Kapitalisme di Era Rasulullah


Bila dalam system ekonomi, yang bisa memproduksi barang atau jasa hanyalah yang bermodal besar maka itulah kapitalisme. Bila yang bisa berjualan di pasar hanya orang-orang yang memiliki uang untuk membeli atau menyewa tempatnya – maka itulah kapitalisme. Bila yang memiliki akses modal adalah segelintir orang – sehingga modal terakumulasi pada yang sedikit ini -  sedangkan yang lain tidak memiliki kesempatan yang sama, maka itulah kapitalisme.
 
Lantas bagaimana kita bisa mendeteksi bahwa suatu ekonomi itu kapitalisme atau bukan ?
 
Kapitalisme sebenarnya bukan barang baru, ekonomi kota Yathrib - Madinah sebelum Hijrahnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ke kota itu – adalah sudah berupa ekonomi kapitalisme. Yaitu ketika segelintir orang Yahudi mendominasi ekonomi kota dalam tiga areanya yaitu produksi, pasar dan modal.
 
Jadi keberadaan kapitalisme dalam suatu system ekonomi itu mudah dideteksi dengan tiga indikatornya yaitu akses terhadap produksi, akses terhadap pasar dan akses terhadap modal.
 
Lantas apa bedanya kapitalisme itu dengan system Islam yang juga memungkinkan orang menjadi sangat kaya sehingga otomatis memiliki akses modal yang kuat, akses produksi dan pasar yang tentu juga sangat luas ?
 
Bedanya sekali lagi dapat merujuk pada sejarah kota Madinah, bagaimana sebelum Hijrahnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ekonominya dicengkeram oleh segelintir Yahudi, dalam sekitar tiga dasawarsa kemudian ada sahabat yang menjadi sangat kaya sehingga seluruh penduduk kota Madinah bersyirkah dengannya – yaitu Abdurrahman bin 'Auf.
 
Disitulah perbedaan utamanya. Ketika kapitalisme itu menguasai modal, produksi dan pasar – maka dia kuasai untuk dirinya sendiri atau paling banter kelompoknya. Orang-orang diluar dirinya atau kelompoknya menjadi target eksploitasi semata, dijerat dengan rentenya, dibuat tergantung pada produknya dan dijadikan target pasar semata untuk produk-produk yang dihasilkannya.
 
Dalam Islam, ketika orang bisa sekaya Abdurrahman Bin 'Auf sekalipun, hartanya untuk memberdayakan orang lain – bersyirkah itu kuncinya. Membuat orang lain setara – dalam syirkah - dengan dirinya, bukan orang yang ditekan dalam cengkeraman rente.
 
Akses pasarnya yang luas digunakan untuk memenuhi kebutuhan umat secara luas, bukan untuk meng-eksplotasinya. Pernah diceritakan kota Madinah tiba-tiba hiruk pikuk oleh kafilah perdagangan yang sangat banyak – yang didatangkan oleh Abdurrahman bin 'Auf – untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota itu yang lagi paceklik.
 
Lantas bagaimana kita mengembangkan ekonomi kita di jaman yang sudah begitu kuatnya kapitalisme mencengkeram ekonomi kita ? Jawabannya sederhana, yaitu kembali mencontoh bagaimana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengubah kota Yathrib atau Madinah pra Hijrah – dari cengkeraman kapitalisme Yahudi, menjadi ekonomi yang penuh keberkahan yang mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dan RasulNya.‎ 

Wallahu A'lam.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan