hal upayanya untuk meningkatkan hasil dan mencegah hama, mereka mengira pupuk-pupuk kimia, insektisida dan sejenisnya sebagi solusi – padahal dengan ini semua mereka merusak alam bukan memperbaikinya. Mereka bertani dengan cara yang mahal dengan hasil yang tidak seberapa”.

Bapak Presiden-pun berusaha menengahi argumen antara salah seorang menteri dengan Pak Kyai ini. Beliau kemudian menyampaikan : “kalau begitu solusi konkritnya bagaimana Pak Kyai”.

Pak Kyai menjelaskan: “Jiwanya harus memakmurkan bumi untuk sekarang dan masa depan yang jauh, bumi tidak boleh dirusak. Maka apa saja yang dimasukkan ke bumi sebagai pupuk atau yang disemprotkan diatasnya untuk mencegah hama harus berasal dari bumi itu sendiri – inilah yang dalam bahasa sekarang disebut organik, bukan bahan-bahan kimia olahan manusia yang memiliki dampak merusak dalam jangka panjang.”

Salah seorang menteri tetap penasaran dan menginterupsi lagi : “Organik itu selain mahal, hasilnya juga tidak seberapa. Kita tidak bisa mengandalkan produksi hasil pertanian kita pada yang organik. Pertanian organik ini – ideal, indah untuk diucapkan, tetapi sulit untk direalisasikan”.

Pak Kyai-pun menjelaskan : “Itulah bedanya Anda dengan saya Pak Menteri, Anda punya team ilmuwan dan birokrat yang yakin dengan ilmu dan pengalamannya. Maka ilmu dan pengalaman Anda atau team Anda yang membatasi keputusan yang Anda ambil. Dan kita tahu sudah hasilnya seperti data-data yang tersaji pada awal sidang ini”.

Lanjutnya : “Sedangkan saya, diundang Pak Presiden untuk hadir untuk memberi wawasan yang lain. Bukan Ilmu saya – karena saya orang bodoh, juga bukan ilmu dan pengalaman para santri saya – karena mereka anak-anak yang belum berpengalaman. Tetapi kami yakin dan terus berusahan meningkatkan keyakinan kami bahwa PetunjukNya itu jelas, komplit dan meliputi segala sesuatu.”

Pak Kyai kemudian membacakan beberapa ayat Al-Qur’an di antaranya Surat Al-Baqarah 185 dan An-Nahl 89, kemudian dia melanjutkan : “Begitu detilnya petunjuk itu, sehingga selalu saja ada ayat yang pas untuk di-taddabur-i bila Anda petani pada setiap tahap penanaman tanaman Anda misalnya.”

“Pada saat Anda menebar benih, baca dan dalami ayat “Innallaha faaliqul habbi wannawaa – sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhanan dan biji buah-buahan” (QS 6:95). Ketika tanaman mulai tumbuh baca dan dalami ayat : “Afaraaitum maa tahrutsuun, aantum tajraauunahuu am nahnuzzaari’un - Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (QS 56 : 63-64).

“Ketika melihat kebun sudah berhasil baik, maka baca dan dalami ayat : “…Masya Allah, La Quwwata Illaa Billah…” (QS 18 : 39). Ketika kebun gagal panen-pun baca dan dalami ayat : “…Subhaana Rabbinaa Innaa Kunnaa dhaalimiin” (QS 68:29)”. “Ketika hujan tidak turun-turun sehingga Anda tidak bisa bercocok tanam, beristigfarlah …(QS 70 :10-11)”

Akhirnya Pak Kyai menutup : “Intinya Bapak Presiden dan bapak-bapak para menteri, solusi itu hanya datang dari Allah, maka marilah kita hadirkan Allah dalam setiap urusan kita. Ketika kita menanam, ketika kita berhasil maupun kita gagal, ketika kita membangun ekonomi, membangun negara – dalam suka dan dukanya – kita tetap harus berusaha menghadirkanNya”.

Pak Presiden dan para menteri mengangguk, sambil tak lupa beliau berterima kasih ke Pak Kyai dan minta kesediaannya untuk bersedia hadir lagi bila negara membutuhkannya. Sampai disini saya terbangun dari ‘mimpi’ ini…

http://goo.gl/Q6Jrg
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/MYv2o
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan