Ternyata kekuatan suatu Negeri ada di Desa.


Sekitar 10 tahun lalu negeri dingin Iceland – negeri nelayan yang penduduknya hanya sekitar 300,000 jiwa tiba-tiba berubah menjadi industri keuangan yang luar biasa. Bank-bank dan industri keuangan non-banknya ujug-ujug tumbuh pesat, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tenaga professional keuangan-nya para nelayan-pun tiba-tiba pada beralih profesi menjadi ahli keuangan. Tetapi ini tidak berlangsung lama, setelah 5 tahun berlalu mereka terpaksa kembali menekuni pekerjaan lamanya sebagi nelayan.

Krisis financial global 2008 mengakhiri mimpi Iceland untuk menjadi negeri financial berskala dunia, saat berakhir itu negeri tersebut bangkrut secara teknis dengan total hutang sekitar 8.5 kali GDP-nya. Apa yang sebenarnya terjadi ?

Michael Lewis – seorang penulis buku-buku keuangan best seller menggambarkan kehancuran industri keuangan dadakan Iceland dengan cara yang mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Terjemahan bebasnya kurang lebih begini : "Anda punya seekor kucing dan saya memiliki seekor anjing, berdua kita sepakat harga kucing Anda adalah US$ 1 Milyar dan demikian pula harga Anjing saya juga US$ 1 Milyar. Saya beli kucing Anda US$ 1 Milyar, Anda beli Anjing saya US$ 1 Milyar. Berdua kini kita memiliki aset masing-masing US$ 1 Milyar".

Demikianlah bank dan industri keuangan mereka menggelembungkan asetnya dari awang-awang, tanpa didukung aset riil yang memiliki nilai atau potensi pendapatan yang sesungguhnya. Ketika masanya salah satu dari mereka terpaksa harus melikwidasi asetnya – karena krisis, tentu saja aset yang mereka miliki tidak seberapa nilainya – lha wong asalnya hanya 'kucing dan anjing' ! Begitu yang satu bangkrut karena ketahuan liability-nya melebihi asset-nya, maka effect domino-pun terjadi dan seluruh industri keuangan Iceland collapse. Para professional keuangan-nya-pun harus kembali ke profesi para nenek-moyang mereka yaitu menjadi nelayan dengan mencari ikan di laut Norwegia !

Pola bangkit dan bangkrutnya Iceland sebenarnya adalah model bagi industri keuangan dunia secara keseluruhan. Bedanya adalah negara-negara lain umumnya jauh lebih besar dari Iceland – sehingga lebih kuat bertahan ketika dihantam krisis. Namun mampu bertahan tidak berarti mampu mempertahankan kemakmuran yang sesungguhnya. Aset-aset berupa kertas yang membubung tinggi jauh melebihi aset riil – pasti suatu saat membawa korban. Pertanyaannya adalah siapa korban yang sesungguhnya ?

Ya Anda-Anda yang mengandalkan asset keuangan berupa deposito, reksadana, dana pensiun, asuransi dlsb. Bukan berarti pengelola dana-dana Anda tersebut akan bangkrut, tetapi karena efek lingkaran setan penggelembungan aset seperti dalam transaksi kucing dan anjing tersebut diatas – akan berdampak pada nilai atau daya beli riil dari aset-aset kertas Anda.

Itulah sebabnya sekitar 9 dari 10 pekerja tidak siap ketika masa pensiun tiba, karena tabungan hasil jerih payahnya bekerja selama puluhan tahun tergerus nilainya secara gradual oleh inflasi – dan dari waktu ke waktu dipercepat turunnya secara drastis dengan krisis demi krisis seperti yang kita alami di tahun 1997-1998 dan di alami dunia antara 2008-2010 yang membawa korban antara lain Iceland tersebut di atas.

Lantas bagaimana kita bisa melepaskan diri dari proses wealth destruction (penghancuran kemakmuran ) ini ? Sama juga dengan yang dialami oleh para nelayan Iceland yang sempat menjadi para ahli keuangan, yaitu kembali menekuni profesi nenek moyang kita. Bagi kita yang tidak terbiasa ke laut, ya kembali ke desa dengan bertani, berkebun, beternak dlsb.

Mengapa ke desa ? Karena di desa aset umumnya berupa aset riil yang nilainya intrinsik, kambing ya seharga kambing, kebun ya seharga kebun. Tidak ada krisis yang bisa menghancurkan nilai aset di desa-desa. Selain aset riil bernilai intrinsik, aset-aset ini juga memberikan hasil yang nyata untuk memenuhi kebutuhan utama kita – tanpa harus menurunkan nilai aset itu sendiri. Jadi aset-aset tersebut benar-benar secara produktif bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita, sementara nilai asetnya sendiri juga tumbuh.

Bila demikian unggul aset-aset di desa, mengapa mereka rata-rata  terkesan miskin ?

Pertama  sebenarnya mereka tidak (lebih) miskin. Bisa jadi mereka tidak memiliki uang (aset berupa kertas) tetapi aset riil rata-rata mereka punya. Rasio kepemilikan rumah misalnya jauh lebih tinggi di desa ketimbang masyarakat perkotaan.

Kedua karena brain drain dari desa ke kota, orang-orang yang pinter yang seharusnya bisa membangun desa pada rame-rame ke kota. Desanya tidak terbangun, sementara di kota terjadi persaingan yang sangat ketat sehingga juga hanya sedikit yang bisa bener-bener sukses.

Lebih dari itu, solusi dari masalah-masalah perkotaan kita kini bisa jadi justru adanya di desa Sekarang harga daging sapi sangat mahal dan supply-nyapun harus diimpor, demikian pula dengan bawang dan cabe. Bukankah ini bisa diatasi bila desa-desa kita beternak dan bertani komoditi-komoditi utama dengan cukup ?

Kemacetan yang semakin menjadi-jadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia, bukankah akan teratasi dengan sendirinya bila terjadi arus balik orang kembali ke desa ? Bisa jadi selama ini kita mencari solusi di tempat yang salah, solusi berbasis kapitalisme dan impor – yang dalam jangka panjang justru bisa menyengsarakan rakyat sendiri. Padahal solusi yang sesungguhnya itu ada di depan mata kita, berupa petunjuk Ilahi dan potensi yang ada di desa-desa kita sendiri.
Wallahu A'lam.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan