Rumah Hikmah

Rumah Hikmah: membangun kemakmuran umat melalui sharing belajar bersama berbagi Ilmu dan Amal dalam ber-bisnis mandiri melalui kantor di rumah sendiri sampai memiliki bisnis mandiri mancanegara Eksportir Indonesia.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-856-111-1819

Eksportir Indonesia

Membangun bisnis mandiri skala International Eksportir Indonesia bersama pe-bisnis Korea, China dan Malaysia. Seharusnya kita mampu menjadi pemenang dengan memaksimalkan potensi alam yang kita miliki disertai dengan ilmu pengetahuan.

Dinar Islam

Membangun pondasi perekonomian keluarga islami berdasarkan Al Qur'an dan As Sunah. Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Membangun Kemakmuran Umat

Saatnya kita membangun (kembali) kemakmuran umat yang sebenarnya memiliki Sumber Daya Alam yang kaya akan tetapi terjajah oleh kurangnya iman, ilmu pengetahuan dan amalan.

Bersama kita bisa...!!!

Saling berbagi pengalaman, kemampuan yang dimiliki masing-masing individu dan berbagi ilmu pengetahuan, kita bersama-sama membangun (kembali) kemakmuran umat dengan kekayaan potensi alam yang kita miliki..

Membangun Perencanaan Usaha Mandiri

Entrepreneur itu bisa belajar dari siapa saja, bahkan bisa belajar dari seorang petinju seperti Mike Tyson sekalipun. Melalui ucapannya yang terkenal “semua orang bisa ber-strategi, tetapi ketika pukulan lawan mengenai muka Anda – baru Anda tahu apakah strategi Anda bekerja atau tidak” – dia memberi pelajaran bagi para (calon) entrepreneur bahwa strategi saja tidak cukup. Karena realita ini pulalah kini mulai terjadi perubahan pendekatan dalam memulai usaha, dari yang beresiko tinggi ke arah yang beresiko relatif lebih rendah.

Ironinya resiko tinggi itu bisa jadi ketika usaha dimulai dengan menyiapkan business plan yang sangat detil, dikumpulkan modalnya yang besar untuk memulainya - kemudian baru diimplementasikan. Contoh kasus kegagalan fenomenal yang sering dijadikan case study di sekolah-sekolah bisnis adalah kegagalan proyek telephone satelit Iridium – yang sebelum  mengajukan proses kebangkrutannya tahun 1999 – telah menghabiskan dana US$ 5 Milyar.

Lantas bagaimana usaha bisa bermula bila tanpa perencanaan yang detil ? jawabannya adalah memulai dengan ber-hipotesa, kemudian bergerak membuktikan hipotesa tersebut. Secara teknis kurang lebih dapat dilihat pada ilustrasi di bawah :

Source : Harvard Business Review (05/2013)

Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Pendekatan yang kemudian disebut Lean Startup ini menggunakan filosofi yang sama dengan Lean Manufacturing yang mulai berkembang di Jepang tahun 1980-an yang disebut Kanban. Intinya adalah mulai dari yang benar-benar dibutuhkan.

Aplikasinya di industri manufacturing adalah dengan antara lain bahan baku yang pas cukup untuk produksi pada waktunya, mendeteksi kesalahan/cacat produksi sedini mungkin – dan ketika menjadi produk juga langsung didistribusikan ke pasar.

Aplikasinya di usaha baru adalah mulai dengan hipotesa siapa (calon) customer Anda, apa kebutuhannya, berapa banyak dlsb. Kemudian hipotesa ini divalidasi dengan produk yang Anda duga dibutuhkan oleh (calon) customer tersebut. Belum tentu dugaan Anda betul, dan ini hanya akan diketahui setelah produk-produk awal tersebut Anda coba jual ke para (calon) customer tersebut.

Sangat bisa jadi produk-produk tersebut akan mengalami penajaman berulang kali sampai ketemu produk yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh customer Anda.

Hanya setelah produk final ini bisa bener-bener diterima pasar Anda, Anda bisa mulai memproduksinya secara massal, membangun portfolio customer dan membangun usaha Anda dalam skala penuh lengkap dengan berbagai divisi penunjangnya.

Mengapa cara ini beresiko lebih rendah ?, karena kegagalan-kegagalan produk akan terdeteksi di awal sebelum Anda terlanjur keluar banyak dana modal. Ketika Anda putuskan membangun usaha-pun, produk-produk Anda (bisa barang maupun jasa) telah melalui serangkaian penajaman-penajaman.

Bagaimana bila untuk membuat produk awal-pun dibutuhkan modal yang besar seperti pabrik untuk memproduksinya, atau team IT untuk mengembangkan software aplikasi dlsb ?.

Produk-produk awal untuk proses pencarian customer dan penajamannya ini tidak harus produk dalam bentuk full scale-nya. Cukup bagian utama yang mewakili produk itu, yang mencerminkan kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh produk yang bersangkutan. Produk awal ini disebut Minimum Viable Product (MVP) yaitu versi awal dari suatu produk yang cukup untuk memvalidasi hipotesa Anda tentang adanya suatu kebutuhan.

Lantas apakah aman membuat usaha tanpa perencanaan detil ?, tanpa perencanaan detil bukan berarti tanpa perencanaan sama sekali. Ada yang minimum perlu Anda lakukan atau persiapkan sebelum memulai, yaitu membuat apa yang disebut Business Model Canvas – yaitu untuk menjawab 9 pertanyaan dasar ‘Business Model Building Block’.  Bentuknya kurang lebih seperti ilustrasi di bawah.

Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Business Model Building Block
Jadi seperti yang dikatakan Mike Tyson tersebut di atas, intinya jangan terlalu sibuk dengan membuat strategi di atas kertas, tetapi sibuklah dengan melatih ketrampilan di lapangan – merespon dan memenuhi kebutuhan customer Anda !

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Mencari Alternatif Solusi Meninggalkan Riba


Data dari Bank Indonesia Maret 2012 bisa membuat hati orang-orang muslim miris – bila melihatnya dari kaca mata seorang muslim yang ingin sekali bisa meninggalkan riba. Setelah hampir dua dasawarsa berkembang di negeri mayoritas muslim ini bank-bank syariah baru bisa mengumpulkan dana masyarakat Rp 119.65 trilyun, sedangkan bank konvensional berhasil mengumpulkan dana masyarakat sebesar Rp 2,825.98 trilyun. Atau dengan kata lain bank-bank syariah baru berhasil mengumpulkan sekitar 4.2% dari dana masyarakat yang mayoritasnya muslim ini.

Setelah 1400 tahun lebih  riba dilarang bagi umat Islam dan 10 tahun setelah fatwa MUI tentang haramnya bunga bank, faktanya negeri dengan penduduk mayoritas muslim ini 95 % lebih masih mengelola keuangannya secara ribawi. Pertanyaannya adalah mengapa ini terjadi ?, ketika kita dilarang makan babi serta merta kita mau meninggalkannya. Ketika dilarang makan riba kok kita tidak bisa segera meninggalkannya ?, barangkali pendekatannya selama ini yang kurang pas benar. Maka kita baiknya mencoba memberikan pendekatan alternatifnya.

Karena yang dikumpulkannya sedikit, maka yang bisa disalurkan dalam bentuk pembiayaan juga tidak banyak. Sampai saat data terakhir tersebut, bank-bank syariah baru bisa menyalurkan dana pembiayaan sebesar Rp 109.12 trilyun – sedangkan bank-bank konvensional berhasil menyalurkan dana Rp 2,266.18 trilyun, atau bank-bank syariah baru menyalurkan sekitar 4.8 % dari yang disalurkan oleh bank-bank konvensional.

Apa maknanya angka-angka tersebut ?,  kemungkinan pertama adalah umat mayoritas ini hanya memiliki akses pengumpulan dana dan penyalurannya yang minoritas – bila yang diambil ukurannya adalah dana-dana yang dikelola secara syar’i. Saya tidak yakin dengan kemungkinan pertama ini.

Saya yang lebih yakin adalah kemungkinan kedua, yaitu umat yang mayoritas ini tetap memiliki akses yang mayoritas baik pada pengumpulan dana maupun penyalurannya – tetapi sebagian terbesarnya masih dikelola secara ribawi di bank-bank konvensional.

Lantas bagaimana solusinya ?. Untuk ketemu solusi kita harus tahu penyebabnya dahulu. Mengapa mayoritas muslim ini masih menggunakan pengelolaan tabungan maupun pembiayaan yang ribawi ?, dugaan saya adalah karena dua faktor yaitu convenience dan complacency.

Convenience menyebabkan masyarakat merasa nyaman dengan layanan yang mereka terima dari bank-bank konvensional selama ini, akibatnya terjadi complacency yaitu keengganan untuk berubah. Hal yang sama terjadi di instutusi perbankannya sendiri, yaitu mereka bank-bank konvensional sudah merasa nyaman melayani masyarakat yang mayoritas muslim ini dengan sistem ribawi – ya mengapa harus cape-cape berubah ke yang sifatnya syar’i ?.

Jadi apa yang harus dilakukan ?,  ya  memecahkan dua hal tersebut. Untuk masalah convenience pertama umat harus terus menerus disadarkan dengan status haramnya bunga bank yang sudah difatwakan pula oleh MUI sejak 10 tahun lalu tersebut diatas – sehingga mereka tidak bisa lagi merasa nyaman dengan riba. Yang kedua di sisi bank-bank syariah-nya harus terus memperbaiki diri sehingga mampu memberikan kenyamanan yang sama atau bahkan lebih baik dari bank-bank konvensional dalam segala hal.

Untuk masalah complacency pada hakekatnya memang orang enggan berubah, maka harus dipaksa supaya bisa berubah. Bentuk pemaksaan ini bisa mencontoh di industry makanan misalnya. Tidak dikenal istilah pabrik makanan atau restoran yang syariah atau konvensional, semua restoran dan makanan yang dijual di negeri ini ya harus jelas halal-haramnya. Yang halal disertifikasi halal, yang haram harus diberitahukan ke masyarakat bahwa itu haram.

Maka demikian pula produk perbankan , asuransi dlsb. Seluruh produk yang dijual atau ditawarkan ke masyarakat harus disertifikasi secara jelas – mana yang halal dan mana yang haram. Dengan pendekatan ini insyaAllah bank-bank konvensional-pun akan berlomba dengan mengubah produknya menjadi bebas riba.

Bisakah ini dilakukan ?, InsyaAllah bisa, mengapa tidak ?. Selama ini yang haram kan ketika produk perbankan tersebut mengandung riba yaitu ketika tabungan diberikan bunga dan ketika kita meminjam-pun dikenakan bunga. Maka  bila produk-produk mereka didandani sehingga bebas bunga dari ujung ke ujung, insyaallah bank konvensional-pun bisa menghasilkan produk yang syar’i. Inilah yang saya sebut sebagai pendekatan produk itu.

Pendekatan produk ini lebih mungkin dilakukan ketibang pendekatan institusional, yaitu memaksakan bank-bank konvensional tersebut hijrah menjadi bank syariah. Atau juga lebih memungkinkan daripada mendorong masyarakat yang 95% lebih dananya masih dikelola secara ribawi di bank konvensional untuk memindahkannya ke bank-bank syariah.

Seperti restoran saja, makanan dari berbagai negara yang semula haram – boleh saja buka cabangnya di negeri yang mayoritas penduduknya muslim seperti negeri ini – asal mereka sudah memperbaiki produknya menjadi produk makanan yang halal.

Lantas bagaimana mengawasi produk bank konvensional agar bisa halal seandainya mereka boleh mengeluarkan produk yang syar’i ?. Kembali seperti LPPOM MUI mengawasi makanan halal. Setiap produk ditelusuri dari ujung ke ujung dan secara berkala direview – sehingga terjaga kehalalannya sepanjang waktu.

Produk perbankan tidak lebih njlimet dan tidak lebih banyak dari produk makanan, Insyaallah lembaga semacam LPPOM MUI bisa melakukannya bila mereka diberi kesempatan untuk itu.

Untuk memberi gambaran lebih konkritnya saya beri satu contoh produk perbankan halal yang bisa dikeluarkan oleh bank syariah maupun konvensional.

Produk Mudharabah Muqayyadah yang saat ini sedang kami persiapkan, kami mendudukkan bank sebagi pencatat yang professional. Modal adalah dari komunitas kami dan usaha yang didanai juga dari komunitas kami. Bank kami gunakan sebagai institusi legal formal yang di negeri ini diijinkan untuk mengumpulkan dana masyarakat dan mencatatnya dengan benar.

Maka tugas bank dengan professionalism-nya adalah melakukan assessment suatu usaha yang akan didanai oleh dana Mudharrabah Muqayyadah. Setelah usaha tersebut secara professional dinyatakan layak, maka bank mulai menerima dana masyarakat yang hendak disalurkan ke usaha tersebut. Bank tidak memberikan bunga kepada masyarakat yang menyetor dananya dan tidak mengenakan  bunga pula kepada usaha yang mendapatkan pendanaan.

Usaha yang didanai tersebut-lah yang mengeluarkan bagi hasil sesuai ketentuan mudharrabah kepada para investornya. Bank dibayar terpisah secara transparan – sebagi fee untuk juru tulis professional, sama seperti kita membayar fee untuk notaris, lawyer, accountat dlsb.

Teman-teman di investment banking sebenarnya sudah familiar dengan arrangement semacam ini, yaitu ketika mereka mendapatkan fee atas pekerjaan professional mereka mempertemukan investor dan pemilik usaha.

Insyaallah pendekatan produk ini selain menguntungkan umat karena akan tersedia banyak alternatif produk finansial yang syar’i; juga akan sangat menguntungkan perbankan syariah itu sendiri. Lho kok bisa ?, bukankah mereka akan kebanjiran pesaing dari bank konvensional ?.

Tidak demikian, pertama karena ketika bank-bank konvensional mengurus produknya menjadi produk yang halal – itu lebih kepada upaya untuk bisa melayani klien base-nya yang sekarang memang masih 95% lebih di pasar – mereka tidak perlu mengambil pangsa pasar perbankan syariah yang kurang dari 5 % tersebut diatas.

Kedua karena produk perbankan yang diperuntukkan bagi umat mayoritas ini harus syar’i; maka bank-bank syariah-lah yang sekarang akan leading the game karena know how, skills dlsb. yang sudah lebih dahulu ada di mereka. Mereka akan memimpin pasar, kemudian bank-bank konvensional yang akan mengikutinya; bukan seperti sekarang bank-bank konvensional memimpin pasar kemudian bank-bank syariah mengikutinya dari jauh.

Bagi SDM perbankan syariah apalagi, ini akan meningkatkan permintaan yang luar biasa - karena tiba-tiba seluruh industri perbankan harus ada atau memiliki tenaga yang paham tentang produk syariah.  Ini wajar saja lha wong selama ini mereka melayani pasar yang memang mayoritasnya muslim !.

Bagi SDM muslim yang kini bekerja di bank-bank konvensional, solusi ini bisa menjadi pengobat bagi mereka yang merasa galau karena bekerja di institusi yang menjadi pusaran riba. Setahap demi setahap produk mereka akan disertifikasi halal - karena memang seperti buka restoran di negeri muslim, masak mereka akan terus bertahan dengan produk yang tidak halal ?.

Intinya produk yang syar'i atau halal itu akan membuat everybody win, semua diuntungkan - karena mengikuti aturan dari Sang Maha Pencipta. Meminjam ungkapan dari ustadz temen saya saya "...lebih baik dipaksa masuk surga, daripada secara sukarela masuk neraka...!"

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Mengatasi kebutuhan Energi di Negeri ini.


Didalam pengelolaan kebutuhan bahan bakar yang kita rasakan dalam beberapa dekade belakangan ini, adalah hebohnya kenaikan bahan bakar. Masalahnya bukan berarti selesai sampai disini, penyelesaian yang ada sekarang hanya menunda masalah tersebut bahkan sama sekali belum menyelesaikan akar masalahnya.

Akar masalahnya sebenarnya ada pada availability bahan bakar itu sendiri, sementara yang diulur-ulur pemerintah baru masalah affordability-nya.  Kita baru mengkutak-katik terjangkau tidaknya harga bahan bakar itu saat ini, kita belum meletakkan strategi jangka panjang untuk ketersediaan bahan bakar itu sendiri.

Paling tidak sepengetahuan saya belum ada konsensus nasional, energi apa yang akan kita pakai untuk menggerakkan seluruh aspek kehidupan kita 10, 20, 30 tahun kedepan ketika anak-anak kita dewasa seusia kita sekarang. Bagaimana pula dengan 40, 50, 60 tahun dari sekarang ketika cucu-cucu kita dewasa juga seusia kita sekarang ?.

Memang sampai saat ini sumber bahan bakar yang paling murah pengadaannya – diukur dari EROI-nya (Energy Return on Investment), yaitu perbandingan antara energi yang dihasilkan dengan energi yang diperlukan untuk menghasilkannya, diduduki oleh Energi Hydro dengan EROI mendekati 100, disusul batu bara di kisaran 80, dan minyak bumi di kisaran 35. Sementara energi terbarukan seperti solar cell baru memiliki EROI sekitar 6.8, dan lebih rendah lagi biodiesel dan bioethanol yang EROI keduanya baru dikisaran 1.3.

Dari angka-angka tersebut diatas, pastilah pemerintah di negeri manapun saat ini – yang concern dengan pencitraan sesaat jaman ini ketika mereka berkuasa – dan tidak peduli citranya puluhan tahun yang akan datang – akan memilih energi air, batubara dan minyak bumi sebagai sumber energi utamanya.

Masalahnya adalah energi air belum tentu ada di seluruh daerah  dan yang adapun belum tentu langgeng keberadaannya karena kelestarian bumi yang terus dirusak. Energi batubara memiliki efek pencemaran yang luar biasa. Setiap 1 megawatt penggunaan batu bara, mengeluarkan CO2 sebanyak 1,600 pounds setiap jam-nya.  Negeri industri seperti China saat ini melepaskan sekitar 6 milyar ton CO2 setiap tahunnya.

Dan energi minyak, sekarang-pun sudah menjadi simalakama seperti tersebut di atas. Masih available saja sudah mulai tidak affordable bagi sebagian orang, apalagi bila availability-nya terus mengalami penurunan. Kalau Anda hari-hari ini menjadi pegawai negeri yang beruntung diberi mobil Dinas, Anda pasti pusing dengan urusan bahan bakar minyak ini. Anda tidak boleh lagi membeli bahan bakar bersubsidi, tetapi jatah uang bahan bakar Anda sebenarnya hanya cukup untuk bahan bakar bersubsidi. Pemerintah belum bisa menaikkan anggaran bahan bakar Anda untuk membeli bahan bakar pertamax yang harganya lebih dari dua kali lipat harga bensin premium.

Lantas bila era sumber energi murah seperti air, batu bara dan minyak bumi akan berakhir karena satu dan lain hal, apakah kita tidak mulai secara serius memikirkan penggantinya ?. Memang ini mestinya tugas pemerintah, pendidikan tinggi, lembaga-lembaga penelitian yang terkait dlsb. tetapi bagaimana bila mereka juga berfikir bahwa ini mestinya tugas lembaga lain ?, walhasil akhirnya tidak atau belum ada yang memikirkannya secara serius.

Maka orang kecil dari lembaga kecil yang tidak ada hubungannya dengan riset-riset energi sekalipun seperti kita-kita, tidak ada salahnya untuk ikut mulai memikirkan masalah energi ini secara serius. Seperti contohnya energi bioethanol, di negara maju bioethanol yang dibuat dari jagung hanya memberikan EROI 1.3 artinya nyaris impas saja antara energi yang dihasilkan dengan energi yang diperlukan untuk menghasilkannya. Tetapi kita bisa melihat ada peluang lain di negeri ini khusus untuk bioethanol tersebut di atas.

Dari hasil riset-riset perguruan tinggi yang saya baca,  dengan bahan baku singkong dapat dihasilkan ethanol di kisaran 15 %-30% berat, bahkan konon ada yang sudah bisa sampai 1/3 berat. Kemudian pengembangan singkong-singkong varietas unggul sudah mulai bisa dihasilkan tanaman singkong dengan hasil di atas 60 ton/ha panen. Bila hasil-hasil riset ini bisa konsisten dalam aplikasi lapangan dengan skala komersial, maka disitulah peluang besarnya.

Ada dua produk utama dari singkong ini, yaitu singkongnya sendiri (untuk pakan ternak dlsb) dan bioethanol. Untuk menjadi pakan ternak yang bergizi tinggi dan tahan lama (untuk disimpan), singkong memang perlu difermentasi. Ketika singkong difermentasi, hasil sampingnya ya antara lain bioethanol tersebut. Jadi bahan bakar bioethanol dari singkong bisa dianggap sebagai produk samping dari produksi pakan ternak.

Karena cost untuk memproduksinya di share dengan cost untuk memproduksi pakan ternak, maka EROI untuk biethanol berbahan singkong bisa melonjak. Yang tadinya tidak ekonomis, bisa jadi dalam waktu dekat menjadi sangat ekonomis.

Bayangkan bila per hektar tanaman singkong menghasilkan 60 ton singkong. Dari 60 ton singkong bisa dihasilkan 20 ton bahan bakar (sekitar 25,000 liter karena massa jenis ethanol 0.79). Dari proses ini juga dihasilkan pakan ternak terfermentasi 20 ton juga, maka wow ! secara teoritis produksi ethanol bersama pakan ternak ini bisa menjadi sangat menjanjikan.

Mungkinkah angka-angka teoritis ini diimplementasikan di lapangan ?. Itulah yang harus kita jawab dengan mencoba lakukannya di lapangan. Kalau kita mulai lakukannya sekarang dan mengatasi masalah-masalah yang mungkin timbul, insyallah saat anak-anak kita dewasa, saat cucu-cucu kita seusia kita – masak masalah ini tidak terselesaikan ?.

Memang masih ada yang keberatan dengan budidaya singkong ini secara besar-besaran karena konon merusak hara tanah, ini semua perlu difikirkan. Dugaan saya sementara ini rusaknya tanah bukan karena singkongnya, tetapi karena pupuk kimia yang dihamburkannya. Maka dengan pupuk organic yang kami kembangkan menggunakan Microbachteria Alfaafa – yang sudah bisa diperoleh oleh masyarakat yang ingin mencobanya, insyaallah kerusakan lahan tersebut dapat dihindari – sebaliknya lahan bisa terus bertambah subur secara alami.

Microbachteria Alfaafa yang sama, juga akan mempercepat dan meningkatkan hasil fermentasi sehinggga rasio rendemen 1/3 berat tersebut diatas insyaAllah bisa dicapai. Kami mengundang instansi atau perusahaan-perusahaan yang ingin kerjasama dengan kami untuk aplikasi Microbachteria Alfaafa ini.

Ketika ditemukan alfaafa sebagai salah satu berita besar dari surat An-Naba’ (QS 78 :16), maka - berita besar - berikutnya insyaAllah akan terus menyusul – termasuk rentetan turunannya Microbachteria Alfaafa yang antara lain akan kami gunakan untuk menyuburkan tanaman singkong dan mengolah hasilnya untuk energi dan pakan ternak tersebut di atas.

Kita perlu mulai lakukan sekarang, agar anak cucu kita tidak menjadi sandra bom waktu masalah bahan bakar warisan dari generasi ini – yang telah menyandera kita selama beberapa decade belakangan. Tugas kita memulai dan membuka jalan, biarlah Allah menuntunnya sampai mana upaya ini nanti hasilnya. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Tiga Konsep mengatasi Problem


Bila kita coba memikirkan untuk saudara-saudara kita yang sekarang hidup di Papua dan pulau-pulau yang jauh lainnya, mereka sering tidak punya pilihan dan terpaksa membayar untuk bahan bakar premium dengan harga yang bisa mencapai Rp 15,000/liter atau bahkan lebih. Mengapa begitu mahal di tempat mereka ?. Bahan bakar memang tersedia (available) di kilang-kilang atau depo-depo di pulau jawa, tetapi nyaris tidak accessible (tidak bisa diperoleh) di tempat mereka.

Kita-pun yang di Jawa bisa menemui situasi semacam ini, bila karena satu dan lain hal Pertamina tidak bisa memproduksi bahan bakar yang cukup, yang membuat bahan bakar tidak available maka tentu bahan bakar ini pasti juga tidak accessible bagi kita. Yang kita demo sekarang sebenarnya baru buntut dari tiga serangkai Available – Accessible dan Affordable.

Kita mempermasalahkan buntut-nya karena itu yang kita rasakan sekarang, kalau kita berfikir jangka panjang sampai ke anak cucu kita – maka urutannya akan berbeda. Pemerintah atau siapapun yang berwenang dalam bidang energy ini harus bisa ‘menenangkan’ masyarakat dengan program-programnya yang menjamin energy available, accessible dan tentu juga harus affordable.

Kalau energy tidak available, pasti juga tidak accessible dan juga tidak affordable. Kalau dia available, kemungkinannya bisa accessible bisa juga tidak. Kalau dia available dan accessible, maka dia bisa affordable dan bisa juga tidak. Jadi yang kita demo sekarang baru 1/3 dari masalah besar yang ada seperti dalam diagram pohon dibawah.

Karena masalah energy ini merupakan masalah kebutuhan pokok seluruh masyarakat, maka sudah sewajarnya kalau pemikiran terhadap energy ini menjadi perhatian utama manakala kita memilih wakil-wakil kita, pemimpin kita dlsb.

Pada pemilu ini misalnya, seharusnya kita bisa menuntut pada seluruh wakil-wakil dan calon pemimpin kita, konsep apa yang mereka pikirkan tentang availability, accessibility dan affordability untuk kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat baik itu energy, bahan pangan, perumahan, kesehatan dan berbagai masalah pokok lainnya.

Tiga hal tersebut di atas selain menjadi urusan pemerintah, sebagian  juga bisa digarap oleh swasta dan inilah peluang besarnya. Di setiap kotak merah dalam diagram diatas adalah peluang bagi yang bisa membuatnya hijau.

Ketika bahan bakar untuk mobil tidak lagi tersedia misalnya, maka mobil-mobil ringan yang bisa digerakkan dengan tenaga surya bisa menjadi peluang. Ketika bahan bakar tidak accessible di suatu daerah, pihak-pihak yang bisa mengirimkannya dengan efisien dan affordable akan memiliki peluangnya.

Tiga konsep ini juga berlaku untuk segala kebutuhan kita, jadi dengan memahami konsepnya akan menjadi peluang tersendiri bagi yang mau menggarapnya.

Kotak-kotak merah yang masih bisa dihijaukan, dan itulah peluang kita. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Mencari Berkah menghindari Riba


Ternyata masih ada juga orang yang sama sekali tidak mau menggunakan uang bank atau uang orang lain untuk mengembangkan usahanya, adapun yang dilakukannya adalah dia bangun usahanya dengan kekuatan sendiri. Prinsipnya ini sejalan dengan do’a yang dia lafadzkan setiap pagi dan petang
“…wa a’dzubika min ghalabatiddaini…,…dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang…”.
Apa yang dia lakukan ini insyaAllah merupakan kebaikan tersendiri, tetapi sesungguhnya dia bisa berpeluang untuk mendatangkan lebih banyak keberkahan apabila dia mau bersyirkah.

Hutang memang seharusnya dijauhi, oleh sebab itulah kita dicontohkan untuk berdo’a setiap pagi dan petang untuk berlindung dari lilitan hutang ini. Tetapi syirkah mendatangkan berkah, sesuatu yang mendatangkan berkah tentu perlu dikejar bukan dijauhi.

Keberkahan syirkah ini seperti yang terungkap dalam hadits :
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyirkah, selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati yang lain. Jika salah seorang di antara keduanya mengkhianati yang lain, maka aku keluar dari persyirkahan tersebut’”
(HR. Abu Dawud dan Hakim).

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuaili menjelaskan makna bahwa Allah adalah pihak ketiga yang terlibat dalam persyirkahan :
“Aku (Allah) akan menjaga dan melindungi keduanya. Aku akan menjaga harta keduanya dan memberkahi perdagangan keduanya. Jika salah satu di antara keduanya berkhianat, maka Aku akan menghilangkan berkah dan tidak memberikan pertolongan kepada keduanya.”

Bayangkan sekarang dengan teman saya yang sudah sukses membangun usahanya, dan bayangkan pula seandainya dia mau berbagi kesuksesannya dengan bersyirkah bersama saudara-saudaranya muslim yang lain – yang saat ini ‘terpaksa’ menaruh uangnya di bank-bank  yang tidak diketahui siapa akhirnya yang menggunakan uang-uang mereka tersebut.

Dengan bersyirkah sesama muslim yang amanah, maka keduanya insyaAllah mendapatkan keberkahannya. Si pengusaha dapat terus mengembangkan usahanya, dan si empunya modal dapat lebih terlibat dalam penggunaan uangnya dan sekaligus terlibat dalam penciptaan kemakmuran-kemakmuran baru berupa lapangan kerja secara langsung.

Syrikah bukan hutang dan kedua orang yang bersyirkah berdiri sejajar satu sama lain, sangat berbeda dengan hutang karena si penghutang bisa berada dibawah tekanan si pemberi hutang – seperti lanjutan dari do’a tersebut diatas:
 “…dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain”.

Ketika seorang muslim bekerja keras mencari nafkah dan sebagian uangnya dia simpan untuk kebutuhan dan tanggung jawabnya di kemudain hari, sampai di sini insyaAllah uang tersebut halal dan berkah. Tetapi ketika uang tersebut disimpan di bank-bank (konvensional) maka uang tersebut melahirkan dua kali riba.

Riba pertama adalah ketika dia menabung dan oleh bank (konvensional) si penabung diberi imbalan bunga. Riba kedua adalah ketika uang tersebut oleh bank disalurkan ke pihak lain dalam bentuk kredit yang dari debiturnya bank mengambil bunga yang lebih besar lagi, yaitu sebagian untuk membayar ke penabung dan sebagian lainnya untuk penghasilan bank itu sendiri.

Selain menimbulkan dua kali riba tersebut, uang kita yang kita peroleh dengan susah payah juga bisa menjadi musuh bagi kita sendiri dan juga masyarakat. Yaitu ketika yang memiliki akses terhadap penggunaan uang kita tersebut adalah para pengusaha hitam yang dengan usahanya mematikan pasar rakyat, menggusur tanah rakyat, mengeruk kekayaan alam tanpa berusaha memulihkannya dlsb.dlsb.

Maka agar uang kita tidak menimbulkan dua kali riba, tidak pula menjadi musuh bagi kita dan juga rakyat, semaksimal mungkin uang kita harus dalam kendali kita sendiri. Dengan bersyirkah-lah hal itu bisa dimungkinkan. Saudara-saudara muslim kita yang pandai berusaha, hendaknya mau berbagi keahliannya dengan mengajak bersyirkah saudara-saudara muslim lainnya yang memiliki modal.

Sebaliknya saudara-saudara muslim kita yang memiliki modal, hendaknya mau bersyirkah dengan saudara-saudara kita yang memiliki usaha. Lha wong ‘bersyirkah’ dengan bank yang menghasilkan dua riba dan siapa pengguna akhir uangnya tidak kita ketahui saja pada mau kok, masak yang bebas riba dan diketahui pengguna akhir dari uangnya – kita tidak mau ?.

Mungkin ada yang punya argumen untuk ini, misalnya ‘bank-bank kan professional, uang kita aman di mereka…dst.’, juga ‘kalau kita bersyirkah dengan orang yang tidak kita kenal apa jaminannya ?, siapa yang mengawasinya ?, siapa yang memverifikasi kelayakan usahanya ?…dst’.

Untuk argument pertama, jawabannya adalah memang harus ada kriteria – pengusaha seperti apa yang layak mendapatkan dana syirkah dari umat ini. Untuk ini kami sendiri menggunakan empat kriteria yang kami sebut QAHA (Qowiyyun - Amin, Hafidzun – Alim). Hanya pengusaha yang kuat/professional lagi amanah, pandai mengelola (bagus management-nya) dan mereka tahu betul apa yang mereka lakukan – bukan usaha yang anut grubyuk – merekalah yang kami ajak bersyirkah.

Tetapi siapa yang memverifikasi bahwa pengusaha tersebut memenuhi kriteria QAHA ini ?. Itulah Al-Qur’an memberi solusi, yaitu diharuskannya ada:
“…seorang penulis…, yang menuliskannya dengan benar….adanya dua orang saksi….penulis tidak bosan menulis yang kecil maupun yang besar…dst.”
(QS 2 :282).
Satu ayat terpanjang di surat terpanjang, lebih dari cukup untuk memberikan solusi bagi berbagai keraguan kita untuk bermuamalah dengan saudara kita – seperti dalam ber-syirkah ini.

Tetapi siapa penulis dan para saksi tersebut di jaman ini ?, Untuk penulisnya bisa saja kita gunakan koperasi/BMT, dan bank-bank syariah yang tentu punya kompetensi dibidang ini.  Tetapi fungsi mereka hanya menuliskan/meng-administrasikannya – bukan yang memiliki modal dan bukan pula yang memiliki hak prerogative dalam penggunaan dana umat. Untuk saksi-saksinya bisa saja kita gunakan para notaris yang memang profesinya itu di jaman ini.

Walhasil dengan bersyirkah melibatkan BMT/bank syariah sebagai juru tulis/administrator dan para notaris sebagai saksi, insyaAllah kita bisa memasyarakatkan syirkah-syirkah ini dengan menggunakan lembaga-lembaga yang memang secara legal formal diakui oleh negara dan digunakan di masyarakat.

Masih satu lagi pertanyaan atau tantangannya yaitu bagaimana memasyarakatkan secara luas konsep syirkah yang bisa mendatangkan berkah ini, agar mampu bersaing dengan konsep tabungan yang mendatangkan riba ?. Kita ketahui bahwa saat ini lebih dari 95% DPK (Dana Pihak Ketiga) dari masyarakat beradanya masih di bank-bank konvensional – artinya mayoritas yang sangat besar (saat ini sekitar Rp 2,800 trilyun) dana masyarakat masih menghasilkan dua riba tersebut di atas !.

Penyebar luasannya yang efektif menurut saya dapat mengikuti pola syariat peribadatan khusus seperti jihad dan sholat. Bila saudara muslim kita terdzalimi di suatu wilayah, maka muslim di wilayah tersebut yang wajib berjihad membelanya, kalau tidak mampu maka muslim yang dekat dengan wilayah tersebut yang ikut mendapatkan kewajibannya , terus meluas sampai muslim di seluruh dunia ikut mendapatkan kewajiban ini bila masalah tetap tidak teratasi.

Dalam sholat juga demikian, lima kali sehari kita (laki-laki) diwajibkan shalat berjamaah dengan lingkungannya. Kemudian sepekan sekali, wajib shalat di lingkungan yang lebih besar – dengan jamaah yang lebih banyak, yaitu sholat Jum’at. Dua kali dalam setahun shalat di lapangan untuk berjamaah dengan jamaah yang lebih besar lagi – yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha. Dan seumur hidup sekali, wajib bagi yang mampu berjamaah menunaikan ibadah haji – berkumpul bersama umat di seluruh dunia.

Maka perjuangan membebaskan umat dari riba juga bisa mengikuti pola-pola tersebut di atas. Koperasi, BMT, Baitul Qiradh dan sejenisnya bisa menjadi institusi lokal yang mendorong umat untuk bersyirkah dan menjauhi riba di lingkungan masing-masing.

Kemudian bank-bank syariah dapat memposisikan dirinya untuk menjadi juru tulis/administrator yang mendorong terjadinya syirkah-syirkah yang lebih besar dari potensi yang ada di umat ini secara nasional.

Lebih lanjut lagi untuk project-project umat yang berskala lebih besar lagi yang berada diluar kemampuan bank-bank syariah untuk mengelolanya, kita dapat melibatkan sukuk yang berskala global – agar umat Islam di negeri lain yang berkelebihan dapat ikut terlibat di dalam project-project umat di negeri ini. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi, yaitu umat Islam di negeri ini bisa terlibat dalam pendanaan project-project keumatan di negeri lain yang membutuhkan dana kita – melalui sukuk yang di arrange secara global.

Jalan membebaskan umat dari riba itu jelas nampak ada di depan mata, hanya masalahnya adalah seberapa kuat keinginan kita untuk melakukannya. Insyaallah kita akan melakukannya!.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Memiliki Kantor di Rumah sendiri...


Kota-kota besar yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan dunia itu terus bergeser. Dari Roma, pindah ke Damaskus, pindah ke Konstantinopel yang kemudian berganti nama menjadi Istambul, kemudian pindah lagi ke  Venezia, pindah ke Antwerp, Pindah ke London dan kemudian New York. Awalnya perpindahan itu mengikuti pusat pergerakan barang, belakangan mengikuti pusat pergerakan uang. Kemana pusat bisnis dan perdagangan kemudian akan bergeser ?

Saat ini-pun sudah sulit untuk mengambil satu kota dunia yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan itu. Apakah masih di New York ?, atau sudah bergeser ke Singapore , Hongkong, Beijing dlsb ?. Kini tidak ada lagi satu kota di dunia yang begitu dominan-nya menjadi pusat bisnis dan perdagangan.

Orang tidak lagi harus mengikuti pusat pergerakan barang ataupun pusat pergerakan uang. Teknologi informasi telah memungkinkan orang bisa tinggal dan hidup di mana dia mau, tanpa harus kehilangan jejak terhadap pergerakan barang dan pergerakan uang yaitu usaha dan perdagangan yang dia kendalikan.

Di luar dugaan kita semua, ternyata banyak eksekutif dunia yang justru berkeinginan dan mulai tinggal dan mengendalikan usahanya dari negara-negara yang selama ini tidak terbayangkan oleh kita seperti Vietnam, Czech Republic, Bulgaria, Slovenia, Costa Rica, Tunisia dan Uruguay.

Ibukota Uruguay yaitu Montevideo misalnya, kini meiliki daya tarik tersendiri bagi eksekutif dunia untuk berkantor karena perbedaan waktu dengan New York yang hanya 1 atau 2 jam (tergantung daylight saving), dan perbedaan waktu dengan London hanya 3 atau 4 jam.

Orang yang berkantor di Montevideo bisa  dengan mudah menyesuaikan irama kerjanya dengan pusat – pusat bisnis di Amerika atau Eropa. Selain faktor perbedaan waktu, daya tarik kota atau negara yang menjadi tujuan tempat tinggal dan bekerja baru adalah karena faktor Human Development Index (HDI), infrastruktur, perpajakan, perijinan dan berbagai peraturan yang memudahkan.

Berpindah dari pusat-pusat bisnis dunia menuju tempat-tempat tinggal dan bekerja yang lebih disukai ini kini menjadi lifestyle baru yang eksotis yang sering menjadi impian banyak pekerja. Dalam tataran lokal, sebenarnya kita juga bisa membangun lifestyle seperti ini sambil mengatasi berbagi persoalan kota besar yang tidak kunjung bisa diselesaikan.

Apa enaknya sih misalnya bekerja di Jakarta dengan membuang 3 sampai 4 jam setiap hari di jalan, dengan biaya hidup yang mahal, banjir dan kemacetan belum nampak bisa diatasi, keamanan yang tidak terjamin, pencemaran udara dan airnya konon membuat begitu banyak anak terlahir autis ?

Tetapi Jakarta tetap menjadi tujuan utama anak-anak muda dari seluruh negeri yang telah menyelesaikan pendidikannya, Jakarta menjadi tumpuan harapan ketika di kampung tidak ada tempat kerja yang bergengsi. Disinilah masalahnya, orang mementingkan gengsi, citra atau gaya hidup metropolitan – meskipun hidup di metropolitannya sengsara.

Karena salah satu faktor pendorong urbanisasi itu adalah lifestyle metropolitan yang dipamerkan melalui acara-acara televisi, dan juga para pekerja ibukota yang tampil parlente ketika pulang kampung di musim lebaran – maka lifestyle ini mestinya bisa dilawan pula dengan lifestyle.

Kaum pekerja kelas menengah sampai atas misalnya bisa menjadi pelopor gerakan yang saya sebut Deurbanization Lifestyle ini. Anda yang sudah mapan di Jakarta misalnya, kemungkinan Anda punya imaginasi untuk kerja dari kampung halaman Anda masing-masing, atau kerja dari kota yang memiliki kenangan tersendiri bagi Anda – kota tempat Anda bertemu pertama kali dengan calon ibunya anak-anak misalnya.

Di posisi Anda saat ini, semua itu mestinya kini menjadi mungkin. Dengan bantuan teknologi, Anda tidak harus bertemu dengan mitra bisnis atau mitra kerja Anda setiap saat. Bila toh dibutuhkan sekali waktu Anda dengan mudah bisa terbang satu dua jam ke Jakarta.

Bila orang-orang makmur seperti Anda pulang kampung, multiplier effect-nya insyaAllah akan sangat berarti. Pertama dengan income Jakarta yang Anda belanjakan di kota atau kampung halaman akan berdampak besar pada ekonomi masyarakat setempat.

Kedua, dengan pengetahuan dan pengalaman Anda – Anda bisa menjadi katalisator  pembangunan ekonomi di daerah-daerah. Dan ketiga, bila hal ini dilakukan rame-rame menjadi lifestyle baru yang diidamkan oleh para pekerja – maka perkembangan ekonomi Indonesia akan terdorong untuk menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Lantas bagaimana memulainya ? beberapa jenis pekerjaan lebih memungkinkan dari yang lain. Tingkat manager ke atas yang umumnya bekerja berdasarkan target KPI (Key Performace Indicators) tertentu  akan lebih mudah untuk mulainya, karena kinerja mereka bukan berdasarkan kehadiran fisik tetapi berdasarkan hasil.

Pekerjaan-pekerjaan seperti programmer, penulis (seperti yang saya lakukan !), accountant, data processing, back office administration dlsb. yang tidak secara langsung berhubungan dengan customer-nya day to day, juga lebih memungkinkan untuk membangun Deurbanization Lifestyle ini.

Selain faktor pekerjaan individu, pemerintah-pemerintah daerah di era otonomi daerah ini juga bisa menarik para putra daerah sukses untuk balik ke daerah dan ikut berperan memajukan daerahnya. Pemerintah setempat bisa memberi insentif daya tarik tertentu seperti mempermudah urusan perpajakan dan perijinan, perbaikan infrastruktur dlsb.

Inilah visi kami Komunitas Kantor di Rumah dalam membangun usaha mandiri dari rumah kita sendiri. Sementara di ibukota kini sudah tidak lagi nyaman untuk tempat bekerja apalagi untuk tempat tinggal - lantas mengapa tidak sebagian kita mengejar mimpi kita untuk hidup, bekerja dan tinggal di kota-kota yang eksotis dengan kantor di rumah bagi diri kita masing-masing ?

Wa Allahu A'lam.

Note:
Bagi yang berminat untuk sharing bagaimana memulai ber -kantor di rumah - sendiri bersama kami, silahkan email ke nrachmanbiz@gmail.com

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan