Strategi Facebook dengan Domba...?


Belanja negara kita tahun ini akan berkisar 1,840 trilyun, jumlah uang yang seolah tidak terbayangkan banyaknya ini ( berapa angka nol-nya ?) sudah habis teralokasikan untuk hal-hal yang nyaris rutin. Bahkan untuk membiayai belanja negara  tersebut, kita masih harus hutang sekitar 175 trilyun.

Dengan pendapatan dan belanja negara yang nyaris tanpa terobosan selama beberapa dekade tersebut,  maka yang terjadi adalah juga tidak ada terobosan dalam pengentasan kemiskinan. Data Bank Dunia terakhir masih menunjukkan di negeri ini ada 43.3 juta orang yang daya belinya kurang dari US$ 2/ hari, padahal inipun masih 1/5 dari tingkat kemiskinan standar Islam yang 20 Dinar.

Dengan APBN yang rutin dan cenderung monoton, nyaris tidak terbayangkan misalnya negeri ini akan mampu mengalokasikan 1/3 dari belanja negara untuk mengentaskan kemiskinan misalnya. Padahal kira-kira sejumlah inilah yang kita butuhkan untuk bisa mengentaskan kemiskinan secara drastis.

Jumlah tersebut, yang saya perkirakan nilainya sekitar US$ 61 milyar – tidak mungkin juga kita peroleh dengan berhutang, membabat hutan, menguras tambang dlsb. yang memang sudah selama ini kita eksploitasi habis-habisan. Jadi apa alternatifnya untuk memperoleh modal pengentasan kemiskinan yang significant tersebut ?

Yang paling memungkinkan adalah mengeksplorasi habis-habisan sumber daya paling berharga dari bangsa ini, yaitu sumber daya manusianya. Sangat banyak otak-otak cerdas negeri ini yang bisa dieksplorasi dan diintegrasikan menjadi apa yang disebut industri kreatif yang 'killing' istilah anak mudanya.

Kalau saja kita bisa menghasilkan kreatifitas layaknya kreatifitas empat sekawan pendiri Twitter (Evan Williams, Noah Glass, Jack Dorsey dan Biz Stone), maka mereka bisa mengeruk modal sampai sekitar US$ 27 milyar di pasar global.

Kalau saja dari 250 juta orang di negeri ini kita bisa menemukan satu orang sekelas Mark Zuckerberg – pendiri Facebook, maka dia bisa meraup modal US$ 156 milyar di pasar global.

Jadi kebutuhan modal kita yang sekitar US$ 61 milyar, sebenarnya hanya senilai kapitalisasi pasar antara Twitter dan Facebook. Ini bisa kita lakukan bila kita bukan hanya belajar dari social media dan data yang selama ini sudah kita gunakan, tetapi belajar dari kreatifitasnya dalam menarik modal dari pasar global.

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa sumber daya manusia kita tidak kalah dengan mereka, pasti ada orang-orang Indonesia yang mampu menyaingi kecerdasan dan kreatifitas mereka ini. Yang diperlukan adalah bagaimana pemerintahan yang baru nanti bisa membangun environment yang kondusif, sehingga kreatifitas-kreatifitas anak negeri ini mendapatkan jalannya untuk berkembang secara maksimal. Bila perlu beri insentif perijinan, modal awal, pembinaan dlsb-dlsb agar bener-bener terlahir industri kreatif yang 'killing' dalam skala global.

Lantas untuk apa seandainya dana modal yang US$ 61 milyar atau setara dengan 1/3 APBN kita tahun ini tersebut bener-bener bisa terkumpul ? Saya tertarik untuk membagikannya ke 43.3 juta orang yang tergolong miskin di negeri ini sesuai data Bank Dunia tersebut di atas.

Tetapi tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, diberikan dalam bentuk domba yang kemudian dikelola bersama-sama secara syirkah dengan para professional dibidangnya. Maka masing-masing orang akan mendapatkan 8 ekor domba sebagai modal awal.

Dari 8 ekor domba inilah yang kemudian dalam periode 2-4 tahun - tergantung percepatan efektif yang dihasilkannya – 43.3 juta orang tersebut akan mentas kemiskinannya dengan standar 40 domba ( anggap rata-rata masih ukuran sedang @ ½ Dinar).

Inilah standar kemakmuran minimal umat ini , yaitu 40 ekor domba dimana dia sudah mulai terkena wajib zakat. Standar ini sekitar 5 kali lebih tinggi dibandingkan standar tingginya Bank Dunia yang US$ 2/hari.

Jadi dengan dua langkah kombinasi antara industri kreatif untuk menarik modal global, dan solusi domba – kita akan mampu mengatasi dua masalah sekaligus. Pertama mengentaskan kemiskinan, kedua meningkatkan konsumsi daging nasional kita untuk mencapai rata-rata yang dikonsumsi masyarakat dunia di angka 41 kg/kapita/tahun dari kondisinya sekarang yang hanya 10 kg/kapita/tahun.

Karena tulisan ini juga menyebar melalui Twitter dan Facebook, saya berharap Anda para calon presiden atau team sukses Anda juga membaca tulisan ini. Siapa tahu Anda bener-bener terpilih dan kemudian amanah untuk memakmurkan rakyat ini jatuh ke pundak Anda – Anda sudah punya salah satu solusinya ini. InsyaAllah.


www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan