Rumah Hikmah

Rumah Hikmah: membangun kemakmuran umat melalui sharing belajar bersama berbagi Ilmu dan Amal dalam ber-bisnis mandiri melalui kantor di rumah sendiri sampai memiliki bisnis mandiri mancanegara Eksportir Indonesia.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-856-111-1819

Eksportir Indonesia

Membangun bisnis mandiri skala International Eksportir Indonesia bersama pe-bisnis Korea, China dan Malaysia. Seharusnya kita mampu menjadi pemenang dengan memaksimalkan potensi alam yang kita miliki disertai dengan ilmu pengetahuan.

Dinar Islam

Membangun pondasi perekonomian keluarga islami berdasarkan Al Qur'an dan As Sunah. Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Membangun Kemakmuran Umat

Saatnya kita membangun (kembali) kemakmuran umat yang sebenarnya memiliki Sumber Daya Alam yang kaya akan tetapi terjajah oleh kurangnya iman, ilmu pengetahuan dan amalan.

Bersama kita bisa...!!!

Saling berbagi pengalaman, kemampuan yang dimiliki masing-masing individu dan berbagi ilmu pengetahuan, kita bersama-sama membangun (kembali) kemakmuran umat dengan kekayaan potensi alam yang kita miliki..

Peluang memakmurkan Bumi dan Umat


Saat ini sudah ada sekitar 1 milyar penduduk bumi dalam kondisi kelaparan. Apakah generasi anak cucu kita akan semakin sengsara ?. InsyaAllah tidak - inilah kesempatan kita untuk turut berbuat yang tepat saat ini, bahkan di jaman mereka dunia bisa jauh lebih baik !, how ?. Inilah peluangnya…

Pertama yang harus kita sadari adalah bahwa kita-lah yang diberi tugas oleh Allah untuk memakmurkan bumi itu, bukan orang lain. Bukan para konglomerat kapitalis, bukan investor asing – tetapi kita semua yang mendapat tugas itu. Darimana kita tahu bahwa itu tugas kita, bukan tugas orang lain ?, karena firmanNya ditujukan langsung ke kita :

"…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya..." (QS 11 : 61)

Kedua setelah kita menyadari tugas itu kemudian melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, melakukan kerja nyata (amal soleh) mencari solusi setiap masalah umat ini sambil terus memohon ampunan kepadaNya dan terus bertaubat, Allah akan memberikan sebagian upahnya di dunia – dan insyaAllah bagian terbesarnya untuk kehidupan yang abadi nanti.

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7 : 96)

Ketiga bahwa dunia yang saat ini sedang menuju keterpurukannya, harus kita yakini akan sampai pada suatu titik dimana arah itu akan berbalik – yaitu kembali menuju ke kemakmurannya. Darimana kita bisa yakin bahwa ini akan terjadi ?,  karena ada kabar yang sahih dari junjungan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

" Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia tidak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).

Nah sekarang kita sudah seharusnya yakin bahwa bumi masih akan makmur sekali lagi dan rezeki akan melimpah. Pertanyaannya kemudian adalah – apakah kita bisa ikut berperan atau tidak dalam proses pemakmuran tersebut ?. Pilihannya ada tiga, yaitu:
  • Pertama kita ikut berperan aktif dalam pemakmurannya karena itulah tugas kita seperti di ayat tersebut diatas.
  • Kedua, kita tidak berperan – karena kita anggap itu tugas orang lain yang mampu.
  • Ketiga kita berperan sebaliknya, yaitu ikut rame-rame menyengsarakan bumi dan penghuninya.
Apa ada yang mau berperan di peran yang ketiga ini ?, diakui atau tidak inilah yang paling banyak terjadi saat ini yaitu peran ketiga. Justru karena lebih banyak peran ketiga yang dimainkan orang – maka lebih dari 1 milyar orang kelaparan di jaman kita. Peran ketiga ini ada yang berbentuk kapitalisme yang menguasai sektor-sektor produksi dan pasar hanya pada segelintir orang sehingga yang lain kelaparan; ada yang menguras kekayaan alam yang non-renewable dengan tidak bertanggung jawab; ada yang membuat hukum-hukum, peraturan –peraturan yang pro si kaya dengan mengabaikan hak si miskin, ada banyak sekali pengusaha-pengusaha yang memakmurkan riba, ada banyak orang yang mengambil diluar hak-nya (korupsi), dlsb. dlsb.

Lantas apa bentuk konkritnya bila kita ingin berperan di peran yang pertama ?, salah satunya di bidang ekonomi – yaitu bagaimana kita bisa menjadi entrepreneur yang memakmurkan bumi. Enterpreneur yang mampu meng-eksplore potensi sumber daya alam yang begitu besar, potensi otak-otak manusia yang begitu cerdas, potensi iman yang akan meneguhkan hati dalam pengambilan keputusan, potensi Al-Qur’an yang menjadi sumber dari segala sumber ilmu, Al-Qur’an yang siap menjawab segala macam persoalan dan Al-Qur’an yang menjadi petunjuk lengkap dengan segala penjelasannya.

Konkritnya di lapangan kita bisa melihat begitu banyak ilmu dan teknologi yang berkembang saat ini yang insyaAllah sangat bisa dimanfaatkan untuk memakmurkan bumi. Sebagian ilmu tersebut sudah kita kuasai, sebagian masih dikuasai orang lain – tetapi pada waktunya insyaAllah akan bisa kita gunakan. Ada teknologi biologi melekuler, ada teknologi microba, ada teknologi nano, ada teknologi aerophonic , ada renewable energy dlsb-dlsb. yang semuanya menjanjikan untuk di explore.

Dengan ini semua, kita harus bisa mengubah pertanyaan pesimistis dari  ‘do what you can do ?’ (apa yang kamu bisa lakukan ?), bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan sumber daya yang sangat terbatas?, menjadi pernyataan optimistis ‘do more...!’ ( lakukankah lebih banyak...!), lakukanlah amal soleh sebanyak-banyaknya.

Keyakinan akan limpahan rezeki itu seyakin kita atas kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang sahih yang mengabarkannya, maka kinilah waktunya berbuat merespon tugas yang diembankan ke kita sesuai ayat tersebut diatas – insyaAllah kita akan mampu memperbaiki dunia untuk anak cucu kita kedepan. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Rumusan Kinerja & Kunci Kemakmuran Umat


3 Fondasi Usaha

Fondasi usahanya harus dilandaskan pada 3 hal yaitu  ke-Imanan, Ketakwaan dan Amal Shaleh. Hanya Iman dan Takwa yang akan menghadirkan keberkahan  ( QS 7 : 96), sedangkan kombinasi Iman dan Amal Shaleh akan menjadikan penguasa di muka bumi ( QS 24 :55). Aplikasi dua ayat ini dalam bidang usaha akan menghadirkan keberkahan dalam usaha itu dan membuatnya memimpin di bidangnya.

Fondasi ini yang akan membedakan usaha seorang mukmin dengan usaha-usaha pada umumnya. Bila usaha pada umumnya didorong untuk mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya dan sangat ketakutan untuk bangkrut dan jatuh miskin, pendorong usaha seorang mukmin adalah keinginannya yang sangat untuk memperoleh ampunan Allah dan karuniaNya (QS 2 : 268).

Pelaku usaha pada umumnya bekerja jungkir balik siang dan malam untuk menumpuk harta, sedangkan yang beriman bekerja keras di siang hari dan bangun malam di kala orang lain tidur – untuk mohon ampunan dan karuniaNya.


3 Jenis Transaksi

Ada tiga jenis transaksi utama dalam dunia usaha, hanya satu yang sangat terlarang yaitu Riba dan akan dimusnahkan oleh Allah  (QS 2 :275; 2 : 276), yang lainnya halal yaitu Jual-Beli (QS 2 : 275) dan bahkan satu lagi dijanjikan kesuburannya oleh Allah yaitu Sedekah ( QS 2 : 276).

Logikanya seorang pengusaha mukmin pasti akan berlari sejauhnya dari Riba karena selain sangat terlarang juga akan membawa kehancuran usahanya. Sebaliknya pengusaha mukmin akan aktif menghidup-hidupkan berbagai jenis jual beli – menghidupkan pasar – yang berarti menghadirkan kemakmuran bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain. Bahkan juga pengusaha yang beriman akan banyak-banyak bersedekah, memutar hartanya bukan hannya karena pertimbangan ekonomi , tetapi juga pertimbangan sosial.


3 Hukum Harta

Pelaku yang beriman pastinya dia juga tahu dan patuh hukum-hukum harta yang 3 yaitu harta yang sangat dilarang bila di ditimbun – Yaknizun ( QS 9 : 34), diijinkan secukupnya menyimpan bila itu dalam konteks ketahanan usahanya – Yukhsinun ( QS 12 :48) dan tidak ada batasan bila harta itu berputar di jalan Allah – Duulah ( QS 59 :7).

Harta yang ditimbun (Yaknizun) adalah harta yang disimpan untuk mencari keuntungan semata – padahal harta itu dibutuhkan oleh umat yang banyak, yang ini sedikitpun tidak boleh jadi harus ditekan sampai habis. Sedangkan harta yang disimpan untuk ketahanan usaha (Yukhsinun) boleh dilakukan secukupnya untuk maksud tersebut, misalnya suatu usaha perlu dana simpanan jangka panjang untuk membayari pesangon karyawannya yang pensiun, dana untuk penggantian mesin, dana pengembangan usaha dlsb.

Diluar yang dua hal tersebut, harta yang berputar di jalan Allah tidak ada batasannya, sebanyaknya-pun boleh.


3 Jenis Aset

Pelaku yang beriman dari waktu ke waktu mampu meningkatkan kwalitas asetnya dari aset-aset yang menurunkan kwalitas kemakmuran ( Wealth Reducing Assets) , menuju aset-aset yang mampu mempertahankan kemakmuran (Wealth Preserving Assets) dan akhirnya aset-aset yang meningkatkan kemakmuran (Wealth Producing Assets).

Aset yang menurunkan kwalitas kemakmuran adalah segala jenis aset kertas yang nilainya tergerus inflasi. Aset yang mampu mempertahankan kemakmuran adalah aset yang nilainya mampu mempertahankan daya belinya, sedangkan aset yang meningkatkan kemakmuran adalah seluruh jenis aset – utamanya aset yang berputar – yang nilainya terus tumbuh dan berkembang secara riil bukan sekedar angka.


3 Jenis Pengeluaran

Pelaku usaha mukmin yang bisa mengendalikan pengeluarannya secara berimbang untuk tiga keperluan yaitu Konsumi, Investasi dan Sedekah – dia akan ditolong oleh Allah dengan ‘hujan khusus’ – yaitu pertolong yang datang khusus kepadanya – tidak kepada orang lain.

Dasarnya adalah hadits hadits Rasulullah SAW yang panjang sebagai berikut : Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”. (HR. Muslim).


3 Kebutuhan Pokok

Pelaku usaha yang beriman hendaknya bersyirkah dalam tiga urusan pokok manusia yaitu Pangan – Energi dan Air. Dasarnya adalah hadits : “Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745)

Padang rumput dalam hadits tersebut di atas adalah mewakili lahan penggembalaan – yang kemudian menghasilkan daging dan susu (pangan), air adalah tentang pengelolaan mata air untuk kepentingan bersama dan api adalah yang di bahasa kita sekarang energi.

Tiga hal tersebut Pangan, Energi dan Air atau yang biasa disebut FEW (Food, Energy and Water) harus diupayakan secara maksimal untuk dikelola secara bersyirkah antara seluruh kekuatan umat ini – agar tiga kebutuhan dasar tersebut tidak dikuasai oleh orang lain yang membuat umat tergantung pada supply mereka.

Bisa saja umat ini memiliki berbagai usaha besar yang sukses, bila tiga hal kebutuhan pokok tersebut tidak dikuasai oleh umat ini, maka ketergantungan terhadap orang-orang diluar Islam bisa setiap saat melemahkan kekuatan umat. Saat inipun sudah terjadi ketika urusan obat (bagian dari kelompok pangan) kita serahkan ke orang di luar Islam – ternyata 99.3 % obat yang ada di pasaran tidak terjamin kehalalannya.


3 Pilar Ekonomi

Secara bersama-sama, pelaku usaha dan masyarakat dari umat ini harus menguasai tiga pilar kekuatan ekonomi yaitu Pasar, Produksi dan Modal. Umat ini memiliki system pasar yang sangat unggul yang pernah menumbangkan dominasi pasar Yahudi di Madinah dalam tempo kurang dari sepuluh tahun. Bila system pasar Islam yang bercirikan falaa yuntaqoshonna wa laa yudrabanna (jangan dipersempit dan jangan dibebabni) dan diawasai oleh pengawas pasar (Muhtasib) – ini berkembang di kalangan umat, niscaya umat akan memiliki lokomotif kemakmurannya.

Bila pasar yang menjadi lokomotif kemakmuran dikuasai oleh umat, maka gerbong-gerbong kemakmuran berikutnya akan mudah ditarik yaitu produksi barang-barang dan jasa untuk memenuhi berbagai kebutuhan umat ini. Bila pasar dan produksi dikuasai, maka modal akan datang dengan sendirinya.


3 Sumber Pendanaan

Umat ini memiliki seluruh sumber-sumber pendanaan yang insyaAllah selalu akan ada yang cocok untuk setiap keperluan umat. Sumber pendanaan ini secara umum terbagi dalam tiga bagian yaitu Social, Commercial dan Accidental.

Keperluan sosial atau yang memenuhi hajat hidup orang banyak seperti pasar, rumah sakit, sekolah, jalan raya, santunan fakir miskin dlsb – sumber pendanaannya yang utama adalah ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf).

Untuk keperluan commercial seperti modal usaha dagang dlsb., sumber utamanya adalah syirkah, mudharabah, qirad dan berbagai bentuk akad-akad syirkah lainnya. Untuk keperluan yang bersifat accidental seperti menghadapi musibah bencana alam, kegagalan usaha dlb., umat ini punya konsep aaqilah, Ta’awun dlsb.

Bila sumber-sumber pendanaan berbagai keperluan umat tersebut dihidupkan dengan institusi-institusi yang sesuai, maka niscaya umat ini tidak akan kekurangan sumber pendanaan untuk memajukan perekonomiannya.


3 Yang Diperlukan Untuk Implementasi

Semua keunggulan-keunggulan di atas tidak ada artinya bila tidak diamalkan atau diimplementasikan di lapangan dalam bentuk amal nyata. Untuk implementasi ini setidaknya dibutuhkan tiga hal yaitu Strategi, Operasionalisasi dan Orang (SOP – Strategy, Operationalization and People).

Strategy utama yang amat sangat dibutuhkan untuk umat saat ini adalah bagaimana kita bisa berjuang dalam ‘ barisan yang teratur , seakan –akan seperti bangunan yang tersusun kokoh ‘ (QS 61 :4). Setiap diri kita harus bisa menjadi bagian pagar – yang mencegah umat lain masuk dan mengobok-obok kepentingan umat. Seperti sangkar burung, bila satu jari-jari saja patah – burung bisa terbang keluar, maka demikianlah pentingnya umat ini untuk merapatkan barisan di setiap aspek kehidupannya – termasuk juga dalam bermuamalah.
Setiap diri kita adalah batu bata dari bangunan Islam, maka hendaklah kita berperan untuk menjadi batu bata terbaik di bidang kita masing-masing,  sehingga secara bersama-sama kita menjadi bangunan yang tersusun kokoh dan indah.

Untuk operasionalisasinya- umat inipun punya standar yang sangat tinggi yang disebut Ikhsan, bila kita memfokuskan karya kita untuk menjadi yang terbaik dalam bidangnya – jauh melebihi yang standar, maka tidak ada yang kita perlu kawatirkan balasannya – karena Allah sendirilah yang menjanjikan balasanNya “ Tidak ada balasan untuk sesuatu yang ikhsan kecuali yang ikhsan pula” (QS 55 :60)

Seperti apa orang-orang yang bisa melakukan implementasi project-project usaha keumatan ini dalam suatu barisan yang rapat dan dengan kwalitas kerja yang ikhsan – jauh melebihi yang sekedar standar ?, itulah orang-orang yang Qawiyyun Amin Hafidzun ‘Alim (QAHA – QS 28:26 dan QS 12 :55) yaitu yang kuat (dalam bahasa sekarang professional dan competent di bidangnya), amanah, pandai memelihara/menjaga (baik kemampuan manajerialnya) dan tentu juga berilmu yang lebih dari cukup dibidangnya.


Dengan memahami intisari berupa indikator-indikator kinerja kunci bagi ekonomi umat tersebut di atas dan juga kemudian secara sungguh-sungguh dan bersama-sama kita meng-implementasikannya, maka insyaAllah waktunya tidak lama lagi sebelum umat ini kembali berjaya di segala bidang  termasuk di bidang ekonomi ini. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com


Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Setelah Pangan dan Air mereka kuasai, lalu kita berbuat apa..?


Sejak Allah menciptakan Anak cucu Adam tidak ada fitnah (cobaan) yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal, sehingga tidak ada satu nabi-pun yang diutus Allah melainkan telah mengingatkan umatnya atas fitnah yang satu ini. Bahkan secara lebih detil, berbagai bentuk fitnah Dajjal itupun sudah sampai ke kita kabarnya melalui hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wasallam agar kita bisa mewaspadainya. Diantara fitnahnya itu adalah yang menyangkut kebutuhan pokok kita sehari-hari yaitu khususnya fitnah pangan dan air.

Tiga tahun sebelum kemunculan Dajjal, bumi mengalamai kelaparan yang sangat. Pada tahun pertama, Allah memerintahkan langit untuk menahan 1/3 airnya (agar tidak turun) dan memerintahkan bumi untuk menahan 1/3 hasilnya. Pada tahun kedua, Allah memerintahkan langit untuk menahan 2/3 airnya dan memerintahkan bumi untuk menahan 2/3 hasilnya. Pada tahun ketiga, Allah memerintahkan langit untuk menahan seluruh airnya sehingga tidak turun setetes air hujan-pun dan memerintahkan bumi untuk menahan produksinya sehingga tidak ada satu tanaman-pun yang tumbuh.

Dalam puncak kelaparan dan kehausan inilah Dajjal datang untuk mengguncang iman siapapun. Situasi ini tergambar melalui penuturan Mughirah bin Syu’bah dia berkata : “ Tidak ada orang yang lebih banyak bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wasallam tentang Dajjal daripadaku, dan beliau bersabda kepadaku : “Hai anakku ! engkau tidak usah terlalu risau memikirkannya. Dia tidak akan mencelakakanmu ! “ Kataku : “Orang-orang menganggap bahwa Dajjal itu mempunyai sungai mengalir dan bukit roti”. Beliau bersabda : “ Itu sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk menciptakannya”. (Shahih Muslim no  4005 dan Shahih Bukhari no 6589 dengan teks yang sedikit berbeda).

Situasi ekstrim ini untuk menggambarkan betapa mudahnya saat itu orang terkena fitnah Dajjal ini. Di puncak kelaparan ada yang bisa memberi makan dan minum dari bukit roti dan sungai yang dimilikinya.

Tetapi mengapa sebelum kemunculan Dajjal tersebut Allah menciptakan kekeringan yang sangat  ? Jawabannya ada di ayat berikut : “…dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri…” (QS 6:6). Jadi turun tidaknya hujan, itu terkait langsung dengan dosa-dosa kita sendiri.

Hal senada juga dijelaskan melalui ayat lain yaitu : “maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai””. (QS 71 : 10-12)

Dari hadits dan ayat-ayat tersebut kini tergambar jelas hubungannya antara urusan ketersediaan kebutuhan pokok kita yaitu pangan dan air, dengan keimanan dan dosa-dosa kita. Makanan dan air bisa menghilang dari permukaan bumi karena dosa-dosa kita. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS 30 : 41)

Ketika Allah mengerem ketersediaan pangan dan air, makanan dan minuman yang tersisa adalah fitnah atau cobaan dari Dajjal yang menguasai gudang (bukit) makanan dan stok air (sungai).

Bagaimana relevansinya dengan kondisi yang kita hadapi saat ini ? Dajjal yang sesungguhnya memang belum muncul karena hari-hari inipun masih turun hujan. Tetapi ‘Dajjal-Dajjal’ kecil atau ‘pasukan’ Dajjal bisa jadi sudah bergerak mem-‘prakondisikan’ dunia untuk kemunculan Dajjal besar.

Persiapan atau prakondisi tersebut misalnya bisa kita lihat dari konsentrasi penguasaan sumber makanan – dalam bentuk patent benih/bibit oleh segelintir konglomerasi dunia. Demikian pula sumber-sumber air minum yang kini diburu oleh ‘pasukan Dajjal’ – berupa perusahaan-perusahaan global yang menguasai air dunia – untuk dikuasai dan disedot sampai habis !

Setelah sumber-sumber pangan dan air dikuasai mereka, kita tidak lagi kini mengetahui dengan persis apa isi yang kita makan dan kita minum – itulah fitnahnya saat ini. Wajar bila saja berbagai penyakit degenerative yang dahulu tidak (banyak) ada, kini menjadi mewabah – lha wong makan minumnya yang menguasai ‘Dajjal’ !

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk melawan ‘Dajjal-Dajjal’ kecil yang kini mulai menguasai dunia dengan penguasaan makanan (perdagangan kebutuhan pokok) dan air (sumber kehidupan) ini ? Jawabannya satu yaitu kembali mengikuti segala petunjukNya langsung melalui Al-Qur’an maupun melalui sunnah-sunnah nabiNya.

Membaca surat Al-Kahfi dari jum’at ke jum’at akan membuat kita diterangi cahaya sepanjang pekan. Kalau tidak sempat membaca seluruh surat, 10 ayat pertama-pun sudah akan melindungi kita dari fitnah Dajjal sebagaimana disebutkan dalam hadits : “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi, ia terlindungi dari fitnah Ad-Dajjal” (HR. Muslim).

Ada apa di sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi ? bagaimana bisa menjadi jalan untuk perlindungan kita dari ‘Dajjal-Dajjal’ kecil jaman ini ?

Ayat-ayat awal surat Al-Kahfi berisi berita tentang adanya petunjuk yang lurus, balasan untuk yang beriman dan beramal shaleh, peringatan bagi yang mensekutukan Allah – yang menggap Allah punya anak, dan berita tentang gua perlindungan tempat menyempurnakan petunjuk dan menyerahkan segala urusan kepadaNya.

Maka kurang lebih ini pulalah solusi kita untuk saat ini dalam melawan “Dajjal-Dajjal” kecil jaman ini. Kita kembali pada petunjuk yang telah sampai ke kita, petunjukNya untuk seluruh urusan kehidupan kita dari yang kecil maupun yang besar – pastinya juga petunjuk untuk menyelesaikan urusan pangan dan air yang menjadi kebutuhan pokok manusia di jaman ini.

Solusi ini juga menuntut kita untuk beramal shaleh yang nyata, bekerja keras untuk diri kita dan keluarga kita, untuk umat ini secara keseluruhan agar bisa mandiri mencukupi kebutuhan pokok makan minumnya sendiri. Mandiri dalam ‘gua’ swasembada pangan dan air sehingga kita tahu persis apa yang kita makan dan yang kita minum, sampai tidak ada fitnah dalam makanan dan minuman kita.

Pasti bukan kebetulan kalau Allah memilih Nabi Isa ‘Alaihi Salam sebagai orang yang akan bisa mengalahkan Dajjal, untuk ini di dalam rangkain surat Al-Kahfi tersebut juga tersirat agar kita mengimani Isa putra Maryam ini sebagai nabi – bukan Anak Allah.

Isa adalah nabi yang pernah dikabulkan do’anya untuk diturunkanNya langsung hidangan dari langit untuk memenuhi permintaan kaumnya (QS 5 : 112-114). Bisa jadi tugas spesifik melawan fitnah Dajjal ini memang melekat pada diri Isa, termasuk fitnah dibidang makanan dan minuman ini.

Maka inipula yang dikabarkan dalam suatu hadits tentang kondisi pasca terbunuhnya Dajjal oleh Isa ‘Alaihi Salam . Hujan lebat akan membersihkan bumi sampai seperti cermin, bumi akan kembali menghadirkan buah-buahan dan keberkahannya, satu buah delima akan cukup dimakan oleh sejumlah orang, satu sapi perah akan menghasilkan susu yang cukup untuk suguhan sekelompok orang yang berpesta, satu unta akan menghasilkan susu yang cukup untuk satu suku, satu kambing akan menghasilkan susu yang cukup untuk satu keluarga !

Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut di atas jelas memberi pelajaran ke kita bagaimana menghadapi fitnah Dajjal itu. Maka ‘Dajjal-Dajjal’ kecil yang kini berusaha mengusai dunia melalui penguasaan kebutuhan pokoknya yaitu pangan dan air, juga harus dilawan dengan cara yang sama.

Dengan petunjukNya, kita harus bisa menghadirkan ‘solusi dari langit’ itu. Solusi dari langit untuk jaman ini ya yang kini sudah ada di depan mata kita untuk dielaborasi – yaitu petunjuk-petunjukNya dalam Al-Qur’an yang diperjelas dengan sunnah-sunnah nabiNya.

Karena ternyata dalam urusan makan dan minum-pun kita bisa terjebak dalam fitnah Dajjal – baik yang kecil maupun yang besar, maka seluruh aspek kebutuhan makan dan minum kita harus merujuk pada dua petunjuk baku tersebut di atas.

Maka setelah kita mengembangkan teknik pertanian, perkebunan dan peternakan dengan petunjuk Al-Qur’an, langkah berikutnya akan kita kembangkan membumikan urusan makan dan minum ini atau yang kita sebut kuliner yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. InsyaAllah kita memulai urusan kuliner dengan Resto Ikan bumbu rempah-rempah "Hikmah Bersama" di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), posisi bersebelahan dengan Mie Golek yang telah dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Google Maps: http://bit.ly/1cWWKbC

Saat ini yang sudah ada adalah ahli tafsir Al-Qur’annya, ada ahli makanan/obat, ada tempat untuk mulai merealisasikannya, ada hampir seratusan menu dari luar negeri yang ditulis oleh saudara-saudara kita chef muslim berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan hadits, dan kita telah hampir lengkap dengan segala resources untuk bener-bener membumikan kuliner Al-Qur’an dan Sunnah ini.

Hanya satu yang belum ada dan siapa tahu itu adalah Anda, yaitu chef lokal yang sangat menguasai cita rasa kuliner lokal kita yang hidup di negeri tropis ini. Kuliner Al-Qur’an tidak harus identik dengan makanan Arab, bisa saja ini nanti menyangkut masakan lokal kita – yang sangat enak di lidah kita – tetapi resepnya ditulis mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.

Bahkan bukan hanya terbatas pada cita rasanya, tetapi termasuk ukuran porsinya, urutan penyajiannya dan jam-jam pelayanan masing-masing menu-pun semua ada aturannya di Al-Qur’an ataupun hadits.

Bila Anda chef atau calon chef yang memiliki passion untuk belajar membangun konsep kuliner yang mengkiuti petunjuk ini, silahkan menghubungi kami di nemu kontak ini. Agar secara bersama-sama kita bisa melawan fitnah ‘Dajjal-Dajjal’ kecil yang kini sudah terlalu jauh menguasai menu makanan dan minuman kita. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Mereview Pendidikan Indonesia



System pendidikan sekarang di negeri ini sangat nyata memiliki motivasi hanya mengejar gelar semata, sampai-sampai para sarjana-pun banyak yang tidak tahu apa yang mereka bisa buat dengan kesarjanaannya – seharusnya hal ini harus segera di review atau dicarikan pengganti system pendidikan dan pelatihannya.

Bahkan sering saya jumpai di banyak pelamar kerja, mereka menempuh pendidikan S-2 yang tidak relevan dengan S-1-nya. Sebagian ini terjadi karena mereka tidak memperoleh pekerjaan dengan S-1-nya kemudian daripada menganggur mereka menempuh S-2, dengan harapan berbekal S -2 peluang mereka akan lebih baik.

Padahal belum tentu, di dunia kerja lebih diutamakan (calon) pekerja yang trampil dan fit dengan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya – dan bukan semata melihat gelar-gelar yang dibawanya.

Jadi program pendidikan seharusnya bisa melahirkan generasi-generasi yang optimis yang mampu membuka lapangan pekerjaan baru. Bukankah mereka ini (lulusan universitas) telah diberikan kesempatan Allah SWT mendapatkan ilmu yang lebih dibandingkan mayoritas umat ini yang tidak/belum mampu menempuh pendidikan di universitas.

Sesuai janji Allah : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 3 : 139), maka sesungguhnya apa-apa yang dihasilkan oleh ajaran Islam ini pastilah sangat tinggi nilainya.

Sebagai contohnya adalah perekonomian yang berdasarkan prinsip-prinsip nilai Islam misalnya, ia ibarat intan berlian yang selama ini terkubur dalam-dalam oleh system ribawi, kapitalisme, neoliberalisme dlsb. Bagi orang yang tahu bahwa ini sesungguhnya intan berlian, maka dia berusaha menggosoknya tanpa lelah sehingga bebas dari segala macam debu yang menutupinya, menggosoknya terus sampai mengkilap menampakkan keindahan aslinya. Setelah intan berlian tersebut benar-benar bebas dari debu-debu yang menutupinya, maka siapapun yang melihatnya – baik dia muslim maupun non muslim – semua bisa menikmati keindahannya, barangkali inilah salah satu tafsir ...Rahmatan Lil – ‘Alamin itu....!.

Dengan konsep yang terbukti efektif menghasilkan generasi muda gemilang di masa lampu (masa-masa kejayaan Islam), mestinya kita harus bisa mengungguli negara-negara lain dalam optimism para pemuda-nya. Bukan optimism yang hanya pepesan kosong, tetapi optimism yang didasari oleh keimanan yang sangat kuat dan kemandirian yang sangat nyata. Untuk ini diperlukan keputusan yang berani oleh para orang tua.

Para orang tua harus berani mengubah sasaran pendidikan anak-anaknya dari mengejar gelar, menjadi dokter, insinyur, ekonom dlsb. berubah menjadi anak-anak yang beriman kuat dan mandiri di usia belia. Bahwasanya mereka akan menjadi dokter, insinyur, ekonom dlsb. sesudah itu – maka itu akan menjadi sangat baik. Tetapi bukan sebaliknya, yaitu mereka memperoleh gelar yang dikejarnya tetapi imannya kosong dan tidak mandiri pula.

Survey oleh Credit Suisse ternyata di negara-negara yang katanya sangat maju dengan pendidikannya yang bahkan menjadi standar dunia – sekalipun, ternyata hanya melahirkan generasi yang sebagian besarnya galau ! Bukankah ini sinyal agar kita tidak mengikuti mereka ? Agar kita memiliki konsep sendiri yang insyaAllah jauh lebih unggul ? InsyaAllah !.



www.rumah-hikmah.com


Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Melawan Kemungkaran dan Kemaksiatan di depan kita.


Melawan Kemungkaran dan Kemaksiatan di depan kita dengan mentadaburi Al Quran

Lengkap sudah musibah menimpa umat Islam di negeri ini dalam bidang kesehatan. Selain pengelolaan JKN yang masih full ribawi – yang haram-pun menjadi kewajiban, ternyata dari 30,000-an obat yang beredar di masyarakat hanya 22 yang bersertifikat halal atau hanya 0.07 % ! Musibah semacam ini terjadi karena umat yang mayoritas ini tidak memegang kendali kekuasaan - kekuasaan ekonomi yang kita sebut Tiga Pilar Ekonomi.

Bila di dunia politik dikenal adanya Trias Politica yaitu yang terkait dengan pemisahan kekuasaan Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif – yang membuat undang-undang, yang mengeksekusinya dan yang menjaga kepatuhan hukumnya.

Tiga Pilar Ekonomi adalah istilah yang kita pergunakan, bukan terkait dengan pemisahan kekuasaan tetapi sebaliknya yaitu integrasi tiga kekuatan ekonomi yang terdiri dari "Pasar, Modal dan Produksi". Ketiganya harus dipegang oleh umat ini, bila kita ingin menjamin bahwa produk pangan dan obat yang ada di pasaran memang halal.

Ketika ketiganya dipegang orang lain diluar umat ini, bagaimana mereka bisa peduli dengan kebutuhan kita untuk makanan dan obat yang dijamin kehalalannya ? dan juga pengelolaan financial yang dijamin bebas ribanya ?

Dari pernyataan menteri kesehatan-pun nampak kengganan untuk melayani umat ini secara halal. “Dalam satu kesempatan, Menkes mengatakan bahwa sertifikasi halal tidak diperlukan untuk obat dan vaksin karena hampir semuanya mengandung babi. Dalam pembuatannya, sebagian besar vaksin memang diproses dengan media yang bersinggungan dengan enzim babi yang disebut tripsin” (Detik, 07/12/2013)

Inilah akibatnya bila umat ini menyerahkan urusannya pada umat yang lain atau masih pada bagian dari umat ini tetapi mereka tidak peduli dengan kebutuhan umat atas produk-produk yang dijamin kehalalannnya dan bebas dari unsur riba – bila menyangkut system keuangan.

Saudara-saudara kita yang menjadi bagian dari institusi legislatif, eksekutif ataupun yudikatif – silahkan Anda pergunakan secara maksimal kekuasaan Anda untuk berbuat melayani kebutuhan umat – sehingga tidak membuat umat terjebak dalam keterpaksaan seperti dalam hal obat-obatan tersebut di atas.

Bagi kita rakyat yang tidak berada di kekuasaan legislatif, eksekutif maupun yudikatif – sebenarnya juga masih akan bisa berperan besar dalam melayani kebutuhan umat seperti makanan dan obat-obatan tersebut di atas. Apalagi dalam konsep Islam, makanan kita ya obat kita. Bahkan bukan hanya obat penyakit fisik tetapi juga yang bersifat psikis.

Masalahnya adalah, dengan petunjuk yang begitu jelas tentang makanan dan juga obat-obatan yang halalan thoyyibah bagi kita ini – mengapa umat yang mayoritas ini masih dalam posisi di fait accompli – tepaksa harus menerima makanan dan obat-obatan yang disodorkan orang lain -  padahal itu (khususnya obat) begitu jelas keharamannya ?

Jawabannya adalah karena dalam bidang ekonomi, kekuasaan Tiga Pilar Ekonomi itu tidak berada dalam genggaman umat saat ini !

Pasar dikuasai oleh orang-orang yang berduit – meskipun duitnya adalah hasil pinjaman yang full riba. Umat yang tidak memiliki dana dan tidak mau terlibat dalam riba menjadi tidak memiliki akses terhadap kekuasaan pasar. Akibatnya umat yang mayoritas diperdaya oleh yang minoritas dalam hal kekuasaan pasar ini.

Kekuasaan modal juga demikian, meskipun keberadaan bank-bank dan institusi kekuangan syariah sudah hampir 20 tahun di negeri ini – pasarnya masih kurang dari 5 %. Lebih dari 95 % pasar keuangan masih dikelola secara full riba, padahal tidak sedikit saudara-saudara kita seiman yang menjadi pucuk pimpinan bank-bank dan bahkan juga institusi otoritas seperti OJK, BI dlsb.

Kekuasaan terhadap pasar dan modal kemudian juga berdampak pada kekuasaan produksi. Karena pasar dan modal mereka yang pegang, tidak banyak yang bisa dilakukan umat ini di bidang produksi. Banyak teman-teman yang sudah bisa memproduksi obat herbal yang sangat efektif – berbahan tanaman-tanaman yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun hadits, itupun belum banyak dikenal oleh masyarakat karena keterbatasan produksinya – yang juga rata-rata terkendala modal dan jaringan distribusi atau pasar.

Walhasil harus ada terobosan besar bagi perjuangan umat ini untuk mengambil alih kekuasaan- kekuasaan Tiga Pilar Ekonomi tersebut di atas. Apa yang mutlak diperlukan oleh umat seperti obat halal tersebut di atas – menjadi fardhu kifayah bagi sebagian umat ini untuk berjuang keras mengadakannya.

Karena untuk mengadakan produksinya juga diperlukan dukungan modal dan keberpihakan pasar, maka pengadaan modal dan pasarnya juga  menjadi fardhu kifayah.

Dengan demikian menguasai ketiga unsur Tiga Pilar Ekonomi  – yaitu pasar, modal dan produksi menjadi fardhu kifayah bagi umat ini – agar masalah-masalah seperti kebutuhan obat yang halal tersebut di atas dapat diurusi dan dipenuhi dengan sebaik-baiknya oleh umat ini sendiri – bukan oleh orang lain yang tidak peduli !

Kita sangat mengharapkan kerja keras dari kita sendiri, para Ulama, Ustadz dan Ilmuwan Islam untuk serius menyelesaikan fardhu kifayah bagi umat ini dalam mencegah kemungkaran dan kemaksiatan yang ada di depan kita semua, bahkan yang ada di dalam rumah kita melalui media-media yang ditayangkan setiap hari.


Wallahu A'lam.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Meraih Keberuntungan


Saking percayanya bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, penjelasan atas petunjuk-petunjuk dan jawaban atas segala sesuatu – ulama dahulu mengibaratkan mencari cemeti yang hilang-pun dengan Al-Qur’an. Maka Al-Qur’an yang sama pasti juga bisa menjadi petunjuk bagi segala urusan kita di jaman ini. Bagi kita yang (ingin) terjun ke dunia usaha misalnya, apa yang kita cari ? salah satunya untung bukan ?, maka jawabannya-pun ada di dalam Al-Qur’an !

Berikut antara lain kunci-kunci keberuntungan yang saya temukan dari sejumlah ayat-ayat di Al-Quran itu :

1. Iman,  hal utama yang mendatangkan keuntungan ini disebut di sejumlah ayat antara lain QS 2 : 4-5 ; 103:3 ; 7 : 156-157 ; 23 : 1
2. Membaca Al-Qur’an, mendirikan shalat, membayar zakat, ada di QS 31 : 4-5 ; 35 : 29
3. Amal saleh dan banyak berbuat kebajikan, ada di sejumlah ayat antara lain QS 7 :8 ; 45 :30 ; 103:3
4. Menyuruh yang makruf mencegah yang munkar ; antara lain ada di QS 3:104 ; 7 : 156 -157
5. Takwa, antara lain ada di QS 2 : 189 ; 3 : 300 ; 5 : 100
6. Menjauhi perbuatan keji, antara lain ada di ayat  QS 5 : 90 ; 23 :50
7. Bertobat, antara lain ada di QS 24:31 ; 28 :67
8. Menjahui perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, antara lain ada di QS 23 :3
9. Menjaga amanat dan janji, antara lain ada di QS 23 : 8
10. Ibadah di malam hari, antara lain ada di QS 39 : 9
11. Mencintai dan mengutamakan saudaranya melebihi dirinya sendiri, antara lain ada di Qs 59 : 9
12. Tidak berkasih saya dengan orang yang menentang Allah, antara lain di QS 58 : 22
13. Mengingat Allah banyak-banyak, antara lain di QS 62 : 10
14. Tidak kikir, antara lain ada di QS 64 :16
15. Menolak kejahatan dengan cara yang lebih baik, ada di QS 41 : 34-35

Mungkin timbul pertanyaan Anda, ayat-ayat tersebut kan lebih fokus pada urusan keberuntungan di akhirat, lantas dimana tips-nya untuk keberuntungan di dunia  ?  pertanyaan semacam ini sering muncul  karena daya tarik dunia yang begitu besar sehingga orang lebih banyak tertarik pada sesuatu yang instant duniawi ketimbang yang berorientasi akhirat.

Tetapi justru disitulah petunjuknya. Perhatikan ayat berikut : “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (42:20)

Juga dua hadits  berikut :

“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan mencerai- beraikan urusannya dan Allah akan menjadikannya miskin. Tidaklah dia akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatannya, maka Allah akan menyatakan urusannya dan menjadikan kekayaan di hatinya, ia akan diberi dunia sekalipun dunia memaksanya”. (HR Ibnu Majjah)

Senada dengan ini adalah hadits : “Barangsiapa menjadikan cita-citanya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan mencukupkan baginya dunianya. Dan barangsiapa cita-citanya hanya untuk mencari dunia, maka Allah tidak peduli dilembah mana dia binasa”. (HR Ibnu Majjah)

Disitulah elegant-nya cara mencari keberuntungan yang besar melalui petunjuk Allah itu.  Bayangkan kalau perilaku mengutamakan tujuan akhirat ini yang ada di dunia usaha, maka tidak akan ada kecurangan, tidak ada yang berkhianat, bahkan bila ada yang berbuat jahat terhadap (usaha) kita-pun kita masih bisa membalasnya dengan cara kebaikan (QS 41:34-35).

Ini tips untuk mencari keberuntungan besar yang memang tidak mudah, tetapi dijamin kebenarannya karena datangnya dari Dia Yang Maha Tahu, Dia Yang Menciptakan kita semua beserta bumi, langit dan seisinya.

Bila kita dihadapkan pada dua pilihan, ada tips sukses/untung besar yang mudah diterapkan (mudah kita jumpai di buku-buku entrepreneurship di toko buku) tetapi tidak dijamin kebenarannya, yang satu lagi tips sukses/untung besar yang tidak mudah menerapkannya tetapi dijamin kebenarannya – maka mana yang kita akan pilih ?, insyaAllah kita akan memilih bersusah-payah menerapkan yang kedua yang dijamin kebenarannya. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Pengendali Pangan Dunia

Menteri luar negeri Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970-an, saat itu dia membuat membuat pernyataan “If you control the oil, you control the country; if you control food, you control the population”.

Setelah minyak kini terbukti dikendalikan oleh segelintir pihak – yang juga terbukti mengendalikan negara, sejumlah pihak rupanya sedang ancang-ancang untuk mengendalikan pangan dunia. Petani-petani yang bunuh diri di India tersebut hanyalah contoh-contoh korban yang sudah terjadi, karena beberapa pihak sedang meng-exercise keahliannya untuk menguasai sumber-sumber pangan dunia.

Siapa-siapa mereka ini ? Orang selama ini terkagum-kagum dengan yayasannya Bill and Melinda Gates yang anggaran belanjanya saja mendekati anggaran belanja badan dunia sekelas WHO ! tetapi untuk apa ini ? Menurut salah satu laporannya Centre for Research and Globalization (CRG) Canada, Sebagian kecil memang dana tersebut untuk program-program kemanusiaan – agar foundation tersebut mendapatkan keistimewaan pajak.

Tetapi yang sangat besar dari anggaran yayasan orang paling kaya di dunia ini adalah untuk program-program yang memiliki agenda khusus. Salah satunya yang sangat besar adalah untuk membiayai gudang benih hari kiamat atau mereka sebut Doomsday Seed Fault di laut Barents tersebut di atas.

Di suatu tempat yang nyaris tidak berpenghuni – di Swalbard – sebuah gudang super aman dibangun. Gudang ini dirancang untuk tahan terhadap guncangan nuklir sekalipun, dan bisa dioperasikan secara otomatis tanpa perlu operator manusia di sana.

gudang super aman di Swalbard, Kutub Utara.

Apa isinya ? ya itu tadi jutaan benih dari seluruh dunia yang menurut mereka sudah di’mulia’kan dengan genetic technology – padahal siapa yang lebih mulia ciptaannya selain dari Allah Sang Pencipta sendiri ?

Mungkin kalau hanya Bill Gates dan istrinya yang membangun gudang tersebut, orang masih bisa berprasangka baik bahwa karena dia orang super kaya – maka dia ingin dan bisa berbuat banyak untuk kemanusiaan.

Baru menjadi mencurigakan karena ternyata Gates tidak sendirian, disampingnya ada Rockefeller Foundation dan berbaris dibelakangnya hampir seluruh nama-nama besar dunia di bidang GMO – Genetically-Modified Organism, yaitu para penguasa benih dunia yang antara lain membuat para petani India bunuh diri di atas.

Jadi di dekat kutub utara yang sangat dingin, ditempat yang nyaris tidak dijamah oleh manusia – sedang dibangun upaya untuk menguasai pangan dunia. Suatu upaya untuk mengimplementasikan ucapan Henry Kissingers “If you control food, you control population”.

Menjadi lebih menarik lagi, bila kita gali siapa-siapa di belakang foundations dan corporations yang sedang membangun ‘bukit roti’ ini dengan hadits shahih berikut : “ Tidak ada orang yang lebih banyak bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wasallam tentang Dajjal daripadaku, dan beliau bersabda kepadaku : “Hai anakku ! engkau tidak usah terlalu risau memikirkannya. Dia tidak akan mencelakakanmu ! “ Kataku : “Orang-orang menganggap bahwa Dajjal itu mempunyai sungai mengalir dan bukit roti”. Beliau bersabda : “ Itu sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk menciptakannya”. (Shahih Muslim no 4005 dan Shahih Bukhari no 6589 dengan teks yang sedikit berbeda).

Maka agar populasi kita tidak dikendalikan oleh ‘pasukan Dajjal’ yang sedang membangun ‘bukit rotinya’ sambil mulai berupaya mengendalikan pangan dunia – seperti yang sudah terjadi di India, maka sungguh umat ini perlu benar-benar beriman dan beramal shaleh (QS 18:2) agar bisa benar-benar keluar dari ‘fitnah Dajjal’ baik Dajjal kecil maupun yang besar nantinya.

Dalam kaitan dengan ‘bukit roti’ yang sedang dibangun ‘Dajjal’, amal shaleh yang kita butuhkan antara lain ya menguasai seluk-beluk pangan kita dari hulu sampai hilirnya.

Dari hulunya adalah usaha untuk menghasilkan benih atau bibit-bibit makanan kita sendiri, mengelola lahan-lahan pertanian/perkebunan kita sendiri – sampai di hilirnya adalah menguasai menu-menu makanan di meja makan kita yang tidak boleh dikendalikan oleh scenario ‘roti Dajjal’.

Mengapa demikian ?, karena kalau hanya di hulu kita kuasa - tetapi menu di meja makan masih menu mereka – maka mau tidak mau kita akan tergantung pada sumber bahan baku dari mereka.

Demikian pula sebaliknya, bila hanya di menu saja kita dandani sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah sementara di hulu produksi bahan bakunya tidak kita kuasai – maka kita juga akan tergantung pada bahan baku dari ‘bukit roti’ mereka.

Barangkali inipula salah satu hikmahnya kita disunahkan untuk menghafal 10 ayat pertama dari surat Al-Kahfi untuk bisa menghidari fitnah Dajjal. Karena didalamnya antara lain ada ayat yang memerintahkan kita untuk beriman dan beramal shaleh tersebut di atas.

Maka inilah salah satu amal shaleh yang kini menjadi fardhu kifayah – bagi umat ini, yaitu membangun kemandirian pangan kita sendiri. Bukan hanya untuk bangsa, tetapi lebih luas dari itu yaitu untuk umat. Sebagian dari petani-petani yang tercekik kehidupannya di India sana juga bagian dari umat ini, dan mereka menjadi cermin bagi kita – akan seperti itulah kita bila kita tidak beramal shaleh mulai dari kita di sini di jaman ini. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan