Apabila Modal menjadi Kendala Usaha Anda...?


Bila jawaban Anda adalah ‘iya’ atas pertanyaan di judul tulisan ini, maka Anda tidak perlu kawatir karena itu problem klasik dari hampir seluruh (calon) pengusaha. Bahkan Anda perlu bersyukur bila menghadapi problem itu saat ini, karena mayoritas solusi modal yang ada di masyarakat masih bersifat ribawi, spekulatif, tidak adil dlsb. Tetapi sesungguhnya ada solusi yang full syar’i dari setiap tahapan usaha Anda, apa itu ?

Dari mulai ide usaha itu mindip-mindip – berupa tunas yang baru muncul, sampai usaha berkembang full scale menjadi perusahaan global – insyallah selalu ada solusi modalnya yang syar’i. Kalau ada yang syar’i, baik bagi kehidupan kita di dunia dan insyallah bisa menyelamatkan kita di  akhirat – mengapa kita masih milih yang ribawi dan spekulatif ?

Namun perlu disadari bahwa jalan yang syar’i ini juga tidak mudah bahkan mungkin lebih sulit dari yang tidak syar’i. Ini wajar karena jalan ke surga itu penuh rintangan,  menanjak dan tidak disukai manusia, sebaliknya jalan ke neraka itu mudah, landai dan dipenuhi hal-hal yang sangat disukai manusia.

Maka seperti apa permodalan yang full syar’i untuk setiap tahapan atau ukuran usaha Anda ? berikut adalah hasil kompilasi saya dari sejumlah pengalaman teman-teman di dunia usaha, termasuk hasil diskusi dengan sejumlah ahli – jadi sumbernya mix antara ilmu dan amal.

Tahapan dalam life cycle usaha itu dapat disederhanakan menyerupai huruf J sehingga disebut kurva J. Awal usaha biasanya nilai itu turun dahulu, yang jadi ukurannya bisa cash flow, profit atau assets tergantung bagaimana perusahaan itu menentukan Key Performance Indicators (KPI)-nya.

Dalam proses penurunan ini paling banyaknya – bisa sampai 98% untuk perusahaan jenis dot com – pemula nyungsep dan tidak bangun lagi. Itulah mengapa periode ini disebut Death Valley atau lembah kematiannya para (calon) pengusaha.

Pemula yang memiliki visi jauh, insyaAllah dia bisa melihat bahwa sesudah Death Valley ini akan ada tanjakan ke atas. Maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk melaluinya, dan bila benar-benar bisa melalui dia akan sampai tahapan berikutnya.

Tahap berikutnya adalah ketika perusahaan belum untung tetapi sudah lepas dari Death Valley,  arahnya sudah benar. Perjalanan ini akan menuju titik BEP (break even point) dan setelah itulah perusahaan menanjak, mendatangkan keuntungan, asset tumbuh dan perusahaan terus membesar.

Solusi-solusi akad permodalah syariah pada umumnya memang bisa diterapkan di setiap tahapan dari usaha tersebut, tetapi masing-masing ada karakternya sendiri-sendiri. Ada akad-akad tertentu yang lebih pas diterapkan pada tahapan usaha tertentu dan sebaliknya, ada akad-akad tertentu yang sebaiknya tidak digunakan pada tahapan usaha tertentu.

Grafik di atas memberikan gambaran akad apa yang paling pas diterapkan untuk usaha pada masing-masing tahapannya. Ketika usaha masih berawal dari ide dan sang penggagas belum ada pengalaman mengeksekusi ide-nya, maka tahapan ini adalah yang paling beresiko – itulah sebabnya tahap ini paling banyak memakan korban sehingga disebut Death Valley.

Pada saat usaha masih di tahap ini, permodalan yang paling sesuai adalah dari syrikah, yaitu Anda mengajak teman-teman yang se-visi untuk menaruh modal bareng dan mengembangkan usaha bareng. Dengan cara ini Anda bisa memperoleh modal, sekaligus juga bantuan tenaga dan pemikiran dari mitra syirkah Anda.

Karena Anda bekerja bareng, mitra Anda well informed dan tahu betul setiap tahap kesulitannya. Selain resiko diminimize, bila the worst come to the worst – usaha Anda masuk death valley dan tidak bangkit lagi-pun mitra Anda tahu betul apa yang terjadi, semua pihak sudah berusaha sekuat tenaga.

Asumsinya usaha Anda berhasil melalui death valley, perusahaan Anda sudah menuju arah yang benar namun belum untung. Anda membutuhkan modal tambahan saat itu ?, maka opsinya mulai banyak.

Karena usaha Anda sudah proven - melewati Death Valley, usaha Anda sudah bisa menarik pemodal lain yang murni pemodal – tidak harus terlibat dalam pengelolaan usaha langsung. Saat itulah pembiayaan Mudharabah mulai bisa Anda gunakan.

Sebagai Mudharib, Anda sudah menunjukkan keberhasilan tertentu (melewati Death Valley dari usaha Anda..!) sehingga mengurangi resiko usaha. Dalam aturan Mudharabah bila usaha gagal, maka sang Sahibul Mal kehilangan modalnya dan Anda sebagai Mudharib bekerja tanpa upah/hasil. Resiko ini diminimize manakala usaha sudah melewati Death Valley-nya.

Mengapa akad mudharabah ini meskipun boleh tetapi tidak dianjurkan untuk dilakukan dari awal usaha..?, karena saat itu Anda sebagai Mudharib belum membuktikan kemampuan Anda – terlalu beresiko bagi sang Sahibul Mal. Disamping itu karena Sahibul Mal tidak terlibat langsung dalam perjuangan Anda di death valley – ketika Anda gagal, dia bisa tidak rela kehilangan modal dia seluruhnya.

Selain pembiayaan Mudharabah di tahap ini Anda juga dapat membesarkan usaha dengan penjualan barang-barang yang dibayar di muka atau penjualan berdasarkan pesanan. Akad yang digunakan adalah akad Salam atau bisa juga Istishna’.

Dengan klien membayar lebih dahulu seluruhnya atau sebagian dari barang yang akan Anda produksi, buat atau bangun – Anda memperoleh modal kerja yang Anda butuhkan. Lho bolehkah menjual barang yang belum ada atau belum dibuat ini..?  inilah bentuk kemudahan dan keindahan solusi Islam itu.

Boleh tetapi bersyarat, yaitu barang yang dipesan oleh klien Anda tersebut spesifikasinya harus jelas, waktu penyerahannya jelas, dan Anda juga jelas mampu benar-benar memproduksi/membuat atau membangunnya.

Itulah sebabnya solusi Salam atau Istishna’ saya taruh di tahap ketika usaha sudah melewati death valley. Mengapa saya tidak mengajurkan Anda membiayai modal kerja dari awal deangan akad Salam atau Istishna’ ? karena saat itu kan usaha Anda belum tentu berhasil, produk Anda belum tentu bisa dibuat/diproduksi atau dibangun ? Akad Salam atau Istishna’ bisa tidak syah bila spesifikasi produk Anda belum jelas –  karena belum tentu bisa Anda buat/produksi atau bangun saat itu !.

Asusmsinya lagi perjalanan usaha Anda mulus, produksi sudah banyak, perusahaan-pun sudah menguntungkan, tetapi Anda ingin membesarkan usaha Anda lagi untuk bisa menjadi perusahaan berkelas internasional misalnya. Maka saat itu lebih banyak lagi opsi permodalan bagi usaha Anda.

Selain opsi Mudharabah yang terus memungkinkan untuk dilakukan dengan aman karena perusahaan sudah lebih stabil dan profitable, saat itu perusahaan Anda bisa membuat aksi korporasi yang besar seperti menjadi perusahaan Public atau mengeluarkan Sukuk.

Pemegang saham Public mirip dengan pemegang Sukuk Anda, yaitu melibatkan masyarakat awam yang bisa jadi tidak tahu menahu tentang usaha Anda. Masyarakat awam ini juga yang paling perlu dilindungi dari resiko usaha yang tidak diketahuinya. Oleh sebab itu solusi Public atau Sukuk hanya dianjurkan saat perusahaan Anda sudah memiliki track record yang baik dan sudah jelas bisa mendatangkan keuntungan sebelumnya, bukan berarti tidak bisa rugi – tetap bisa – tetapi resikonya harus sudah diminimalisir.

Semua solusi permodalan dalam setiap tahap perkembangan usaha tersebut di atas sudah ada fatwanya dari Dewan Syariah nasional – MUI,  jadi insyaAllah akan aman secara syar’i untuk mengembangkan usaha Anda dari skala mikro sampai perusahaan skala global sekalipun.

Namun khusus untuk solusi Go Public – perlu dilakukan secara hati-hati karena ketika Public yang memiliki saham Anda – mereka bisa ikut menyetir arah usaha Anda ketika jumlah saham mereka significant. Solusinya adalah bila usaha Anda memang baik dan profitable, Anda bisa edukasi umat untuk rame-rame ikut membeli saham Anda. Insyaallah perusahaan Anda lebih aman dari potensi hostile take-over (pengambil alihan paksa) dan Andapun dapat berbagi kemakmuran dengan umat.

Solusi lain adalah menggunakan jalur Sukuk, bisa Sukuk Mudharabah, Sukuk Ijarah ataupun lainnya. Sukuk ini sangat berpotensi sehingga juga dilirik oleh pengusaha non muslim dan bahkan juga diminati negara-negara yang penduduk mayoritasnya bukan Muslim.

Bila ada solusi syar’i nan indah – meskipun mungkin tidak mudah, mengapa bukan solusi yang semacam ini yang kita elaborasi untuk membangun usaha-usaha muslim dari kelas mikro sampai kelas globalnya ?.

Solusi semacam inilah yang insyaAllah kita akan coba pecahkan di forum-forum Rumah Hikmah dengan melibatkan sejumlah ahli dan praktisi dalam bidangnya masing-masing. Sebagai solusi permodalan untuk project keumatan yang akan dijadikan contoh kasus bagaimana kita bisa bersinergi dalam ilmu dan amal itu, insyaAllah sangat banyak hal lain yang akan bisa kita perbuat bersama bila kita bisa benar benar bersinergi.

Momentum ini kita maknai hijrah dari segala bentuk permodalan yang ribawi spekulatif ke permodalan yang full syar'i , ini hanyalah bagian kecil atau contoh bagaimana kita bisa berhijrah dari berjuang sendiri-sendiri menjadi berjuang secara synergi dalam ilmu dan amal.  InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan