Mereview Pendidikan Indonesia



System pendidikan sekarang di negeri ini sangat nyata memiliki motivasi hanya mengejar gelar semata, sampai-sampai para sarjana-pun banyak yang tidak tahu apa yang mereka bisa buat dengan kesarjanaannya – seharusnya hal ini harus segera di review atau dicarikan pengganti system pendidikan dan pelatihannya.

Bahkan sering saya jumpai di banyak pelamar kerja, mereka menempuh pendidikan S-2 yang tidak relevan dengan S-1-nya. Sebagian ini terjadi karena mereka tidak memperoleh pekerjaan dengan S-1-nya kemudian daripada menganggur mereka menempuh S-2, dengan harapan berbekal S -2 peluang mereka akan lebih baik.

Padahal belum tentu, di dunia kerja lebih diutamakan (calon) pekerja yang trampil dan fit dengan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya – dan bukan semata melihat gelar-gelar yang dibawanya.

Jadi program pendidikan seharusnya bisa melahirkan generasi-generasi yang optimis yang mampu membuka lapangan pekerjaan baru. Bukankah mereka ini (lulusan universitas) telah diberikan kesempatan Allah SWT mendapatkan ilmu yang lebih dibandingkan mayoritas umat ini yang tidak/belum mampu menempuh pendidikan di universitas.

Sesuai janji Allah : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 3 : 139), maka sesungguhnya apa-apa yang dihasilkan oleh ajaran Islam ini pastilah sangat tinggi nilainya.

Sebagai contohnya adalah perekonomian yang berdasarkan prinsip-prinsip nilai Islam misalnya, ia ibarat intan berlian yang selama ini terkubur dalam-dalam oleh system ribawi, kapitalisme, neoliberalisme dlsb. Bagi orang yang tahu bahwa ini sesungguhnya intan berlian, maka dia berusaha menggosoknya tanpa lelah sehingga bebas dari segala macam debu yang menutupinya, menggosoknya terus sampai mengkilap menampakkan keindahan aslinya. Setelah intan berlian tersebut benar-benar bebas dari debu-debu yang menutupinya, maka siapapun yang melihatnya – baik dia muslim maupun non muslim – semua bisa menikmati keindahannya, barangkali inilah salah satu tafsir ...Rahmatan Lil – ‘Alamin itu....!.

Dengan konsep yang terbukti efektif menghasilkan generasi muda gemilang di masa lampu (masa-masa kejayaan Islam), mestinya kita harus bisa mengungguli negara-negara lain dalam optimism para pemuda-nya. Bukan optimism yang hanya pepesan kosong, tetapi optimism yang didasari oleh keimanan yang sangat kuat dan kemandirian yang sangat nyata. Untuk ini diperlukan keputusan yang berani oleh para orang tua.

Para orang tua harus berani mengubah sasaran pendidikan anak-anaknya dari mengejar gelar, menjadi dokter, insinyur, ekonom dlsb. berubah menjadi anak-anak yang beriman kuat dan mandiri di usia belia. Bahwasanya mereka akan menjadi dokter, insinyur, ekonom dlsb. sesudah itu – maka itu akan menjadi sangat baik. Tetapi bukan sebaliknya, yaitu mereka memperoleh gelar yang dikejarnya tetapi imannya kosong dan tidak mandiri pula.

Survey oleh Credit Suisse ternyata di negara-negara yang katanya sangat maju dengan pendidikannya yang bahkan menjadi standar dunia – sekalipun, ternyata hanya melahirkan generasi yang sebagian besarnya galau ! Bukankah ini sinyal agar kita tidak mengikuti mereka ? Agar kita memiliki konsep sendiri yang insyaAllah jauh lebih unggul ? InsyaAllah !.



www.rumah-hikmah.com


Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan