Rumah Hikmah

Rumah Hikmah: membangun kemakmuran umat melalui sharing belajar bersama berbagi Ilmu dan Amal dalam ber-bisnis mandiri melalui kantor di rumah sendiri sampai memiliki bisnis mandiri mancanegara Eksportir Indonesia.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-856-111-1819

Eksportir Indonesia

Membangun bisnis mandiri skala International Eksportir Indonesia bersama pe-bisnis Korea, China dan Malaysia. Seharusnya kita mampu menjadi pemenang dengan memaksimalkan potensi alam yang kita miliki disertai dengan ilmu pengetahuan.

Dinar Islam

Membangun pondasi perekonomian keluarga islami berdasarkan Al Qur'an dan As Sunah. Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Membangun Kemakmuran Umat

Saatnya kita membangun (kembali) kemakmuran umat yang sebenarnya memiliki Sumber Daya Alam yang kaya akan tetapi terjajah oleh kurangnya iman, ilmu pengetahuan dan amalan.

Bersama kita bisa...!!!

Saling berbagi pengalaman, kemampuan yang dimiliki masing-masing individu dan berbagi ilmu pengetahuan, kita bersama-sama membangun (kembali) kemakmuran umat dengan kekayaan potensi alam yang kita miliki..

Startup Membangun Desa Mandiri.


Sejak sekolah dahulu kita sering diajari hal yang seolah mudah padahal  kenyataannya tidak demikian, hal ini adalah tentang lahirnya sebuah ide. Newton tidak kejatuhan apel terus ujug-ujug punya ide tentang teori grafitasi, Archimedes tidak sedang mandi di bak mandi ketika menggagas hukum Archimedes, dan Thomas Edison-pun tidak menemukan bolam lampu. Semuanya hasil kerja keras berpuluh tahun, sebelum kita akhirnya mengenal karya-karya mereka.

Isaac Newton perlu mempelajari dan bereskperimen selama 20 tahun sebelum lahirnya teori grafitasi. Ungkapan ‘Eurieka !’-nya Archimedes di bak mandi adalah cerita khayal belaka, dia juga bekerja bertahun-tahun untuk merumuskan apa yang kemudian kita kenal dengan hukum Archimedes.

Adapun Thomas Edison, dia akhirnya hanya menghasilkan filament lampu yang bekerja setelah 10,000-percobaan sebelumnya gagal. Sehingga muncullah pernyataannya yang terkenal: “Saya tidak gagal, saya hanya menemukan 10,000 cara yang tidak bekerja…”.

Lantas darimana sesungguhnya datangnya sebuah ide besar? Ada setidaknya tiga pendekatan yang bisa kita tempuh, yaitu dengan pendekatan sains, pendekatan kearifan lokal dan pendekatan petunjuk (Al Quran).

Secara sains, ide-ide besar lahirnya berasal dari ilmu. Ide adalah rangkaian dari titik-titik ilmu yang ada di otak kita. Ide seperti sebutir benih, dia perlu ditanam dan terus disirami agar dia bisa bener-bener tumbuh dan berkembang. Benih dari ide tersebut adalah ilmu, semakin banyak seseorang menguasai ilmu , semakin banyak ide yang bisa terlahir darinya.

Secara ke-arifan lokal (Jawa), ide-ide besar bisa terlahir dari proses 3 N yaitu Namatke (memperhatikan), Nirokke (Menirukan) dan Nambahi (Menambahkan atau Melengkapi). Meskipun kelihatannya tidak bermutu, tetapi sesungguhnya mayoritas ide besar yang ada di sekitar kita juga hasil proses 3 N ini.

Google bukanlah search engine yang pertama, lebih dahulu telah lahir Yahoo, Altavista, Excite dlsb.  Ide dasar Google juga meniru proses bibliometrics and citation analysis yang dipakai di dunia pustaka.

Linkedin bukan social network pertama, lebih dahulu ada SixDegrees, Friendster  dlsb. Dia juga bukan professional network yang pertama, lebih dahulu telah ada Ryze dan Xing.

Intinya tidak perlu malu bila kita baru bisa Namatke dan Nirokke, tetapi jangan berhenti disini  - kita harus bisa Nambahi. Dalam hal ide-ide besar, kita juga tidak harus yang pertama – tetapi kita harus menjadi yang terbaik.

Pendekatan yang spektakuler yang jarang dibahas dalam konteks usaha adalah pendekatan berbasis petunjuk. Para Nabi mendapatkan ide-ide untuk pekerjaan besarnya tidak harus belajar lebih dahulu, tidak perlu juga menirukan siapapun – para Nabi mendapatkan wahyu untuk ide dan pekerjaan besarnya langsung dari Allah Sang Maha Pencipta.

Nabi Ibrahim tidak harus belajar menjadi tukang bangunan untuk membuat bangunan Ka’bah - Rumah Allah yang abadi sepanjang jaman. Nabi Nuh tidak harus belajar atau menirukan cara orang lain membuat perahu – untuk bisa membuat perahu yang sangat tangguh yang menyelamatkan kehidupan di bumi dari banjir terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak perlu belajar strategi perang untuk menjadi panglima perang terbesar, tidak perlu belajar ekonomi untuk bisa membuat pasar dan menaklukkan kekuatan ekonomi Yahudi di Madinah. Tidak perlu belajar hukum tata-negara untuk membangun negeri yang sangat besar dan berkarakter berbeda dengan negeri-negeri yang pernah ada sebelumnya. Semuanya datang dari Wahyu.

Pada tingkatan di bawah Nabi adalah orang-orang shaleh yang mendapatkan ilham atau petunjuk dariNya, untuk bisa menghasilkan karya yang belum pernah ada sebelumnya.

Thoriq Bin Ziyad punya ide membakar seluruh kapal untuk memotivasi pasukannya dalam penaklukkan Spanyol, point of no return bagi pasukannya dicapai karena memang tidak ada opsi untuk lari balik ke negerinya.

Demikian pula dengan Muhammad Al-Fatih, dari mana dia bisa punya ide bahwa kapal tidak harus berlayar di air ? Kapal harus bisa mendaki bukit tanpa harus ada percobaan lebih dahulu, langsung dilakukan dengan massif dan dengan waktu yang harus terjadi hanya dalam satu malam. Bila harus dilakukan dengan gladi resik dan melewati satu malam, musuh akan mengetahuinya !

Lantas dengan adanya tiga pendekatan tersebut, yang mana yang kita pilih ? Kita tidak harus memilih yang ini atau yang itu. Kita bisa gunakan ketiganya sekaligus, yaitu pendekatan sains, kearifan dan petunjukNya.

Kita bukan Nabi dan keshalehan kita juga mungkin sangat tidak memadai, maka sebelum melahirkan gagasan besar – kita harus banyak-banyak belajar ilmu yang terkait dengan gagasan kita itu. Kita juga tidak perlu malu-malu untuk mengamati apa saja yang sudah dilahirkan orang yang ada di sekitar kita, kalau kita bisa Nirokke dan Nambahi – itupun sudah bisa melahirkan ide-ide sekelas Google dan LinkedIn !

Meskipun kita tahu diri keshalehan kita juga terbatas, kita juga tidak boleh mengabaikan petunjukNya. Banyak-banyak memohon pertolongan kepadaNya, Maka Dia insyaAllah akan menolong kita. Dan kalau Dia sudah menolong kita, maka tidak akan ada yang bisa mengalahkan kita.

Pertolongan Dia juga datang dengan bonus, kalau kita dalam kesulitan – kita berdo’a kepadanya – maka Dia akan mengangkat kesulitan itu dengan bonus berupa dihapuskannya keburukan kita dan dijadikannya kita Kalifah – orang yang memimpin – di bidang kita (QS 27 : 62).

Bila kita datang kepada petunjukNya – yaitu Al-Qur’an untuk mencari jawaban atas segala persoalan kita, maka Dia datang dengan jawabannya dan diberi bonus berupa petunjukNya, rahmatNya dan kabar baik dariNya (QS 16:89). Jadi jangan pernah tinggalkan pendekatan yang ketiga ini dalam setiap ide besar yang ingin kita lahirkan.

Pertanyaannya adalah how big is big? seberapa besar sih sebuah ide itu sesungguhnya? Ada dua pendekatan untuk mengukurnya yaitu peluang yang ingin digarapnya atau masalah yang ingin diatasinya.

Jualan kacang goreng-pun bisa berarti ide besar bila Anda ingin bisa menjualnya ke ratusan juta penggemar sepakbola di seluruh dunia. Sebaliknya, ide untuk membuat mesin yang sangat canggih sekalipun – tidak akan pernah menjadi ide besar bila Anda tidak tahu siapa yang akan membutuhkan mesin canggih tersebut – dan bener-bener bersedia membeli/menggunakannya.

Seperti juga benih yang harus ditanam di tanah yang baik, kemudian terus menerus disirami dan dirawat sampai bener-bener tumbuh dan berkembang semaksimal mungkin – maka demikianlah ide. Dimana menanamnya dan siapa yang akan menyiraminya ?

Itulah di dunia startup dikenal perlunya incubator, agar dia tumbuh di lingkungan yang memang kondusif untuk pertumbuhan sesuai usia/perkembangannya – dan terus ada yang menyirami-nya berupa ide, ikhtiar/ujicoba dan mengaplikasikan dalam implementasi yang sesungguhnya dalam mewujudkan visi sebuah Desa Mandiri.

Bahkan proses ujicoba agar bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sebuah desa saat ini sedang kami titipkan di lingkungan sebuah desa terpencil di Cibeber, Jawa Barat – yang kami sebut sebagai program akselerasi.

Kami ingin startup ini bisa merespon permintaan petani di desa kecil tersebut. untuk mengitegrasikan tiga resources yang mereka butuhkan – yaitu pasar, industri kecil dan modal – maka kami harus belajar bagaimana mengelola operasi global dari sebuah startup dari sebuah desa tertinggal.

Dengan team yang memiliki kompetensi, yang didukung dengan tiga pendekatan sains, kearifan dan petunjuk tersebut-lah insyaAllah kita bisa membuat contoh sebuah desa mandiri yang dapat di-copypaste-kan kepada desa-desa terpencil/tertinggal lainnya.
InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
by Noer Rachman Hamidi

My Link List

SAATNYA MENUNTUN "MBAH" GOOGLE DENGAN YUFID 


Yufid.Com: Memudahkan Anda Mencari Ilmu Seputar Islam.

Apa sih yufid.com itu?
Www.yufid.com adalah salah satu situs pencari ilmu-ilmu Islam. Misalnya kita pengen tahu, "Bagaimana cara shalat yang benar?", maka carilah di yufid.com.
Atau, "Apa arti Islam?" maka bisa juga search pakai yufid.com.
Tagline-nya: Mesin Pencari Ilmu-Ilmu Pengetahuan Bermanfaat dari Sumber Terpercaya.

Sistem kerja yufid.com ini sebenarnya berbasis data Google. Bedanya, daftar di Google masih campur-campur. Buaanyaak bener. Kalau di yufid.com, daftar situs itu sudah tersaring. Mirip kayak saringan teh kali ya, supaya ampas enggak ikut masuk ke gelas. Tujuannya, mempermudah pengguna mencari ilmu yang terpercaya. Sesuai tagline-nya.

Apa manfaat menggunakan yufid.com?
Yang jelas, hemat waktu. Mungkin Anda pernah merasakan kena "jebakan betmen" oleh situs yang cuma cari hits. Kadang, info yang kita cari justru tidak ada di situs tersebut. Tapi, kok bisa-bisanya dia muncul di halaman pertama Google? Bolak-balik jadinya, cari situs lain yang lebih valid. Nah, dengan yufid.com, insyaallah kejadian itu tidak akan Anda alami.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, yufid.com memang khusus mendata situs-situs Islam yang pas jadi rujukan. Jadi, Anda tak perlu buang-buang waktu mondar-mandir mencari situs yang menyajikan informasi Islam yang Anda perlukan.

Manfaat lainnya, hemat duit. Kok bisa? Ya iyalah, pakai internet itu 'kan perlu duit. Semakin banyak situs yang harus kita pilah-pilih, otomatis kuota internet semakin berkurang dong. Beli kuota internet 'kan pakai duit. Iya, enggak?

Siapa pengelola yufid.com?
Kalau pengelola dan perintis Google, jelas kita sudah tahu (kalau belum tahu, bisa googling). Nah, kalau pengelola yufid.com, siapa?
Pertanyaan Anda insyaallah bisa terjawab di situs resmi mereka, www.yufid.org Di situs tersebut, mereka membuka jati dirinya. Jadi, bagi Anda yang penasaran dengan yufid.com, langsung aja meluncur ke: www.yufid.org.

Oh ya, satu hal lagi, selain yufid.com, ada juga beberapa situs Islam yang dikelola oleh Yufid, Inc. Boleh juga nih dikunjungi:

Aqidatuna.com
CaraSholat.com
KonsultasiSyariah.com
Kajian.net
KhotbahJumat.com
KisahMuslim.com
Nasehat.net
PengusahaMuslim.com
SahabatNabi.com
Yufid.tv
Yufidia.com
YufidEdu.com
Syaria.com
WhatIsQuran.com

Alhamdulillah, lumayan komplit. Kebutuhan sekeluarga bisa terpenuhi, insyaallah.

Bapak dapat tugas khutbah jumat di Masjid, bisa buka KhotbahJumat.com; insyaallah dapat materi khutbah yang bagus dan terpercaya.

Ibu pengen variasi cerita untuk dibacakan ke si kecil, buka aja KisahMuslim.com.

Orang tua mau tambah ilmu untuk aktivitas belajar anak di rumah, silakan kunjungi YufidEdu.com.

Mau unduh (download) rekaman pengajian Islam, ada di Kajian.net.

Seisi rumah bisa semakin cinta dengan para shahabat Nabi radhiyallahu 'anhum. Kunjungi SahabatNabi.com.

Kakek dan nenek ingin nonton di rumah, buka aja Yufid.tv

Mau belajar Islam sekaligus mengasah kemampuan bahasa Inggris? Ada Syaria.com dan WhatIsQuran.com

Semoga informasi diatas bermanfaat..
Wallohu 'alam bishshowab..


www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
by Noer Rachman Hamidi

My Link List

JANGAN SIBUK MENILAI ORANG LAIN


"Wahai Syaikh..!" ujar seorang pemuda,

"Manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak b eribadah tapi amat baik perangainya pada sesama."

"Subhaanallah, keduanya baik", ujar sang Syaikh sambil tersenyum.
"Mengapa bisa begitu?"
"Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya."

"Jadi siapa yang lebih buruk?", desak si pemuda.
Airmata mengalir di pipi sang Syaikh.
"Kita Anakku", ujar beliau.
"Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri."
Beliau terisak-isak.

"Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain."

(Sebuah Nasihat, karya ustadz Salim A Fillah)


www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
by Noer Rachman Hamidi

My Link List

Menjadi Distributor Ilmu


Siapa yang punya mie instant terbanyak di Kota anda ?
Saya percaya semua setuju, kalau saya katakan distributor mie instant lah jawabannya.

Siapa yang punya semen terbanyak di kota anda?
Tentu distributor semen terbesarlah jawabannya.

Tapi dua-duanya tak menyimpannya barang mereka berlama-lama dan tak pernah berpikir akan mereka gunakan sendiri pula.

Kalaupun harus menggunakan, tentu sedikit sekali.

Mereka akan berusaha menyalurkan secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya sebelum kadaluwarsa mienya atau membatu semennya.

Mereka percaya, semakin besar kemampuan mereka menyebarkan, semakin tinggilah kepercayaan pabrik dan
pabrik akan mengirimkan lebih banyak barang yang sama ke gudang mereka, untuk mereka distribusikan lagi.

Singkatnya,
distribusi semakin banyak, barang datangpun semakin banyak juga.

Boleh coba jadi distributor, lalu coba tahan barangnya.

Salurkan pelan-pelan, kalau perlu dipakai sendiri sebanyak-banyaknya, dijamin nggak bakal dikirim lagi.

Itulah kenapa saya nggak pernah percaya kalau ada berita: Orang itu kaya, tapi kikirnya luar biasa.

Saya lebih percaya kalau kita tak tau letak kedermawanannya.
Atau dia orang dermawan yang pandai menyembunyikan dermanya dan tak butuh pujian tetangga.

Kenapa begitu? Karena saya percaya Allah pun menggunakan distributor-distributor di atas buminya.

Untuk menyalurkan rizkinya, ilmunya, kebaikan-kebaikan lainnya dengan cantik sesuai sunnahtullahnya.

Pabrik saja memilih distributor terbaiknya, apalagi Allah Arrahman Arrahim.

Jadi kalau mau punya banyak mie instant, jadi distributor mie.
Kalau mau punya banyak semen, jadilah distributor semen.

Kalau mau punya banyak ilmu, jadilah distributor ilmu.
Kalau mau punya banyak rejeki, jadilah distributor rejeki.

Ringankan diri kita untuk berbagi, menjadi distributor ilmu & kebaikan.... Aamiin

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
by Noer Rachman Hamidi

My Link List

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Pesan untuk kami