Rumah Hikmah

Rumah Hikmah: membangun kemakmuran umat melalui sharing belajar bersama berbagi Ilmu dan Amal dalam ber-bisnis mandiri melalui kantor di rumah sendiri sampai memiliki bisnis mandiri mancanegara Eksportir Indonesia.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-856-111-1819

Eksportir Indonesia

Membangun bisnis mandiri skala International Eksportir Indonesia bersama pe-bisnis Korea, China dan Malaysia. Seharusnya kita mampu menjadi pemenang dengan memaksimalkan potensi alam yang kita miliki disertai dengan ilmu pengetahuan.

Dinar Islam

Membangun pondasi perekonomian keluarga islami berdasarkan Al Qur'an dan As Sunah. Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Membangun Kemakmuran Umat

Saatnya kita membangun (kembali) kemakmuran umat yang sebenarnya memiliki Sumber Daya Alam yang kaya akan tetapi terjajah oleh kurangnya iman, ilmu pengetahuan dan amalan.

Bersama kita bisa...!!!

Saling berbagi pengalaman, kemampuan yang dimiliki masing-masing individu dan berbagi ilmu pengetahuan, kita bersama-sama membangun (kembali) kemakmuran umat dengan kekayaan potensi alam yang kita miliki..

Budidaya Tanaman Kurma


Suatu saat kami mencoba membagikan bibit kurma – namun karena ternyata banyak sekali peminat bibit kurma, hanya sebagian kecil saja yang bisa kami beri bibit kurma impor yang didatangkan dari pembibitan professional di luar negeri. Bagi peminat yang tidak kebagian – Anda tidak perlu kawatir, karena Anda bisa membibitkan sendiri dengan relatif mudah – bahkan bisa menjadi kegembiraan bagi Anda sekeluarga untuk melatih amal yang dianjurkan sampai menjelang hari kiamat ini, yaitu menanam !

Berikut adalah petunjuk sederhana bagi Anda yang tertarik untuk memulai membibitkan kurma Anda sendiri.
  1. Cari kurma yang enak dan Anda sukai di pasaran, daging buahnya silahkan dimakan dan kumpulkan bijinya.
  2. Kurma yang ada di pasaran ini memang tidak secara khusus diperuntukkan sebagai bibit, tetapi tidak masalah juga karena hasil percobaan kami – kira-kira 1/3 dari biji kurma tersebut insyaAllah bisa tumbuh.
  3. Rendam biji kurma tersebut dalam 24 jam, setelah itu bersihkan sisa-sisa daging buah yang masih ada. Ulangi sekali lagi untuk 24 jam berikutnya. Melalui cara ini kita hendak membersihkan biji kurma sampai benar-benar bersih dari sisa-sisa daging buah yang menempel. Bila masih ada daging buah yang menempel, ini bisa menjadi penyebab jamur – bila ada jamur maka biji tidak akan sempat tumbuh sudah keburu busuk oleh jamur.
  4. Biji yang telah benar-benar bersih, tempatkan pada kotak plastik yang terjaga kelembabannya. Caranya, ambil tempat makan anak-anak yang biasanya terbuat dari plastic (seperti Tupperware, tapi yang murah saja), kemudian didasarnya ditaruh kertas tisu yang dibasahkan. Biji kurma ditaruh di atas tisu basah ini dan kotak ditutup. Dengan demikian di dalam kotak akan tetap lembab untuk waktu yang lama.
  5. Kegembiraan Anda akan muncul setiap pagi ketika Anda membuka kotak menunggu biji kurma mulai tumbuh. Agar ini juga menjadi kebahagiaan di Akhirat nanti, maka niatkan bahwa perbuatan kecil ini adalah langkah awal Anda untuk ikut memberi makan bagi dunia sampai ratusan tahun yang akan datang.
  6. Sekitar hari ke 15, akan mulai ada biji yang mengeluarkan bintik putih. Makin hari makin membesar, itulah bakal akar. Tunggu sampai mencapai panjang satu atau dua sentimeter, kemudian pindahkan ke pot-pot kecil yang diisi media tanam – bisa dibeli di pedagang tanaman hias.
  7. Sekitar satu bulan di media tanam, dari akar putih tadi akan mulai muncul daun. Foto di samping adalah gambaran dari bibitbibit kurma yang sudah menghasilkan akar dan daun – hasil percobaan saya sendiri.
  8. Karena akar kemungkinan akan menembus pot kecil Anda, tempatkan pot-pot Anda pada baki yang berisi air – agar akar tidak kering dan membantu menjaga kelembaban tanah di dalam pot.
  9. Setelah daun mencapai ketinggian 60 cm atau lebih pindahkan ke polybag atau pot yang besar atau tanah yang sesuai. Dengan cara sederhana ini Anda sudah bisa menanam kurma.
Namun para professional perkebunan biasanya kurang suka cara ini karena tidak tahu apakah kurma yang Anda tanam itu nantinya tumbuh sebagia pohon kurma  jantan atau pohon kurma betina. Pekebun kurma pada umumnya suka kurma betina karena dialah yang menghasilkan buah kurma nantinya. Dan setiap satu kurma jantan cukup untuk dipakai benangsarinya untuk membuahi sekitar 20 pohon kurma betina. Oleh karenanya untuk tanaman komersial, biasanya ditumbuhkan bibitnya di laboratorium kultur jaringan yang bisa disetel jumlah jantan dan betinanya – seperti benih-benih yang kami impor dari pusat pembenihan professional di luar negeri tersebut di atas.

Dengan rasio 1:20, maka kebun kurma bisa memiliki hasil panenan yang tinggi karena mayoritasnya adalah kurma betina. Namun kelebihan ini kan matematika manusia seperti kita yang penuh kelemahan dan keterbatasan dalam ilmu. Apakah Allah Yang Maha Tahu tidak tahu rasio tersebut di atas ?, pasti  Dialah yang Maha Tahu itu. Tetapi kok Allah juga menjadikan jumlah kurma jantan dan betina itu relatif berimbang 1:1 di alam ? kalau kita menanam kurma dari biji kira-kira peluang jantan dan betina adalah 50 : 50 ?.

Jawabannya antara lain ada di hadits dari Abdullah bin Umar berikut :

“Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu dihidangkan kurma yang sudah kering, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada satu jenis pohon yang keberkahannya seperti seorang Muslim”. Lalu aku mempunyai perkiraan bahwa pohon itu adalah pohon kurma, aku berkeinginan menjawab : “wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma”, namun aku melihat bahwa di antara sepuluh orang yang ada aku adalah yang paling muda, maka akupun diam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bemudian bersabda : “ Yaitu pohon kurma”” (HR. Muslim).

Karena keberkahan pohon kurma itu seperti keberkahan seorang muslim, maka banyaknya kurma jantan yang melebihi kebutuhan untuk sekedar membuahi kurma-kurma betina – pasti juga penuh keberkahan. Yang sudah ditemukan oleh manusia antara lain adalah benang sari yang tidak digunakan untuk membuahi kurma betina, dapat menjadi obat kesuburan yang luar biasa bagi manusia dan hewan.

Bila dimakan manusia, manusia yang memakannya akan perkasa dan anaknya banyak – ini yang antara lain disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu bila umatnya memiliki anak yang banyak. Bila dimakan ternak menjadi obat kesuburan bagi ternak, ternak-ternak akan memiliki anak yang kuat dan banyak. Bisa mengatasi kebutuhan daging/protein hewani – yang kemudian juga memperbaiki keturunan kita umat manusia.

Walhasil setelah Anda bergembira setiap hari melihat pohon kurma Anda tumbuh, jangan kecewa bila sekian tahun yang akan datang ternyata pohon kurma yang Anda tanam adalah jantan. Jantannya pohon kurma-pun insyaAllah penuh berkah – bagi manusia, bagi ternak dan bagi anak cucu kita karena pohon kurma bisa berumur 100 tahun bahkan lebih. Mudah-mudahan kegembiraan kecil ini juga bisa mengantar kita pada kegembiraan yang sesungguhnya di Akhirat nanti. Amin...

www.agribisnis-indonesia.com
Rumah Hikmah, www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Program Kemakmuran Umat

Alhamdulillah Program Kemakmuran Umat (Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur) telah dimulai. Mungkin agak berbeda dengan majlis-majlis pada umumnya, majlis ini menekankan pada kerja atau amal nyata untuk mengatasi masalah-masalah konkrit yang kini dihadapi oleh masyarakat. Sehingga ilmu yang dikaji di majlis ini difokuskan secara maksimal untuk ilmu-ilmu yang menjadi landasan amal. Seperti apa bentuknya ?

Latar belakangnya adalah perintah kepada orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihad (berjuang secara sungguh-sungguh) di jalanNya.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan ) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS 5 : 35).

Banyak wasilah atau jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya ini yang memiliki rujukan yang kuat, antara lain selalu melaksanakan yang wajib dan kemudian melengkapinya dengan yang sunnah seperti dalam hadits Qudsi berikut :

Dari Abu Hurairah RadhiyAllahu ‘Anhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: "Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan sunnat-sunnat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya untuk mendengar, menjadi penglihatannya untuk melihat, menjadi tangannya untuk memukul dan menjadi kakinya untuk berjalan. Jika ia memohon kepadaKu, pasti Aku benar-benar memberinya. Jika ia memohon perlindungan kepadaKu, pasti Aku benar-benar melindunginya". (HR Bukhari).

Jalan berikutnya antara lain adalah dengan berinfaq. Ketika sebagian orang Arab Badui yang beriman memandang bahwa infaqnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk memperoleh shalawat Rasul, pandangan ini dibenarkan oleh Allah melalui ayat berikut :

“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 9 :99).

Kemudian untuk kata Jaahidu dalam QS 5:35 tersebut di atas, Al Maududi (dalam Tafhim Al-Qur’an) menjelaskan maknanya sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk menyingkirkan atau melawan apapun, baik itu orang, partai, maupun kekuatan apapun –yang menghalangi kita dari jalan Allah. Maka dengan pemahaman QS 5 :35 tersebut, penjabaran visi membangun negeri yang Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur itu dapat diilustrasikan dalam grafik berikut
Majlis ini ingin ikut sekuat tenaga mewujudkan negeri yang Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur, bukan karena kita rakyat Indonesia, bukan karena kita mengejar kemakmuran semata, juga bukan karena kita ingin membangun kekuatan politik ataupun menduduki jabatan tertentu.

Kita ingin mewujudkan Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur karena kita ingin menjadi orang yang beriman, bertakwa dan mencari jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Untuk ini kita perlu ilmu, baik itu ilmu-ilmu yang menunjang dan menjadi landasan amal ibadah khusus – maupun ilmu-ilmu untuk amal ibadah umum seperti bertani, berdagang, menguasai teknologi dlsb.

Kemudian ilmu ini bener-bener kita wujudkan dalam bentuk ibadah khusus seperti yang petunjukNya ada di Hadits Qudsi tersebut di atas, maupun ibadah umum berupa kerja nyata mengatasi problem-problem yang dihadapi di masyarakat. Karena isu utama untuk negeri ini masih di seputar pangan dan pasar, maka dua hal ini secara khusus mendapatkan penekanan di majlis ini.

Untuk urusan pangan kita fokus mengedukasi masyarakt untuk mampu mandiri pangan, atau setidaknya mengambil langkah mempersiapkan pangan bagi setiap jengkal lahan yang kita miliki. Pada kajian perdana kemarin sengaja dihadirkan Dr. Nugroho spesialis tanaman-tanaman organic, untuk mengajarkan masyarakat perkotaan untuk menjadi petani meskipun tidak memiliki lahan sekalipun.

Bertani tanaman pangan, khusunya tanaman-tanaman Al-Qur’an bahkan bisa dilakukan di dalam pot atau yang dikenal dengan tabulampot (tanaman buah dalam pot). Atap-atap rumah kita, bisa menjadi lahan yang sangat efektif untuk memanen matahari untuk tanaman-tanaman kita. Bahkan bila perlu menurut beliau, dak atap rumah kita bisa menjadi sawah organic dengan konsep dan bahanbahan yang kini sudah ada di kita.

Setelah kita tahu siapa-siapa yang bisa mewujudkan Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur, kita juga tahu cara untuk melakukannya dengan kombinasi antara ibadah-ibadah khusus dengan ibadah-ibadah umum, maka selanjutnya kita juga akan tahu seberapa jauh kita mendekati tujuan tersebut dengan indikator-indikator yang juga baku – indikator yang dikabarkan olehNya.

Antara lain adalah negeri ini akan penuh keberkahan – penuh dengan kebaikan yang sangat banyak (QS 7:96), rakyat tercukupi kebutuhan pangannya dari kebun-kebun di seluruh negeri (QS 34:15), karena tanaman apapun yang kita tanaman menghasilkan buah yang banyak dengan rasa yang enak (QS 2 :58). Lantas kapan negeri Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur itu akan terwujud ?

Tentu tergantung kepada kehendakNya, kemudian juga terkait dengan sekuat apa kita – penduduk negeri ini semua - ingin mewujudkannya. Perubahan besar yang terjadi di Madinah pasca Hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kaum Muhajirin, terjadi dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun. Muhammad Al-Fatih beserta pasukannya yang dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai pemimpin pasukan terbaik dan pasukannya juga pasukan terbaik, antara lain karena dia selalu melaksanakan yang wajib dan yang sunnah – sejak balig sampai penaklukan – yang waktunya kurang lebih juga sekitar sepuluh tahun ( balig umumnya sekitar 12-13 tahun dan saat penaklukan usianya 22 tahun).

AlFatih juga orang yang menguasai segala ilmu yang ada pada jamannya dan menguasai tujuh bahasa. Maka dari perbagai rujukan dan contoh-contoh tersebut di atas, secara bersama-sama , umat ini mestinya juga bisa membuat perubahan yang sangat besar, membalik arah dari umat yang termarginalkan dalam segala bidang menjadi umat yang memimpin segala bidang.

Bila tentu saja syaratnya terpenuhi. Dengan disiplin kita mendekatkan diri kepadaNya melalui pelaksanaan perintah-perintahNya yang wajib, kemudian melengkapinya dengan selalu melaksanakan yang sunnah. Kita juga melengkapi segala ilmu yang diperlukan untuk bidang-bidang amal yang akan kita laksanakan, kemudian kita juga bersungguh-sungguh beramal melaksanakan apa yang kita niatkan. Dengan sungguh-sungguh pula kita berjuaang menyingkirkan segala rintangan yang menghalangi kita dari jalanNya.

Yang masih meninggalkan (sebagian) sholat wajib, waktunya untuk berdisipilin melaksanakannya. Yang belum membiasakan diri sholat sunnah rawatib, waktunya untuk memulai melaksanakannya pula. Yang masih berat untuk bangun malam melaksanakan sholat malam, mulai sedikit demi sedikit melanggengkannya. Yang sudah rutin sholat malam, waktunya untuk terus meningkatkannya – dengan tambahan bacaan-bacaan, tambahan do’a-do’a – sampai bisa menikmati sholat malam itu dan sangat menyesal bila karena satu dan lain hal terlewat dari melakukannya.

Sejalan dengan itu semua, di siang hari kita berjuang dengan keras untuk meninggikan Agama ini dalam segala bidang yang kita bisa. InsyaAllah akan ada perubahan besar di negeri ini dalam waktu yang tidak lama, sekitar sepuluh tahun dari sekarang, perubahan besar menuju Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafuur.
Amin YRA.

Rumah Hikmah, www.rumah-hikmah.comAgribisnis Indonesia, www.agribisnis-indonesia.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Pura-Pura Tidak Tahu

Dua berita yang berbeda pernah muncul di dua harian, yaitu yang pertama tentang “Ketahanan Pangan Mengkawatirkan” (Kompas 27/09/13) dan yang kedua adalah “Warna Gelap Pulau Jawa di Peta NASA” (Republika 27/09/13). Bila diurut-urutkan dua masalah besar ini berujung pada satu hal – yaitu kita kurang banyak menanam.

Saya yakin bahwa para pengambil kebijakan di negeri ini tahu masalah tersebut, hanya mungkin "pura-pura tidak tahu saja". Suramnya prospek ketahanan pangan kita tersebut tergambar dalam ucapan Ketua Umum KADIN : “Kita tidak  memiliki konsep kebijakan holistic yang mengandung unsur-unsur sinergis untuk menghadapi ketahanan pangan”. Juga diungkapkan prediksi FAO bahwa dunia akan mengalami krisis pangan tahun 2025 – sekitar 12 tahun dari sekarang.

Mengenai warna gelap pulai Jawa di peta NASA, ini menyangkut tingginya tingkat kematian karena polusi udara yang tergolong terburuk untuk Pulau Jawa. Bandingkan ini dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia seperti Kalimantan dan Irian.

Masalahnya jelas yaitu ancaman kekurangan pangan dan polusi udara berat yang keduanya mengancam jiwa manusia yang tinggal di negeri ini – khususnya juga pulau Jawa yang ekstra padat ini. Penyebabnya-pun jelas yaitu kita kurang banyak menanam tanaman yang bisa dimakan dan tanaman yang menyelamatkan lingkungan, kita memadati pulau Jawa ini dengan pabrik-pabrik, perumahan, industri dan infrastruktur – sehingga tidak lagi tersisa lahan yang cukup untuk ditanami.

Lantas siapa yang bisa mengatasi hal ini ? Selama "pura-pura tidak tahu" sehingga sekaliber Ketua Umum KADIN-pun mengungkapkan ketiadaan kebijakan yang menyeluruh dalam masalah ini – maka kita tidak bisa berharap pada kebijakan publik pemerintah dalam hal ini.

Tetapi kita bisa berbuat apa ? Alhamdulillah urusan keberkahan suatu negeri itu tidak tergantung oleh pemimpinnya, tetapi tergantung pada penduduknya (QS 7 : 96). Artinya kita bisa rame-rame berbuat, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita – untuk bisa menyelamatkan jiwa anak-anak dan keturunan kita dari dua krisis berat dibidang pangan dan pencemaran udara tersebut.

Keimanan dan ketakwaan ini juga harus diwujudkan dengan amal shaleh sedemikian rupa sehingga berlaku janji Allah :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS 24 :55).

Lantas amal shaleh seperti apa yang relevan untuk dua krisis yang sedang kita hadapi ini ?

Antara lain ya menanam untuk kecukupan pangan dan menanam untuk memperbaiki lingkungan yang telah rusak sebagaimana tergambar dalam peta tersebut di atas.

Menanam apa yang sesuai dengan sasaran pangan dan lingkungan tersebut ?,

yang paling memungkinkan adalah menanam tanaman-tanaman hutan pangan atau agroforestry. Namun agar dalam melakukan ini kita tidak melakukannya secara trial & error yang kesalahannya baru diketahui sekian tahun kemudian, maka sedari awal kita harus mengandalkan petunjuk yang dijamin kebenarannya sepanjang masa – maka agroforestry kita bukan sembarang agroforestry – tetapi agroforestry yang mengandalkan petunjukNya atau kita sebut "Qur’anic Desain".

Karena ini pekerjaan besar yang menuntut waktu lama sedangkan usia kita terbatas, maka konsep yang sudah kita rintis ini akan segera kami tularkan ke generasi muda yang memiliki passion di bidang ini. Dengan langkah-langkah kecil tetapi konkrit, kita berharap bisa menjadi penduduk-penduduk negeri yang ikut menghadirkan keberkahan di negeri ini sebagaimana yang dimaksud di QS 7:96. Ketika mereka pura-pura tidak tahu, maka kafilah tetap berlalu. Amin YRA.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Memakmurkan Petani

Di salah satu desa paling subur di Magelang - Jawa Tengah, lurah setempat mengaku tidak bisa membendung aliran penjualan tanah sawah para petani. Para petani lebih tertarik untuk menjual sawah-sawah mereka untuk sekedar membiayai anaknya masuk menjadi pegawai negeri, polisi atau tentara. Mengapa demikian ?

Dengan cara bertani konvensional, pendapatan petani memang tidak menarik. Tetapi petani bukan tanpa harapan, ada peluang besar menanti mereka. Yang saya sebut bertani konvensional adalah bertani seperti yang dilakukan oleh para petani sekarang. Sekali menanam, panen sekali dan untuk ini diperlukan tenaga kerja yang intensif, biaya benih, pupuk dan obat-obatan.

Cara bertani demikian sebenarnya belum terlalu lama, sebelum Perang Dunia II umumnya petani tidak mengenal pupuk apalagi insektisida seperti yang mereka kenal sekarang. Dunia mengenal pupuk kimia setelah produksi bahan-bahan kimia untuk keperluan perang di masa PD II tidak habis terjual, maka bahan-bahan kimia tersebut dijuallah ke para petani dalam bentuk pupuk !

Akibatnya tanah menjadi seperti orang yang kecanduan, bila tidak diberi pupuk produksi langsung turun – tetapi bila terus diberi pupuk – kualitas tanah juga terus menurun secara gradual, dan dalam jangka panjang produktifitas lahan juga pasti turun.

Ketika biaya bertani meningkat pesat karena ongkos pupuk dan obat-obatan kimia, sementara hasil pertaniannya menurun – maka disitulah penghasilan petani menjadi tidak menarik dan mereka rame-rame menjual lahannya ke kelompok masyarakat yang bukan petani dan tidak terlalu eager untuk memakmurkan lahan pertanian.

Dari sinilah muncul masalah besar produksi pangan kita secara nasional. Bila petani Indonesia rata-rata memiliki lahan 0.25 hektar, maka di daerah yang paling subur sekalipun mereka hanya akan panen padi tiga kali. Katakanlah masing-masingnya 6 ton/hektar (rata-rata nasional hanya 5.1 ton/hektar), petani dengan 0.25 ha lahan hanya akan mendapatkan 1.5 ton gabah sekali panen. Dengan harga gabah sekarang dikisaran Rp 5,000/kg; petani hanya memperoleh hasil penjualan gabahnya Rp 7.5 juta per panen. Tiga kali panen berarti mendapatkan Rp 22.5 juta.

Tetapi ingat bahwa Rp 22.5 juta ini adalah penjualan kotor, setelah dipotong biaya tenaga kerja, bibit, pupuk dan obat-obatan katakanlah 50 %-nya, maka petani dengan luas lahan 0.25 hektar yang subur hanya akan mendapatkan pendapatan bersih Rp 11.25 juta setahun (tiga kali panen) atau Rp 937,500,- bila dirata-rata bulanan. Gaji pegawai negeri terendah-pun kini Rp 1,323,000 per bulan (golongan 1 A dengan masa kerja nol tahun), jauh lebih tinggi dari petani rata-rata yang memiliki lahan 0.25 hektar.

Maka tidak mengherankan bila para petani hingga kini terus rajin menjual lahannya untuk membiayai anaknya masuk menjadi pegawai negeri dlsb. Bila arus ini dibiarkan terus, maka akan semakin banyak lahan-lahan petani yang jatuh ke tangan orang kaya hanya untuk sekedar klangenan (hiburan), mereka tidak antusias mengolahnya dan malah lebih sering hanya sebagai investasi belaka. Ketahanan pangan nasional akan terancam bila praktek demikian dibiarkan.

Lantas apa solusinya ? berikut adalah setidaknya  dua solusi yang kami padukan dari multi disiplin dan masing-masing keahlian telah memulai mencobanya di lapangan atau mulai melakukan pembibitannya.

Pertama adalah Go Organic – ini yang sudah dicoba oleh teman-teman kami di JawaTengah dengan hasil yang sangat baik. Bertani organic tidak harus mahal, justru sebaliknya bisa menjadi murah karena tidak ada pupuk dan obatobatan kimia yang perlu dibeli mahal, cukup membuat sendiri dengan komponen microba yang sangat murah. Menurut hitungan team kami bahkan setelah sekitar 15 kali panen (5 tahun), pupuk-pupuk organic-pun tidak diperlukan sama sekali.
Tanah sudah kembali subur alami kembali ke pra PD II sebelum pupuk kimia dikenal !

Kedua menggabungkan pertanian dengan peternakan atau perikanan. Bisa dimulai dengan perikanan yang cepat memberikan hasil panen sebagai started up, ide kami adalah berternak lele sangkuriang organik dengan konsep "padat tebar tinggi" dengan kepadatan lele 1000 ekor siap panen per-1 meter kubik, yang dapat memberikan hasil panen setiap 2 bulan dan bisa didesain agar petani dapat menerima hasil panen setiap bulan dengan rata-rata hasil panenan minimal 2 ton dengan penghasilan per-bulan sebesar Rp.6.000.000,- setiap 2 ton panenan. Adapun pakan lele sudah dapat di produksi sendiri dari hasil fermentasi jerami, dedaunan dll. Sedangkan air buangan lele dapat dijadikan pupuk organik untuk tanaman.

Kolam Lele dengan konsep "Padat Tebar Tinggi"
Ketiga melengkapi pojok-pojok sawah petani dengan tanaman jangka panjang yang diambil buahnya. Ide kami adalah bisa kurma, zaitun, anggur atau kombinasi diantaranya. Petani hanya perlu menanam sekali tetapi akan terus memetik hasilnya sampai anak turunan mereka. Dengan dua langkah ini saja matematika petani sudah akan jauh berubah. Dengan hasil yang dua kali lipat dan biaya yang separuh dari sebelumnya, maka bertani sudah bisa kembali menarik.

Hasil dua kali lipat ini ditunjukkan oleh beberapa kali panen padi organik kami di Boyolali yang berada di sekitar angka 12 ton/hektar atau 3 ton untuk tanah 0.25 hektar. Penjualan kotor padi petani menjadi 3x3,000xRp 5,000 = Rp 45,000,000. Setelah dipotong biaya tenaga kerja dan pupuk organik Rp 11,250,000, petani dengan 0.25 ha lahan akan memiliki penghasilan bersih Rp 33.75 juta setahun atau rata-rata Rp 2,812,500 sebulan. Ditambah lagi dengan hasil panenan lele organik setiap bulannya sebesar Rp.6.000.000,-.

Dengan angka ini saja bertani sudah bisa kembali lebih menarik ketimbang memaksakan diri menjual sawah untuk biaya anak masuk menjadi pegawai. Hasil bertani akan semakin menarik, manakala poohon-pohon jangka panjang yang ditanam tersebut mulai berbuah beberapa tahun kemudian.

Dari sinilah kami melihat masa depan cerah bagi petani bisa kembali kita visikan. Bila masa depan petani cerah, maka ketahanan pangan nasional-pun insyaAllah akan aman. Mudahkah ini ?, tentu tidak ada yang mudah, semuanya membutuhkan kerja keras yang memerlukan kesabaran. Tetapi semua itu mungkin dilakukan karena memang sudah dicoba. Bahkan bagi masyarakat yang membutuhkan pelatihan untuk bertani secara organic ini, unit usaha kami di Boyolali- Jawa Tengah insyaAllah bisa membantu.

Lebih dari ikhtiar yang bersifat fisik, masyarakat juga perlu diajak untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaannya secara terus menerus. Hanya dengan iman dan takwa inilah negeri ini akan memperoleh keberkahanNya, dan di negeri yang diberkahi, hasil panenan itu banyak dan enak (QS 2:58). InsyaAllah.

www.agribisnis-indonesia.com
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


The Road Map

Pertanyaan yang terus datang dan menghantui adalah bagaimana mewujudkan konsep-konsep kemakmuran umat, team kami mengadakan perjalanan Tour de Jawa, untuk memetakan kirakira seberapa jauh kondisi kita kini dengan visi tersebut. Hasilnya mengejutkan, ternyata ada daerah yang sudah sangat dekat berjalan ke arah sana ! Siapa mereka ?


Sebagaimana peta jalan pada umumnya konsep Baldatun Thayyibatun WaRabbun Ghafur atau untuk kepentingan kita singkat BTWG, kita visualisasikan dalam grafik dua dimensi agar mudah diikuti.
Sumbu X-nya adalah keimanan dan ketakwaan, sedang sumbu Y-nya adalah kondisi fisik alam setempat. Untuk melihat kondisi keimanan dan ketakwaan kita hanya bisa melihat kondisi dan aktifitas fisik masyarakat, sedangkan kondisi alam setempat kita melihat dari sisi kesuburan dan kemanfaatannya.

Hasilnya adalah untuk daerah-daerah yang kami kunjungi/survey, kami plot di antara sumbu X dan Y tersebut menjadi seperti pada grafik berikut. Daerah yang berada di posisi A  adalah daerah yang menurut kami berada di garis terdepan dalam ikhtiar menuju BTWG.

Masyarakatnya sudah antusias mengaji, pengajian Ahad subuh di pesantren terdekat selalu dihadiri oleh ribuan orang. Ibu-ibu yang bekerja di sawah-pun sadar untuk memakai jilbab secara benar Tanah mereka subur makmur, dan bahkan eksekutif-eksekutif dari Jakarta yang  menemani kami survey di lokasi tersebut ‘ngiri’ dengan gaya hidup para petani di sini – damai, makmur dan mereka nampak hidup dengan quality time. Mereka bekerja efektif dan banyak pula bisa mengaji.

Daerah yang ada di posisi B adalah daerah dimana sudah mulai ada ustadz ustadz yang membina masyarakat, tetapi belum nampak dampaknya pada kemakmuran masyarakatnya. Masih perlu terus ditingkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat, serta perlu digenjot amal shalehnya untuk memakmurkan bumi sekitarnya.

Daerah di posisi C adalah daerah-daerah yang subur, secara fisik tidak kekurangan apapun – tetapi masyarakatnya nampak masih jauh dari keimanan dan ketakwaan. Aneka sesajen masih ada di sawah-sawah mereka, dan belum ada aktivitas dakwah ke mereka untuk mengajak pada keimanan dan ketakwaan.

Daerah di posisi D adalah kilometer nol dalam perjalanan menuju BTWG, upacara-upacara syirik masih mewarnai kehidupan mereka dalam bertani mupun aktifitas ekonomi lainnya. Dan kondisi alam mereka juga masih merana seolah masyarakatnya pasrah bahwa daerah mereka adalah daerah yang minus dan tandus. Di daerah ini busung lapar dan sejenisnya menjadi peristiwa sehari-hari.

Dari kaca mata dakwah dan ikhtiar menuju BTWG, Baik yang sudah di posisi A, maupun yang masih di posisi B, C dan D menjadi peluang tersendiri bagi Anda-Anda yang mau terlibat di dalam mewujudkan BTWG ini.
Ibarat bermain bola, posisi A adalah para team sudah bermain harmonis (para ustadz dan masyarakat yang dibinanya), bola sudah diantar sampai ke dekat gawang – tinggal satu tendangan untuk sampai goal. Satu tendangan ini adalah exercise untuk mengsinkronkan antara apa yang dilakukan masyarakat di lapangan dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits. Satu langkah lagi mereka akan menggunakan keduanya sebagai huda wa mauidhah dan satu langkah lagi mereka menjadi umat yang tertinggi (QS 3 : 138-139).

Peluang kita dimana untuk masyarakat yang sudah ada di posisi A ini ?, sederhana, bergabung dalam jama’ahnya – bisa tinggal bersama mereka atau secara berkala mengunjungi mereka untuk bisa belajar dan menerapkannya di tempat lain. Sambil bila ada ilmu-ilmu professional kita yang diperlukan mereka, bisa kita sumbangkan ilmu kita untuk penyempurnaan jalan menuju BTWG tersebut.

Daerah yang berada di posisi B, perlu banyak juru dakwah diterjunkan di daerah ini sekaligus juga para professional yang bisa membimbing masyarakat untuk peningkatan kemampuannya dalam memakmurkan buminya. Kedua hal ini saling berkorelasi karena masyarakat akan mudah diajak pada keimanan dan ketakwaan bila mereka bisa merasakan langsung dampak dari perbaikan iman dan takwa ini pada kehidupan mereka.

Daerah yang berada di C , mereka sudah mampu mengolah buminya dengan baik, hanya mereka sangat perlu banyak-banyak diajak untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaannya agar keberkahan hadir di bumi mereka (QS 7:96).
Daerah D ini membutuhkan jenis sukarelawan dakwah yang sangat berbeda. Selain mereka adalah para sukarelawan professional (PROVEES Professional Volunteers) yang siap mengolah bumi yang mati - bukit-bukit cadas yang gersang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat - mereka juga harus siap hidup di daerah yang sangat sulit, sambil mengajak masyarakat setempat untuk bekerja bukan hanya untuk kehidupan saat ini, tetapi juga kehidupan anak cucu dan bahkan kehidupan sesudah mati.

Dari diskusi kami dengan para tokoh masyarakat di daerah D tersebut, mereka sangat merindukan pendamping dalam memikirkan survivalitas masyarakatnya. Di daerah seperti ini para wakil rakyat dan kepala daerah hanya datang setiap lima tahun, menjelang PEMILU atau PEMILUKADA – setelah itu mereka dilupakan. Saat ini mereka membutuhkan bantuan tidak hanya materi tetapi juga pendampingan sehari-hari, kalau tidak bisa setiap hari ya minimal setiap minggu. Kalau tidak bisa setiap minggu ya minimal setiap bulan, kalau tidak bisa setiap bulan minimal sering dikunjungi dari waktu ke waktu tetapi yang jelas tidak boleh hanya dikunjungi lima tahun sekali.

Semua yang saya gambarkan daerah A, B, C, D tersebut ada di Jawa, dan jarak mereka dari kota besar terdekat rata-rata kurang dari 1 jam. Maka dengan pemetaan seperti inilah, insyaAllah jalan menuju BTWG itu mulai nampak jelas di depan mata.

Tetapi tentu saja satu pekan Tour de Jawa tidak cukup untuk mewujudkan BTWG, ini hanya awal dari perjalanan panjang itu. InsyaAllah dalam waktu dekat kami akan merintis majlis pengajian rutin - Majlis BTWG, antara lain untuk mengajak para sukarelawan lintas generasi dan lintas profesi, untuk belajar dari daerah A – kemudian menularkannya ke daerah B, C dan D.

Dan tentu saja tidak hanya di Jawa, team yang lain  insyaAllah bekerja untuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian dlsb. Maka bila Anda masih sering bete wa galau (btwg), tidak tahu harus berbuat apa untuk negeri ini dan untuk diri Anda sendiri, untu bekal hidup Anda nanti, dan bekal untuk hidup sesudah mati – barangkali bergabung dengan Majlis BTWG ini bisa menjadi solusinya. Anda akan surprise bahwa kebahagian dan hidup yang lebih hidup bisa datang sama baiknya baik di daerah A - ketika Anda menimba ilmu dan pengalaman, maupun di daerah D – ketika ilmu dan pengalaman Anda sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang rata-rata dhuafa ini.

www.agribisnis-indonesia.com
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Peluang Kebun Al Quran

Setelah banyak menggali dan menulis tentang pertanian umumnya dan Kebun Al-Qur’an, maka kini giliran peluangnya untuk kita semua. Apa yang bisa kita semua lakukan di bidang ini ?

Berikut adalah ilustrasi ringkas peluang-peluang itu, setiap bulatan adalah peluang bagi kita semua – dan Anda tentu bisa menambah bulatan-bulatan lain yang Anda bisa lihat – yang bisa jadi belum terlihat.

Di awal tanaman Al-Qur’an, yaitu tanaman biji-bijian yang  bisa  dimakan sambil untuk menurunkan suhu permukaan tanah dan menyuburkan lahan dari matinya – tanaman perintis – pun sudah memberikan banyak peluang. Untuk koro pedang misalnya (dan masih ada ribuan tanaman lain yang bisa dieksplorasi) – lingkaran hijau adalah bidang yang sudah digarap, tetapi tidak menutup juga kemungkinan orang lain untuk menggarapnya.

Anda yang mau mengambil peluangnya untuk menanam secara komersial, bisa kami bantu pengadaan benihnya. Demikian pula bagi Anda yang mau mengembangkan produk-produknya mulai dari produk dasar seperti tempe dan tahu, sampai produk-produk turunannya berbasis koro pedang yang terlebih dahulu dijadikan tepung berprotein tinggi (Protein Rich Flour). Untuk tanaman inti kebun-kebun Al-Qur’an yaitu Kurma, Anggur, Zaitun, Delima dan Tin, juga baru beberapa peluangnya saja yang kami garap. Antara lain adalah dibidang pembenihan dengan teknologi kultur jaringan, persiapan penggarapan pasar komersil perkebunan, persiapan penggarapan segment khusus lifestyle tabulampot ( tanaman buah dalam pot) beserta penyediaan sarana-sarananya mulai dari penyiapan media tanam, pupuk dan obat-obatan organik.

Sekali lagi yang kami garap-pun tidak menutup kemungkinan untuk orang lain juga ikut menggarapnya. Lebih dari itu peluang lainnya juga sangat banyak, mulai dari pembibitan konvensional (yang tidak membutuhkan teknik tinggi seperti kultur jaringan), pengembangan pasar lifestyle kebun Al-Qur’an, sampai pengembangan produk-produk turunannya.

Pasar lifestyle misalnya bisa menjadi peluang besar dan solusi bagi rakyat di negeri ini. Bayangkan kalau secara bersama-sama kita bisa membangun kegemaran baru di masyarakat, menggantikan kegemaran menanam bunga atau tanaman tertentu yang kadang bernilai sangat tidak masuk akal tetapi tidak menghasilkan suatu buah yang bisa dimakan – dengan tanaman-tanaman yang diberkahi, yang buahnya bisa dimakan dan bahkan juga bisa menjadi obat – betapa banyak masalah teratasi dengan kegemaran ini.

Kegemaran ini-pun tidak hanya berlaku bagi yang punya pekarangan di rumahnya, yang tidak punya-pun bisa menanam dalam pot-pot besar yang bahkan bisa ditaruh di atap rumahnya.

Kegemaran baru ini insyaAllah akan bisa menyehatkan ekonomi kita sekaligus juga badan kita. Dibidang ekonomi kita mengganti tanamantanaman yang tidak menghasilkan buah yang dimakan, dengan tanaman-tanaman yang menghasilkan buah-buahan unggul yang dimakan untuk memenuhi kebutuhan  energi maupun menjaga kesehatan.

Kelak kita insyaAllah akan menjadi terbiasa memakan kurma misalnya bukan hanya dalam kondisi matang keringnya yang disebut tamar – seperti kurma yang selama ini kita makan, tetapi juga dalam kondisi segarnya dalam bentuk kurma mentah yang disebut balah – yang berwarna kuning dan masih kriuk tetapi sudah manis, maupun kurma matang segar yang disebut rutab. Di pasar-pasar buah insyaAllah kelak ada balah dan rutab berdampingan dengan buah-buahan yang selama ini ada di sekitar kita seperti jeruk, apel dlsb. Balah dan rutab yang biasanya ada di pasar-pasar buah Arab ini, kelak hadir dari tanaman-tanaman kurma di pekarangan kita semua atau bahkan hadir dari tabulampot di atap rumah kita.

InsyaAllah kita dapat mengadakan sendiri sedikit dari kebutuhan pangan kita. Wallahu A'lam.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan