Akibat Tidak ber-Syukur, lupa men-tadaburi Nikmat di sekitar kita..


Bila kita renungkan,  semangkuk mie instan di meja makan kita.  Betapa panjang perjalanan mie ini untuk sampai siap kita santap. Gandumnya ditanam di Amerika dan perlu waktu sekitar 9 bulan sebelum siap panen. Dikapalkan ke Indonesia menempuh jarak sekitar 20,000 km dalam 32 hari perjalanan, diproses di pabrik tepung dan kemudian didistribusikan dahulu sebagai tepung.‎

Setelah menjadi tepung, dia diproses lagi di pabrik roti atau pabrik mie instan sebelum didistribusikan sebagai produk akhir ke konsumen. Perjalanan yang panjang ini tentu membutuhkan sangat banyak waktu, energi dan biaya, mulai dari energi untuk traktor-traktor yang mengolah tanah untuk penanamannya – sampai energi untuk masak mie di rumah kita.

Di lain pihak ada proses makanan yang tidak kalah enaknya tetapi menggunakan jalur yang jauh lebih  pendek. Rumput yang tumbuh di kebun-kebun kita tidak butuh energi untuk menanamnya, energi matahari telah diberikan secara gratis oleh Sang Maha Pencipta. Rumput ini kemudian dimakan domba dan ternak lain – juga tidak butuh energi. Sampai kita sembelih-pun tidak membutuhkan energi. Dia baru butuh energi ketika kita kirim ke tukang-tukang sate dan kemudian tukang sate-pun perlu membakarnya.

Produk akhirnya-pun bisa terlihat, bahkan kalau disuruh milih makan mie instan/roti atau makan sate, hampir pasti kita akan memilih makan sate. Bukan karena kita orang Indonesia, ketika CNN mengadakan survey makanan paling lezat di dunia – sate masuk no 14 makanan terlezat  di dunia sedangkan roti dan mie tidak masuk 50 besar.

Lantas mengapa jauh lebih banyak orang makan mie instan ketimbang makan sate atau produk berbasis daging lainnya ?, karena mie instan sudah menjadi bagian industri yang sangat besar lengkap dengan kampanye iklannya. Dalam 40 tahun terakhir, mie yang dahulunya makanan pendamping atau lauk – telah berubah menjadi makanan utama.

Sementara makanan sate dan makanan berbasis daging lainnya, tingkat konsumsinya stagnan dan bahkan nyaris cenderung menurun - dengan posisi sekarang dimana orang Indonesia rata-rata hanya mengkonsumi daging 10 kg/tahun/kapita, sementara tingkat konsumsi daging dunia telah mencapai 41 kg/tahun per kapita. Itupun setelah kita melakukan berbagai impor mulai dari bahan pakan ternak sampai impor daging bekunya.

Mengapa ketimpangan ini terjadi ? dalam hal ini karena Para Pemimpin di negeri ini terlihat pura-pura tidak tahu, tidak mengatur dan berusaha mengelola sumber daya alam yang penuh dengan keberkahan ini. Mereka mengabaikan keberkahan yang ada di sekitar kita. Mereka hanya berpikir instan yaitu: menarik begitu banyak investor sehingga terus membesar dari waktu ke waktu, sementara keberkahan yang ada nyaris terabaikan.

Kita rela mengimpor begitu banyak biji gandum yang dengan susah payah ditanam dan dikirim menempuh perjalanan separuh bumi, ketimbang mengapresiasi rumput-rumpur yang tumbuh di sekitar kita. Biji gandum adalah bahan baku untuk proses yang penuh keborosan, sedangkan rumput adalah bahan baku gratis untuk proses yang penuh keberkahan.

Kita perlu aware akan adanya tersebut untuk menjadi sumber inspirasi kita dalam membangun kekuatan ekonomi dan daya saing, utamanya menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan. Industri penuh keberkahan berbasis proses hijau mengandalkan bahan baku  dan pabrik hijau, yang sumber utamanya ada di negeri ini.

Industri hijau juga memiliki daya saing tersendiri di era globalisasi dan kesadaran dunia untuk mampu menghadirkan pertumbuhan yang berkesinambungan –sustainable growth. Ketika industri proses mengandalkan bahan bakar fosil yang semakin langka, industri proses hijau justru menghadirkan berbagai alternatif bahan bakar baru.

Ketika gandum ditanam sampai disajikan di meja makan mengkonsumsi begitu banyak energi fosil, rumput yang diproses sampai menjadi sate mengkonsumsi energi fosil yang jauh lebih sedikit – dan bahkan secara tidak langsung bisa menghadirkan berbagai energi terbarukan.  

Tanaman-tanaman yang tumbuh subur setelah dipupuk tanpa sengaja oleh domba-domba yang berkeliaran mencari makan ketika digembala di antara pepohonan, bisa diolah untuk menghasilkan bio ethanol maupun bio diesel. Ketika malam hari istirahat, ternak-ternak tersebut masih membuang kotorannya di kandang – inipun bisa menjadi sumber energi bio gas.

Bukan berarti kita tidak butuh industri-industri yang boros tersebut, keberadaannya saja yang perlu ditekan hanya pada yang benar-benar perlu. Sebaliknya industri-industri yang berbasis proses hijau yang harus terus digali dan dikembangkan, karena jenis proses inilah yang akan melestarikan bumi sambil memenuhi kebutuhan pokok manusia berupa pangan, energi dan air (FEW, Feed – Energy and Water) secara berkelanjutan.

Kesadaran akan adanya proses hijau ini diharapkan juga membangkitkan rasa syukur kita terhadap begitu banyak nikmatNya yang ditaburkan di sekitar kita. Dan ketika kita pandai bersyukur, akan terus ditambahkan nikmatNya itu – antara lain berupa peluang-peluang berikutnya. InsyaAllah.‎

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan