Rumah Hikmah

Rumah Hikmah: membangun kemakmuran umat melalui sharing belajar bersama berbagi Ilmu dan Amal dalam ber-bisnis mandiri melalui kantor di rumah sendiri sampai memiliki bisnis mandiri mancanegara Eksportir Indonesia.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-856-111-1819

Eksportir Indonesia

Membangun bisnis mandiri skala International Eksportir Indonesia bersama pe-bisnis Korea, China dan Malaysia. Seharusnya kita mampu menjadi pemenang dengan memaksimalkan potensi alam yang kita miliki disertai dengan ilmu pengetahuan.

Dinar Islam

Membangun pondasi perekonomian keluarga islami berdasarkan Al Qur'an dan As Sunah. Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Membangun Kemakmuran Umat

Saatnya kita membangun (kembali) kemakmuran umat yang sebenarnya memiliki Sumber Daya Alam yang kaya akan tetapi terjajah oleh kurangnya iman, ilmu pengetahuan dan amalan.

Bersama kita bisa...!!!

Saling berbagi pengalaman, kemampuan yang dimiliki masing-masing individu dan berbagi ilmu pengetahuan, kita bersama-sama membangun (kembali) kemakmuran umat dengan kekayaan potensi alam yang kita miliki..

Belajar dari Krisis Keuangan Dunia

Meskipun dampaknya yang sangat luas melanda seluruh dunia, nampaknya sangat sedikit orang yang memahami apa dan bagaimana krisis ini, dari mana dia berasal, apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya dst. Karena sedikit yang paham, maka lebih sedikit lagi yang bisa mengambil pelajaran.

Belajar dari Krisis Keuangan Dunia
Belajar dari Krisis Keuangan Dunia
Agar kita bisa mengambil pelajaran, marilah kita menjadi golongan yang sedikit tersebut dengan mencoba memahami krisis ini. Kita coba menuliskan dengan lebih sederhana berupa point-point pentingnya saja sebagai berikut :
  • Krisis ini bermula di Amerika Serikat; penyebab awalnya adalah tindakan bank sentral mereka the Fed yang berusaha memulihkan ekonomi paska peristiwa WTC 9/11 dengan cara menurunkan suku bunga secra terus menerus.
  • Rendahnya suku bunga memicu keluarga-keluarga di Amerika keranjingan meng-‘gadaikan’- rumahnya, menjadikan rumah-rumah mereka sumber duit untuk keperluan yang nggak terlalu penting sekalipun.
  • Karena maraknya permintaan kredit perumahan ini, maka lahirlah opportunis-opportunis baru seperti Quick Loan Funding yang memberikan kredit bahkan ke orang-orang yang tidak layak menerima kredit, atau seperti Ownit yang memberikan kredit perumahan sampai 100% - tanpa pengaman uang muka !.
  • Kredit atau pinjaman ke orang yang tidak seharusnya menerima yang kemudian disebut Sub-prime borrowers, inilah yang kemudian memicu gelombang krisis yang sangat besar dan luas dampaknya.
  • Penyebar luasan kredit buruk ini difasilitasi oleh pasar modal kebanggaan Amerika – Wall Street – yang mem-package investasi-investasi ‘sub-prime’ menjadi seolah investasi yang menjanjikan. Investor diseluruh dunia membeli investasi buruk ini hanya karena melihat ini berasal dari Wall Street di Amerika – yang mereka selalu banyangkan sebagai ‘gurunya’ investasi.
  • Situasi ini diperburuk dengan munculnya product-product dengan nama canggih seperti Collateralized Debt Obligations (CDOs) yang tidak hanya tidak dipahami oleh orang awam, tetapi gurunya bank sentral sekaliber Alan Greenspan – pun mengaku tidak memahami produk ini .
  • Bukan hanya perorangan, atau investor tanggung yang membeli produk-produk investasi buruk tersebut. Bahkan institusi pemerintah-pun ikut-ikutan membeli.
Di Norwegia misalnya ada pemerintah kota Narvik yang kesulitan keuangan gara-gara investasi di Wall Street terutama pada CDOs. Padahal niat investasi mereka tadinya untuk meningkatkan pendapatan pemerintah kota yang pas-pasan. Alih-alih mendapatkan tambahan pendapatan, mereka malah kesulitan keuangan dan harus menutup sekolahan dan layanan untuk panti jompo.

Karena banyaknya kredit yang macet, bank-bank mulai terkena dampaknya . Kepercayaan antar  mereka menurun, pinjaman antar bank berkurang dan akhirnya likuiditas-pun menghilang dari pasar.

Ketika pemerintah-pemerintah dunia menyedari krisis ini telah terjadi dan telah menyeret sendi-sendi ekonomi secara luas, mereka mengambil berbagai langkah darurat. Namun sayangnya langkah-langkah yang mereka tempuh justru banyak yang akan menimbulkan potensi krisis jangka panjang – misalnya melalui penghancuran nilai mata uang melelaui program quantitative easing mereka.

Lantas apa pelajarannya dari krisis tersebut ? banyak, diantaranya :
  • Jangan membangun ekonomi berbasis Riba; karena riba-lah yang mendorong institusi keuangan mencari untung dari bunga yang harus dipikul oleh orang-orang yang sebenarnya tidak mampu sekalipun.
  • Jangan berhutang kecuali untuk hal-hal yang memang sangat dharurat. Berhutang, apalagi yang ribawi untuk keperluan yang tidak terpaksa – akan menjerat pelakukanya dalam lilitan hutang – yang kita diajarkan untuk berlindung darinya pagi dan petang.
  • Bagi otoritas moneter, jangan menggunakan instrumen bunga (riba) untuk men-stimulir pertumbuhan ekonomi – pasti gagalnya (karena dimusuhi Allah dan RasulNya – QS 2 : 275-279)
  • Untuk para investor, jangan investasi pada produk yang sulit dipahami. Investasikanlah pada hal-hal riil yang Anda mudah memahaminya.

Wallahu A’lam.

http://goo.gl/VWPbo
www.rumah-dinar.com
http://goo.gl/Z7cXE
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal

Seribu empat ratus tahun lebih sebelum manusia modern mencemaskan tiga kelangkaan yang disebut FEW (Food, Energy and Water) atau makanan, energi dan air, Uswatun Hasanah kita telah memberikan solusinya untuk umat ini dalam sabda beliau : “Orang-orang muslim itu ber-syirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745).

Hadits di atas menguatkan keyakinan kita akan kebenaran tuntunan agama ini, sebagai agama akhir jaman – dimana kita tidak akan pernah tersesat selamanya selama kita berpegang pada dua pegangannya yaitu Al-Qur’an dan Al Hadits.

Di dunia yang semakin kapitalis, sumber-sumber kehidupan seperti lahan, air dan api (selanjutnya saya sebut energi) diperebutkan oleh kelompok-kelompok manusia dengan serakahnya. Yang kuat tentu menjadi pemenangnya, menyisakan mayoritas manusia dalam kekurangan.

Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal
Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal
Padang rumput yang mewakili lahan produksi, kini tinggal segelintir orang saja yang masih menguasainya – bahkan menguasainya secara berlebihan. Ada keluarga yang menguasai lahan begitu luasnya sehingga mampu membuat tiga kotanya sendiri di seputar Jakarta. Bahkan pernah ada di negeri ini kelompok usaha yang menguasai hak pengelolaan hutan seluas kerajaan Inggris !

Yang lainnya bagaimana ?, mayoritasnya berjuang dengan kerja keras hanya untuk bisa menguasai lahan beberapa puluh atau ratus m2 untuk rumahnya – inipun banyak yang tidak terjangkau. Kepemilikan lahan pertanian yang waktu dahulu masih di kisaran 0.25 ha/keluarga, konon kini tinggal sekitar 0.10 ha/keluarga karena telah dipecah-pecah menjadi bagian anak-anak dari pemilik sebelumnya (waris).

Air bersih yang dahulu mudah kita ambil sendiri dari sumur-sumur kita, kini selain jumlahnya yang menyusut – pencemaran dan intrusi air laut telah membuat air tanah dari sebagian besar kota tidak lagi layak minum. Penduduk yang kaya di perkotaan masih bisa membeli air dengan relatif murah dari PDAM setempat, ironinya justru penduduk miskinnya membayar air dengan harga lebih mahal melalui jerigen-jerigen yang dijajakan dalam kereta dorong tukang air. Bahkan untuk minuman-pun kita semua bersedia membayar dengan harga yang mahal melebihi harga bensin.

Api atau energi yang mestinya tersedia cukup untuk semua orang, kembali hanya yang mampu yang punya pilihan. Ketika pemerintah pusing dengan subsidinya, yang mampu tetap bisa membeli bahan bakar non subsidi atau bahkan bahan bakar yang dijajakan oleh pompa-pompa bensin asing.

Lha yang miskin bagaimana ?, mereka dahulu terbiasa membeli minyak tanah secara eceran satu - dua liter atau bahkan kurang dari satu liter – karena penghasilan mereka hari itu harus dibagi-bagi sebagian untuk beras, sebagian untuk minyak sebagai bahan bakar untuk memasaknya. Kini untuk mampu membeli gas 3 literan-pun mereka harus menabung dahulu dari penghasilannya beberapa hari.

Gejala kelangkaan pangan, energi dan air itu begitu nyata dan akan semakin parah dampaknya pada generasi-generasi yang akan datang kecuali bila kita bisa mulai berbuat membalik arahnya pada generasi ini.

Dengan apa kita bisa berbuat ini ? bukan dengan revolusi, redistribusi aset atau istilah-istilah lain yang  menyeramkan bagi sebagian orang. Kita bermain sesuai dengan jamannya, dengan bahasa kaumnya !, bila lahan-lahan yang luas itu hanya bisa diselamatkan dengan membelinya – maka marilah kita rame-rame yang mampu membelinya.

Setelah lahan-lahan luas tersebut berhasil kita kuasai rame-rame, maka kita akan bisa menerapkan kembali konsep yang diungkapkan dalam hadits tersebut di atas. Kita bisa bersyirkah dalam pengelolaan lahan produksi, energi dan air.

Itulah sejatinya latar belakang pemikiran Pengelolaan Lahan Pertanian dan Peternakan bersama dengan mengkonservasi lahan-lahan tidak produktif (tandus) menjadi lahan produktif (subur) dengan Ilmu dan Amalan, agar rame-rame umat ini dapat kembali mengelola lahan. Setelah disuburkan, dimakmurkan bersama untuk produksi pangan – sehingga tidak melanggengkan ketergantungan pada produksi bahan pangan impor. Untuk produksi energi, sehingga yang miskin-pun bisa punya pilihan energinya – produksi bioethanol misalnya akan memungkinkan untuk tujuan ini. Untuk memperbaiki cadangan air dalam tanah – sehingga mengamankan kebutuhan air untuk anak cucu, tanaman-tanaman jangka panjang akan bisa menjadi sarana untuk ini.

Solusi untuk segala macam persoalan kita itu sudah ada di grand design-Nya yang sempurna, yaitu Al-Qur’an dan sunah RasulNya – kita hanya tinggal terus menggali dari keduanya agar tidak pernah tersesat selamanya – InsyaAllah.

http://goo.gl/ibpkN
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/2bFuE
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Investasi yang Islami, prinsip 1/3 Rule

Di dunia personal finance dikenal apa yang disebut 70/30 rule, yaitu bila Anda mampu mengkonsumsi hanya 70 % dari pendapatan Anda dan sisanya 30 % ditabung – maka Anda akan memiliki hari tua yang baik. Orang-orang di negara maju pada umumnya lebih bisa mengimplementasikan rule ini karena pendapatannya memang cukup, di negara-negara yang sedang berkembang seperti kita – rule ini masih sulit diterapkan oleh setidaknya dua sebab.

Penyebab pertama adalah pseudo-wealth euphoria atau eforia kemakmuran semu, ini terjadi di seluruh tingkatan ekonomi masyarakat. Seorang pekerja rumah tangga yang baru datang dari kampung dan mulai bekerja di Jakarta, begitu merasa mendapatkan penghasilan cukup – yang dibeli pertama adalah handphone. Sepertiga penghasilannya untuk mencicil handphone dan sepertiga lagi dihabiskan untuk membeli pulsanya, maka sulit sekali terangkat kemakmurannya.

Fenomena yang tidak jauh berbeda adalah di kelompok menengahnya. Begitu mereka mendapatkan pekerjaan yang baik dan dengan pendapatan yang baik pula, mereka berlomba membeli mobil dengan nilai maksimal yang mereka bisa beli. Sampai-sampai perbankan dan lembaga pembiayaan-pun membuat aturan dalam kreditnya, yaitu nilai cicilan maksimal 1/3 dari gaji karyawan yang membeli mobil secara cicilan tersebut.

Mobil dan handphone sesungguhnya bukan hanya mengkonsumsi 1/3 pendapatan. Biaya untuk pemeliharaan, bahan bakar, asuransi dan perilaku konsumtif yang terbawa setelah orang membeli mobil untuk kelas menengah  atau handphone untuk kelas bawah – meskipun kelihatannya membuat pemiliknya menjadi makmur, sesungguhnya justru memiskinkan – inilah yang disebut kemakmuran semu itu.

Penyebab kedua adalah inflasi. Kalau toh 70/30 rule tersebut Anda terapkan dan Anda berhasil menyisihkan untuk ditabung 30% dari pendapatan Anda, dalam bentuk tabungan, deposito, asuransi dlsb. Tidak ada jaminan bahwa hari tua Anda akan makmur. Mengapa ?, karena tabungan Anda akan beradu cepat pertumbuhannya dengan angka inflasi.

Penyebab kedua ini berlaku di negara berkembang seperti kita maupun di negara-negara maju sekalipun, walhasil statistik di negara maju tidak jauh berbeda dengan statistik di negara berkembang bahwa kurang lebih 9 dari 10 pegawai tidak siap untuk pensiun pada waktunya.

Lantas apa solusi terbaik bagi kita ?, solusi terbaik itu datang dari contoh terbaik – uswatun hasanah, yang juga pernah saya tulis di situs ini empat tahun lalu. Kali ini saya akan perjelas dengan contoh aplikasinya.

Contoh ini saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin-nya Imam Nawawi, yang mebahas sebuah hadits panjang berikut :

Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- (yaitu nama yang dia dengar di awan tadi)”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”. (HR. Muslim).

Investasi yang Islami
Investasi yang Islami
Maka dengan hadits tersebut di atas ternyata 1/3 rule atau saya sebut prinsip 1/3 -lah yang lebih cocok untuk kita, bukan 70/30 rule. Bila kita mampu menerapkan prinsip 1/3 ini – yaitu 1/3 pendapatan kita konsumsi, 1/3 pendapatan untuk bersedeqah dan 1/3-nya lagi untuk investasi – maka insyaallah akan turun ‘hujan khusus’ untuk kita-kita.

1/3 yang kita investasikan akan memakmurkan kita dan orang lain di dunia ini, dan kombinasi dari 1/3 yang menciptakan lapangan kerja ini dengan 1/3 yang disedeqahkan insyaallah akan membawa keberkahan untuk bekal akhirat kita.

Teorikah ini ?, mungkinkah kita terapkan ?. Setiap kali saya membahas prinsip 1/3 ini, pertanyaan yang selalu muncul adalah – “bagaimana pak kita bisa hidup hanya dengan 1/3 ?, lha wong dengan 100%nya saja tidak cukup ?”.

Inilah yang memang harus dibudayakan, yang mengaku tidak cukup tersebut dia sesungguhnya mampu menggunakan uangnya untuk membeli handphone dan pulsanya. Mampu mengkridit motor dan membiayai operasinya, mampu mengkredit mobil beserta perawatan dan biaya operasinya dst.dst.

Maka bila prioritas itu diubah, pos biaya yang konsumtif yang tidak perlu-perlu benar dipindahkan sebagian untuk sedekah dan sebagian untuk investasi produktif –insyaAllah prinsip 1/3 tersebut bisa dijalankan oleh siapapun yang mampu membeli handphone, mengkredit motor atau mobil.

Hari-hari ini saya sedang berbicara intensif dengan rekan-rekan di perbankan. Bagaimana kalau mereka secara bertahap mengurangi kredit konsumsinya dan menggantinya dengan pembiayaan usaha yang produktif. Program seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang berbiaya rendah dan jaminan juga rendah – bisa diperluas targetnya.

Bila selama ini KUR diarahkan untuk para pemilik usaha yang sudah jalan dengan SIUP, TDP dlsb, bagaimana kalau pembiayaan KUR ini berlaku juga untuk menggiring para pegawai yang ancang-ancang untuk pindah kwadran ?. Mereka belum punya usaha sendiri, jadi jelas belum punya SIUP, TDP dlsb. Tetapi mereka selama ini mampu membayar cicilan mobilnya yang berharga ratusan juta, mengapa tidak dengan cicilan untuk investasi produktif ?.

Pihak bank akan lebih aman karena selama pegawai tersebut masih bekerja – jaminan pembayaran itu datang dari penghasilannya. Begitu usahanya jalan, si pegawai benar-benar melompat ke kwadran entrepreneur – jaminan pengembalian itu datang dari hasil usahanya.

Lha siapa yang menjalankan usaha si pegawai selama mereka belum terjun sendiri ?, pihak bank bisa memilih dan mengawasi pihak-pihak professional sebagai mitranya untuk mengelola usaha si pegawai yang calon pengusaha itu.

Untuk industri pertanian/perkebunan misalnya, program Kepemilikan Kebun Produktif bisa menjadi arena pembelajaran yang menarik untuk semua pihak. Si pegawai calon pengusaha bisa belajar berkebun yang baik – sambil tetap bekerja sampai dia merasa comfortable untuk terjun dan mengelolanya sendiri.  Karena disamping penghasilannya dari bekerja, dia berpotensi mendapatkan penghasilan pula dari usahanya, maka dia insyaallah bisa lebih berkesempatan untuk bersedeqah yang 1/3 tersebut di atas. Untuk sementara waktu (5 tahun pertama) dari usaha berkebunnya dapat diserahkan ke kami untuk kami kelola bersama-sama dengan kebun lainnya.

Pihak bank bisa menyalurkan kredit produktif dengan aman – karena dikelola secara professional sejak kredit produktif tersebut keluar, aman pula pengembaliannya karena dijamin oleh penghasilan si pegawai awalnya dan baru setelah jelas hasilnya – dibayar dari hasil usaha yang di danai investasinya tersebut.

Bila skema ini berjalan secara massal, maka akan ada perubahan paradigma di masyarakat, yaitu yang selama ini rame-rame kredit motor, kredit mobil – akan berubah menjadi investasi produktif yang menciptakan lapangan kerja dan memakmurkan para pelakunya dunia akhirat – karena diterapkannya prinsip 1/3 dari hadits tersebut di atas. InsyaAllah.

http://goo.gl/xdbQW
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/PZOC6
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Musibah oleh Perbuatan Kita Sendiri

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). QS 42:30

Musibah oleh Perbuatan Kita Sendiri
Musibah oleh Perbuatan Kita Sendiri
Di kala dunia lagi sibuk mengatasi krisis ini, kita di Indonesia masih asyik berpesta pora menghabiskan dana yang nggak kehitung jumlahnya. Setelah pesta ‘demokrasi’ yang ini selesai lanjut lagi dengan pesta yang itu...!, jumlah yang kecewa akan berpuluh kali lipat dari yang bergembira.

Mengapa ?, karena setiap kursi yang diperebutkan mereka harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan kandidat lainnya. Padahal masing-masing kandidat telah menguras harta kekayaannya untuk kursi yang mereka perebutkan tersebut. Maka tepatlah langkah antisipatif yang dilakukan oleh rumah sakit- rumah sakit jiwa (RSJ) di berbagai daerah yang berbenah dan bersiap kebanjiran tamu dari para mantan calon anggota legislative ini.

Dua masalah yang berbeda ini saya gabung dalam satu tulisan karena diantara keduanya ada benang merah persamaannya. Yaitu mereka menciptakan musibah bagi diri (atau bangsa) mereka sendiri seperti ayat yang saya kutip di awal tulisan ini.

Para pemimpin dunia berusaha mengatasi problem yang dihadapi oleh ekonomi kapitalisme ribawi – padahal ekonomi yang ribawi ini sudah dijanjikan kehancurannya oleh Allah Ta’ala pencipta kita semua. (QS 2 : 276 & 279)

Para caleg yang sangat ingin (tetap) menjadi Anggota Legislative dengan mengeluarkan seluruh sumber daya yang dimilikinya, mudah-mudahan mereka sadar tentang apa tugas mereka setelah benar-benar terpilih.

Tugas utama anggota legislative adalah membuat undang-undang atau membuat hukum; padahal muslim yang membaca Al-Qur’an dan mengerti maknanya tentu tahu bahwa kalau kita berhukum kepada hukum selain hukum Allah – maka menurut Al-Qur’an kita dihukumi sebagai kafir (QS 5 :44) , dhalim (QS 5:45) dan fasik (QS 5:47). Kalau yang berhukum (yang menggunakan) saja dihukumi seperti ini, lantas apa hukumnya bagi orang yang membuat hukum diluar hukum Allah tersebut ?, lantas apa pula hukumnya bagi orang yang membantu (memilih) mereka untuk menjadi pembuat hukum selain hukum Allah ?. Biarlah pertanyaan ini jadi renungan kita masing-masing menjelang hari pemilihan minggu depan.

Nasihat kecil ini barangkali berguna bagi sebagian besar calon (karena sebagian besarnya tentu tidak akan kepilih); bersyukurlah Anda bila nanti tidak kepilih. Bisa jadi Allah Ta’ala sedang sayang kepada Anda sehingga Anda diselamatkan olehNya, bisa jadi pula kalau Anda kepilih malah membuat musibah untuk diri dan bangsa Anda sendiri. Buatlah kecewa RSJ-RSJ yang telah siap menerima Anda, karena Anda tidak kunjung datang, karena Anda bukannya stress malah bersyukur dan berbahagia dengan tidak menjadi anggota legislative. Berterima kasih pulalah Anda pada saudara-saudara Anda yang tidak memilih Anda, karena dengan demikian mereka telah ikut berpartisipasi menyelamatkan Anda dengan ijin Allah.

Lebih baik mencari rejeki yang banyak melalui "jalur perdagangan", kita investasikan modal kita melalui cara yang benar dan insyaAllah kita akan dapat memberikan upah yang banyak kepada orang-orang yang bekerja untuk kita yang juga akan menjadi amalan sodaqoh kita. Janganlah kita berinvestasi modal besar untuk mendapatkan keuntungan yang besar melalui "jalur pengabdian", dimana kita bekerja untuk menerima upah. Kondisi inilah yang menyebabkan maraknya korupsi dimana-mana.

Hidup ini pilihan, bila Anda memilih sebagai hamba abdi atau penerima upah, Anda adalah follower (pengikut) dari yang memberikan upah untuk Anda, pemberi upah tersebut bisa para pedagang/pengusaha atau rakyat/negara. Sadarlah bahwa Anda harus bekerja dengan ikhlas sesuai dengan komitmen tanggung jawab dan upah yang Anda terima, Janganlah berharap terlalu tinggi yang mengakibatkan musibah untuk diri Anda.

Bila Anda memilih sebagai pedagang/pengusaha, Anda adalah leader (pemimpin) yang insyaAllah akan memakmurkan umat dari jalur produksi dan  perdagangan dari hasil investasi modal dan waktu yang dapat menggerakkan stimulus perekonomian negara dan memberikan upah kepada para pekerja yang mengikuti (follower) Anda. Berharaplah setinggi mungkin kepada Allah SWT, karena Andalah pendekar-pendekar kemakmuran umat yang telah bersedia menjadi penggerak roda perekonomian negara.

Wallahu A’lam.

http://goo.gl/rHXYf
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Tugas kita untuk memakmurkan Bumi dan Umat

“…. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS 11:61) 
Bisa kita amati bumi Jawa Barat (dan Indonesia umumnya) yang sebenarnya subur namun terkesan gersang bila kita lihat melalui perjalanan darat sepanjang jalan Tol Cipularang, ini tidak terlepas dari paradigma menguasai – namun tidak memakmurkan.

Tugas kita untuk memakmurkan Bumi dan Umat
Tugas kita untuk memakmurkan Bumi dan Umat
Pemilik-pemilik tanah di sepanjang Tol tersebut baik itu perorangan, perusahaan swasta maupun BUMN telah menjadi penguasa atau pemilik tanah-tanah tersebut padahal mereka tidak mau atau tidak mampu memakmurkannya. Hasilnya sepanjang jalan yang kita lihat adalah kegersangan.

Memakmurkan tanah yang utama adalah menanaminya, oleh karena itulah ada beberapa hadits yang mendorong kita untuk menanam ini. Diantaranya yang mashur adalah hadits : “Tak ada bagi seorang muslim yang menanam tanaman atau membuka persawahan kemudian ada burung, atau manusia atau hewan ternak memakannya, kecuali baginya itu sedeqah” HR. Bukhari dan Muslim.

Bahkan pemilik tanah yang tidak mampu atau tidak mau memakmurkan tanahnya lebih dari tiga tahun, dalam Islam sebenarnya dia sudah tidak dianggap sebagai pemilik atas tanah tersebut sebagaimana hadits berikut ; “Tanah-tanah lama yang pernah ditinggalkan maka menjadi milik Allah dan RasulNya, kemudian untuk kalian sesudah masa tersebut. Barang siapa yang membuka lahan (tanah) baru, maka tanah itu menjadi miliknya dan tidak memiliki hak lagi apabila selama tiga tahun diabaikannya”.

Jadi tugas kita sebenarnya bukan menjadi penguasa, penguasa tunggal hanyalah Allah semata: “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? …”( QS 2:107). Tugas kita adalah menjadi pemakmur bumi ini !.

Tugas menjadi pemakmur bumi yang diamanatkan ke kita semua seperti ayat tersebut diatas, selama ini memang belum menjadi perhatian serius di negeri ini. Tidak ada lomba besar-besaran dengan dana trilyunan untuk ini, tidak seperti perlombaan untuk menjadi penguasa yang digelar secara besar-besaran setiap lima tahun (PEMILU). Bahkan bagi yang sudah serius pingin memakmurkan bumi dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya-pun sampai sekarang masih harus berjuang keras untuk memperoleh lahan yang siap untuk  di tanami.

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan kekuatan dan kemampuan untuk dapat memakmurkan bumi dan umat, Amin Allahuma Amin.

http://goo.gl/ilGku
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/2OPpF
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Membuat perencanaan Usaha Mandiri

Entrepreneur itu bisa belajar dari siapa saja, bahkan bisa belajar dari seorang petinju seperti Mike Tyson sekalipun. Melalui ucapannya yang terkenal “semua orang bisa ber-strategi, tetapi ketika pukulan lawan mengenai muka Anda – baru Anda tahu apakah strategi Anda bekerja atau tidak” – dia memberi pelajaran bagi para (calon) entrepreneur bahwa strategi saja tidak cukup. Karena realita ini pulalah kini mulai terjadi perubahan pendekatan dalam memulai usaha, dari yang beresiko tinggi ke arah yang beresiko relatif lebih rendah.

Ironinya resiko tinggi itu bisa jadi ketika usaha dimulai dengan menyiapkan business plan yang sangat detil, dikumpulkan modalnya yang besar untuk memulainya - kemudian baru diimplementasikan. Contoh kasus kegagalan fenomenal yang sering dijadikan case study di sekolah-sekolah bisnis adalah kegagalan proyek telephone satelit Iridium – yang sebelum  mengajukan proses kebangkrutannya tahun 1999 – telah menghabiskan dana US$ 5 Milyar.

Lantas bagaimana usaha bisa bermula bila tanpa perencanaan yang detil ? jawabannya adalah memulai dengan ber-hipotesa, kemudian bergerak membuktikan hipotesa tersebut. Secara teknis kurang lebih dapat dilihat pada ilustrasi di bawah :

Source : Harvard Business Review (05/2013)

Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Pendekatan yang kemudian disebut Lean Startup ini menggunakan filosofi yang sama dengan Lean Manufacturing yang mulai berkembang di Jepang tahun 1980-an yang disebut Kanban. Intinya adalah mulai dari yang benar-benar dibutuhkan.

Aplikasinya di industri manufacturing adalah dengan antara lain bahan baku yang pas cukup untuk produksi pada waktunya, mendeteksi kesalahan/cacat produksi sedini mungkin – dan ketika menjadi produk juga langsung didistribusikan ke pasar.

Aplikasinya di usaha baru adalah mulai dengan hipotesa siapa (calon) customer Anda, apa kebutuhannya, berapa banyak dlsb. Kemudian hipotesa ini divalidasi dengan produk yang Anda duga dibutuhkan oleh (calon) customer tersebut. Belum tentu dugaan Anda betul, dan ini hanya akan diketahui setelah produk-produk awal tersebut Anda coba jual ke para (calon) customer tersebut.

Sangat bisa jadi produk-produk tersebut akan mengalami penajaman berulang kali sampai ketemu produk yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh customer Anda.

Hanya setelah produk final ini bisa bener-bener diterima pasar Anda, Anda bisa mulai memproduksinya secara massal, membangun portfolio customer dan membangun usaha Anda dalam skala penuh lengkap dengan berbagai divisi penunjangnya.

Mengapa cara ini beresiko lebih rendah ?, karena kegagalan-kegagalan produk akan terdeteksi di awal sebelum Anda terlanjur keluar banyak dana modal. Ketika Anda putuskan membangun usaha-pun, produk-produk Anda (bisa barang maupun jasa) telah melalui serangkaian penajaman-penajaman.

Bagaimana bila untuk membuat produk awal-pun dibutuhkan modal yang besar seperti pabrik untuk memproduksinya, atau team IT untuk mengembangkan software aplikasi dlsb ?.

Produk-produk awal untuk proses pencarian customer dan penajamannya ini tidak harus produk dalam bentuk full scale-nya. Cukup bagian utama yang mewakili produk itu, yang mencerminkan kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh produk yang bersangkutan. Produk awal ini disebut Minimum Viable Product (MVP) yaitu versi awal dari suatu produk yang cukup untuk memvalidasi hipotesa Anda tentang adanya suatu kebutuhan.

Lantas apakah aman membuat usaha tanpa perencanaan detil ?, tanpa perencanaan detil bukan berarti tanpa perencanaan sama sekali. Ada yang minimum perlu Anda lakukan atau persiapkan sebelum memulai, yaitu membuat apa yang disebut Business Model Canvas – yaitu untuk menjawab 9 pertanyaan dasar ‘Business Model Building Block’.  Bentuknya kurang lebih seperti ilustrasi di bawah.

Membuat perencanaan Usaha Mandiri
Business Model Building Block
Jadi seperti yang dikatakan Mike Tyson tersebut di atas, intinya jangan terlalu sibuk dengan membuat strategi di atas kertas, tetapi sibuklah dengan melatih ketrampilan di lapangan – merespon dan memenuhi kebutuhan customer Anda !

http://goo.gl/JvNwv
www.kantor-di-rumah.com
http://goo.gl/mpSas
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Kandang composites untuk Peternakan

Karakter kandang-kandang futuristis berbasis composites ini mampu mengatasi hampir keseluruhan masalah perkandangan secara umum, antara lain adalah :
  • Penyiapan kandang (time to run) akan menjadi sangat cepat.
  • Kandang lebih higienis dibandingkan kandang kayu karena mudah dibersihkan dan tidak meninggalkan kuman, bakteri dlsb di pori pori seperti bila menggunakan kayu.
  • Pembuatan kandang tidak harus memotong pohon-pohon yang sudah semakin langka – eco friendly.
  • Life –cycle yang panjang insyallah diatas 30 tahun akan membuat nila ekonomis yang tinggi – karena penyusutan tahunan yang rendah.
  • Composites yang menyerap panas akan membuat kambing nyaman didalamnya, sehingga insyallah produktifitas kambing lebih tinggi.
  • Knock-Down System sehingga ekonomis untuk di install di tempat tertentu untuk kegunaan jangka pendek sekalipun (misalnya pada bulan haji untuk hewan Qurban) dan ekonomis untuk tanah yang disewa – karena bisa dipindah-pindahkan dengan cost  to reinstall yang rendah.
Kandang composites untuk Peternakan
Kandang composites untuk Peternakan
Dengan penyelesaian masalah secara unggul demikian, maka berbagai peluang baru untuk men-supply kandang sejenis ke para peternak di dalam dan luar negeri kini terbuka.  Bahkan permintaan membuat kajian kandang berbasis composites yang datang ke kami kini bukan hanya untuk kambing, tetapi juga untuk kandang ayam dan kandang sapi.

Kandang Composites Tampak Samping
Kandang Composites Tampak Samping
Peluang yang lahir bersamaan dengan proses penyelesaian masalah inilah salah satu tafsir yang seharusnya bisa kita hayati kini dari ayat “Maka bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS 94 : 5 – 6). Sampai dua kali Allah menyampaikan pesan tersebut dalam ayat yang berurutan untuk menyangatkan – agar kita benar-benar paham !.

Masalah-demi masalah baru mungkin akan lahir dari setiap pekerjaan yang kita tangani kedepan; namun bila sudut pandang kita tetap sesuai ayat tesebut – maka berarti berbagai peluang baru juga akan terus bermunculan dengan timbulnya masalah. Ini pula yang nampaknya disemangati oleh ayat berikutnya “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

http://goo.gl/lr01p
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/5h4hb
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Solusi Pertanian untuk Presiden dan para Menteri-nya

Waktu krisis kedelai melanda negeri ini hampir sepuluh bulan lalu, saya ‘Bermimpi’  Pak Kyai diundang hadir di sidang kabinet untuk ikut mengatasinya. Maka ketika hari ini harian Kompas (21/05/13) mengangkat sebagai berita utamanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang semakin lebar di era reformasi yang sudah berjalan 15 tahun terakhir, saya kembali ‘bermimpi’ Pak Kyai diundang di sidang kabinet untuk membantu menyelesaikan masalah bangsa ini. Mengapa perlu Pak Kyai ?

Solusi Pertanian untuk Presiden dan para Menteri-nya
Solusi Pertanian untuk Presiden dan para Menteri-nya
Sidang kabinet kali ini fokusnya membahas laporan harian Kompas yang mengungkap pembengkakan gap antara si kaya dan si miskin yang diukur dengan index Gini.  Sebelum reformasi, index Gini itu berada pada angka 0.35, dan memasuki tahun ke 15 reformasi index Gini malah menjadi 0.41 (semakin besar – semakin lebar jurang si kaya dan si miskin itu).

Meningkatnya ketimpangan ini juga ditandai dengan meningkatnya jumlah pengangguran, sebelum era reformasi (1997) pengangguran itu 4.18 juta jiwa (4.68%) sedangkan 15 tahun era reformasi pengangguran malah menjadi 7.17 juta jiwa (5.92%).

Peningkatan pengangguran ini juga tidak terlepas dari meningkatnya ketergantungan kita pada produk-produk industri dan pertanian impor. Ini tercermin dari menurunnya kontribusi sektor industri kita yang turun dari 26.79 % (1997) menjadi tinggal 23.94% (2012). Demikian pula kontribusi sektor pertanian yang mengalami penurunan dari 16.09 % (2007) ke angka 14.44% (2012).

Maka dalam ‘mimpi’ saya kali ini setelah Pak Presiden mempersilahkan masing-masing menteri yang terkait menanggapi laporan Kompas tersebut, Pak Presiden berucap begini :

“Terima kasih tanggapan saudara-saudara para menteri yang terkait, saya yakin apa yang saudara telah sampaikan masing-masing didukung dengan data yang valid dan juga dengan argumentasi yang professional”. Kemudian beliau melanjutkan : “Namun realitanya bahwa pengangguran itu meningkat, kontribusi sektor produksi industri dan pertanian pada ekonomi keseluruhan menurun. Lantas bagaimana saudara-saudara bisa men-justify realita ini dengan data dan argumen saudara ?”.

Karena semua menteri pada diam, Pak Presiden kemudian berbicara lagi : “Dalam situasi seperti ini, kita butuh pemikiran yang out of the box. Pemikiran yang segar diluar data dan argumen yang biasa kita diskusikan di sidang seperti ini. Maka sama dengan yang kita tempuh 10 bulan lalu ketika menghadapi krisis kedelai, kali inipun saya mengundang Pak Kyai untuk hadir di sidang ini. Kita dengarkan pendapat beliau untuk masalah yang kita hadapi kali ini”. Kemudian Pak Presiden mempersilahkan Pak Kyai untuk menyampaikan pendapatnya.

Setelah menyampaikan syukur dan salam sebagai muqodimahnya, Pak Kyai-pun berucap : “Mohon maaf Bapak Presiden dan para menteri, setelah mendengarkan segala permasalahan yang didiskusikan tadi yang disertai data dan argumen para menteri – saya melihat secara bodon (cara orang bodoh memahami masalah), ada hal yang terlewat dari potensi besar ekonomi kita - yang terlupakan”. Mendengar perkataan Pak Kyai ini, para menteri mengkerutkan dahi dan Pak Presiden mendekat mejanya untuk meraih microphone kemudian bicara : “ maksud Pak Kyai Apa potensi besar ekonomi yang terlewatkan itu  ?”

Pak Kyai tahu banyak menteri yang kurang berkenan dengan pembukaannya, kemudian menjelaskan : “Sekali lagi mohon maaf sekali Bapak Presiden dan para menteri, saya sekedar urun rembug dari kaca mata orang bodoh seperti saya…”. Dia melanjutkan : “selama ini saya yakin bapak-bapak sudah bekerja jungkir balik siang dan malam untuk bangsa dan negeri ini, tetapi bila realitanya yang terungkap sebaliknya seperti data yang tersaji tadi – berarti ada yang salah dalam pola kerja kita.”

“Kita berusaha bersaing dengan negara-negara lain dalam bidang teknologi, jasa dan perdagangan – kita bersaing dengan kekuatan yang ada di mereka, maka tidak mengherankan kemenangan-pun ada di tangan mereka. Kita menjadi pengimpor produk-produk mereka”.  Pak Presiden kemudian memotong : “ Terus menurut Pak Kyai mestinya bagaimana ?”

Pak Kyai segera menjelaskan : “Tidak ada salahnya mengembangkan kekuatan teknologi, jasa dan perdagangan. Namun yang menjadi ujung tombak persaingan kita haruslah yang kita memang memiliki keunggulan utamanya. Kita harus bersaing dengan kekuatan yang ada di kita…”. 
“Menurut Pak Kyai apa yang kekuatannya ada di kita itu ?” Sela pak Presiden.

Pak Kyai-pun menjawab : “Kita dikarunia lahan-lahan subur yang sangat luas di antara dua lautan. Matahari sepanjang tahun dan air hujan-pun rata-rata turun tidak kurang dari separuh tahun. Gunung berapi dan sungai-sungai sangat banyak, semuanya dapat mendatangkan keberkahan tersendiri bagi ekonomi kita”. Jadi, lanjut Pak Kyai : “Bidang yang kekuatannya ada di kita itu mestinya adalah kehutanan, kelautan dan pertanian pada umumnya !”

Banyak menteri yang tentu saja meragukan pernyataan Pak Kyai ini, bahkan menteri-menteri yang terkait dengan kelautan, kehutanan dan pertanian pada umumnya-pun kurang PD (Percaya Diri) bila dianggap bidangnya yang seharusnya menjadi kekuatan itu.

Pak Kyai-pun sudah menduga dan menangkap keraguan itu. Maka dia melanjutkan penjelasannya : “Sekarang coba bapak-bapak bayangkan. Industri apa yang paling efisien itu semestinya ? dengan input yang sangat kecil tetapi memiliki output yang sangat besar bahkan cenderung tidak terhingga ?” Para menteri semakin tidak nyaman dengan teka-teki Pak Kyai ini, maka tidak ada seorang-pun menjawabnya.

Pak Kyai kemudian menjawabnya sendiri : “Industri yang paling efisien itu adalah kelautan, kehutanan dan pertanian. Kalau di industri software misalnya, programmer harus membuat program dari A sampai Z, harus diselesaikannya sendiri dan tidak boleh ada yang salah sedikit-pun. Di industri otomotif pabrikan harus menyediakan seluruh komponen dan kemudian teknisi harus merakitnya secara sempurna sebelum produk bisa dijual. Di industri kreatif, seorang artis harus menyelesaikan karyanya sendiri dari A sampai Z pula agar karyanya bernilai tinggi”.

Pak Kyai menarik nafas sambil melihat ke menteri-menteri yang terkait “Tetapi tidak dengan industri kelautan, kehutanan dan pertanian pada umumnya !. Di laut Anda tidak perlu tenaga kerja untuk menumbuhkan ikan-ikan yang kecil menjadi besar. Di hutan tidak butuh tenaga kerja untuk menumbuhkan bibit-bibit menjadi pohon-pohon besar. Di Pertanian Anda hanya perlu menaruh bibit, maka Allah-lah yang menumbuhkan dan membesarkannya dengan hasil berlipat-lipat”.

Para menteri-pun berebut meng-interupsi Pak Kyai. Salah satunya kemudian berbicara : “Tidak sepenuhnya benar Pak Kyai, Petani tidak bisa hanya menaruh benih kemudian tumbuh sendiri. Petani harus memupuknya dengan mahal, menyemprotnya dengan penyemprot hama yang mahal dlsb. walhasil pak tani-pun tidak memperoleh nilai tambah yang berlipat-lipat seperti kata Pak Kyai”.

Dengan wawasannya yang luas dan pribadinya yang tenang, Pak Kyai-pun menjawab interupsi Pak Menteri ini : “Disitulah masalahnya Pak Menteri, selama ini kita ini merusak bumi bukan memakmurkannya. Laut dicemari dan diambil ikannya- bahkan oleh orang lain- tanpa aturan sehingga sumber-sumber kekayaan laut itu terkuras sebelum bisa dinikmati. Hutan-hutan ditebang diganti tanaman monoculture hanya untuk kepentingan segelintir orang. Para petani dibiarkan mencari solusinya sendiri-sendiri dalam hal upayanya untuk meningkatkan hasil dan mencegah hama, mereka mengira pupuk-pupuk kimia, insektisida dan sejenisnya sebagi solusi – padahal dengan ini semua mereka merusak alam bukan memperbaikinya. Mereka bertani dengan cara yang mahal dengan hasil yang tidak seberapa”.

Bapak Presiden-pun berusaha menengahi argumen antara salah seorang menteri dengan Pak Kyai ini. Beliau kemudian menyampaikan : “kalau begitu solusi konkritnya bagaimana Pak Kyai”.

Pak Kyai menjelaskan: “Jiwanya harus memakmurkan bumi untuk sekarang dan masa depan yang jauh, bumi tidak boleh dirusak. Maka apa saja yang dimasukkan ke bumi sebagai pupuk atau yang disemprotkan diatasnya untuk mencegah hama harus berasal dari bumi itu sendiri – inilah yang dalam bahasa sekarang disebut organik, bukan bahan-bahan kimia olahan manusia yang memiliki dampak merusak dalam jangka panjang.”

Salah seorang menteri tetap penasaran dan menginterupsi lagi : “Organik itu selain mahal, hasilnya juga tidak seberapa. Kita tidak bisa mengandalkan produksi hasil pertanian kita pada yang organik. Pertanian organik ini – ideal, indah untuk diucapkan, tetapi sulit untk direalisasikan”.

Pak Kyai-pun menjelaskan : “Itulah bedanya Anda dengan saya Pak Menteri, Anda punya team ilmuwan dan birokrat yang yakin dengan ilmu dan pengalamannya. Maka ilmu dan pengalaman Anda atau team Anda yang membatasi keputusan yang Anda ambil. Dan kita tahu sudah hasilnya seperti data-data yang tersaji pada awal sidang ini”.

Lanjutnya : “Sedangkan saya, diundang Pak Presiden untuk hadir untuk memberi wawasan yang lain. Bukan Ilmu saya – karena saya orang bodoh, juga bukan ilmu dan pengalaman para santri saya – karena mereka anak-anak yang belum berpengalaman. Tetapi kami yakin dan terus berusahan meningkatkan keyakinan kami bahwa PetunjukNya itu jelas, komplit dan meliputi segala sesuatu.”

Pak Kyai kemudian membacakan beberapa ayat Al-Qur’an di antaranya Surat Al-Baqarah 185 dan An-Nahl 89, kemudian dia melanjutkan : “Begitu detilnya petunjuk itu, sehingga selalu saja ada ayat yang pas untuk di-taddabur-i bila Anda petani pada setiap tahap penanaman tanaman Anda misalnya.”

“Pada saat Anda menebar benih, baca dan dalami ayat “Innallaha faaliqul habbi wannawaa – sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhanan dan biji buah-buahan” (QS 6:95). Ketika tanaman mulai tumbuh baca dan dalami ayat : “Afaraaitum maa tahrutsuun, aantum tajraauunahuu am nahnuzzaari’un - Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (QS 56 : 63-64).

“Ketika melihat kebun sudah berhasil baik, maka baca dan dalami ayat : “…Masya Allah, La Quwwata Illaa Billah…” (QS 18 : 39). Ketika kebun gagal panen-pun baca dan dalami ayat : “…Subhaana Rabbinaa Innaa Kunnaa dhaalimiin” (QS 68:29)”. “Ketika hujan tidak turun-turun sehingga Anda tidak bisa bercocok tanam, beristigfarlah …(QS 70 :10-11)”

Akhirnya Pak Kyai menutup : “Intinya Bapak Presiden dan bapak-bapak para menteri, solusi itu hanya datang dari Allah, maka marilah kita hadirkan Allah dalam setiap urusan kita. Ketika kita menanam, ketika kita berhasil maupun kita gagal, ketika kita membangun ekonomi, membangun negara – dalam suka dan dukanya – kita tetap harus berusaha menghadirkanNya”.

Pak Presiden dan para menteri mengangguk, sambil tak lupa beliau berterima kasih ke Pak Kyai dan minta kesediaannya untuk bersedia hadir lagi bila negara membutuhkannya. Sampai disini saya terbangun dari ‘mimpi’ ini…

http://goo.gl/Q6Jrg
www.agribisnis-indonesia.com
http://goo.gl/MYv2o
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Penerapan Bioflok pada Budidaya Lele

Berbekal bimbingan praktisi bioflok di tambak udang, Amir dan komunitasnya mengadopsi sistem ini pada budidaya lele. Konversi pakan atau FCR bisa mencapai 0,8 hingga 0,7.

Kian sulitnya sumber air di wilayah Pekalongan Jawa Tengah, banyak kolam lele yang berhenti beroperasi. Saat musim kemarau, banyak pembudidaya yang kesulitan sumber air. “Misalkan, ada yang memakai pompa untuk menyedot sumber air, hanya setiap 2 – 5 menit air berhenti mengalir,” ujar pembudidaya lele asal Pekalongan, Muhammad Amir yang tergabung di Forum Komunikasi Mina Pantura (FKMP).

Penerapan Bioflok pada Budidaya Lele
Penerapan Bioflok pada Budidaya Lele
Mengatasi hal ini, salah satu caranya meminimalkan penggantian air. Amir dan pembudidaya lain menerapkan puasa pakan pelet seminggu sekali. “Harapannya, seperti manusia, ada proses detoksifikasi, peluruhan protein cacat, hingga pembaruan sel organ pencernaan, selain mengurangi limbah yang dihasilkan dari pakan dan kotoran lele,” tutur pria berusia 38 tahun ini.

Amir mengungkapkan, pembudidaya berusaha berinovasi sistem lain. Ditambah informasi yang dibagikan praktisi bioflok udang, salah satunya Suprapto yang berdomisili di Pacitan, Amir bersama pembudidaya di daerahnya mencoba sistem bioflok pada budidaya lele. Dengan bantuan dan bimbingan Suprapto, para pembudidaya mulai mencoba  sistem ini sejak 2010.

Hasilnya, setelah 2 tahun percobaan, FCR (Feed Convertion Ratio) atau konversi pakan menjadi lebih bagus, sehingga sistem ini dikembangkan. Yakni, rata-rata FCR bisa mencapai 0,8 hingga 0,7. Artinya, untuk 1 kg daging hanya membutuhkan 0,7 – 0,8 kg pakan. Beda dengan sistem konvensional dengan rata-rata FCR 1,1 hingga 1,2.

Pengaruhnya, efisiensi pakan dengan pertumbuhan cepat juga mempengaruhi pemberian pakan. “Contohnya, efisiensi pakan dimulai dari pemberian pakan, kita cuma 2 kali sehari. Sedangkan yang konvensional bisa mencapai 3 – 4 kali sehari,” tukas Amir.

Selain itu, lanjut Amir, dengan efisiensi pakan ini, pertumbuhan lele menjadi lebih cepat dan dari segi rasa juga berbeda. “Kita melihat empedu menjadi lebih bening, lever menjadi lebih besar, dagingnya memiliki lemak yang lebih sedikit. Warna daging lebih putih, tekstur pun menjadi lebih jelas dan rasa lebih gurih,” tambahnya.

Proses
Amir lalu merunutkan, dulunya proses yang dia jalankan berlangsung bertahap. Awalnya dia mencoba dulu di kolam sendiri. “Bentuk kolam persegi dengan ukuran 3x4x5m. Kita coba mulai dari kepadatan 500 ekor per m2, lalu 650 ekor per m2, dan sekarang 800 ekor per m2,” tambah Amir yang mengaku sudah memiliki kurang lebih 30 kolam.

Prinsip bioflok ini, yakni memanajemen air dengan intervensi bakteri, terutama dengan mengakali rasio keseimbangan unsur C (Carbon) dan N (Nitrogen), sehingga meminimalisir penggantian air di kolam. “Cara menjaga keseimbangan rasio itu dikonsepkan secara bertahap, yaitu mulai dari mengurangi limbah beracun (amonia, nitrit, H2S) dengan memanfaatkan mikroorganisme (bakteri dan yeast), hingga mendaur ulang Nitrogen anorganik yang bersifat racun menjadi protein sel tunggal,” jelas Amir.

Amir mencontohkan limbah yang dimaksud berasal dari sisa pakan, kotoran ikan, hingga plankton/jasad yang mati. “Misalnya saja, dari pemakaian pakan, hanya 30% yang terserap oleh ikan, sisanya menjadi kotoran yang akan berperan membentuk amonia, hingga nitrit tadi,” tambahnya.

Ia menambahkan, dengan pemakaian bioflok, ada penambahan bakteri/probiotik yang mampu memanfaatkan NH3 dari amoniak dan NH4 dan diambil untuk dijadikan protein sel. “Protein sel ini nanti diikat oleh polimer yang dihasilkan bakteri lain. Dengan adanya protein yang terikat, bakteri akan mengumpul dan menarik konsumen di atasnya, seperti rotifera hingga cacing. Dari sini, selain mendaur ulang nitrogen anorganik, sekaligus menjadi pakan alami,” imbuhnya.

Persyaratan bioflok ini, Amir menuturkan, rasio C dan N haruslah imbang. Misalkan C per N di suatu kolam hasilnya di bawah 12, maka akan terjadi nitrifikasi sehingga yang bekerja bakteri nitrifikasi. “Misalkan rasionya di atas 12, barulah yang bekerja bakteri sintesa protein dari bioflok. Hasilnya pun menjadi sangat baik. Jadi tujuannya agar rasio C dan N harus di atas 12,” ungkapnya.

Bapak dua orang anak ini menjelaskan pula, untuk menjaga keseimbangan rasio C dan N harus ditambahkan karbohidrat sebagai sumber energi untuk merangsang perkembangan bakteri heterotrof, serta menyerap mineral dalam air (termasuk amonia) untuk disintesis menjadi protein. Kasarnya prosesnya seperti ini:C-ORGANIK + NH3 + O2  --> PROTEIN MIKROBA + CO2

http://goo.gl/n7GNV
www.agribisnis-indonesia.com
www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Food, Energy & Water ( FEW )

Potensi kurma bisa menjadi solusi pangan dan pencegahan kelaparan dunia, begitu banyak sumber yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya – hingga tidak akan cukup bila ditulis semuanya di sini. Maka beberapa poin yang penting untuk diketahui masyarakat umum akan saya tulis lebih dahulu. Setelah tulisan sebelumnya tentang Menjadikan PetunjukNya (Al Quran) sebagai Panglima , tulisan kali ini adalah tentang bagaimana kurma bisa memberi solusi bukan hanya terhadap masalah pangan tetapi solusi pada tiga kebutuhan pokok bagi manusia sekaligus yaitu Food, Energy & Water (FEW).

Bahwasanya kurma bisa memberikan solusi pangan (Food) itu sudah sangat jelas, kandungan gizinya dlsb. yang bersifat detail akan saya tulis pada waktunya. Tetapi sebagai gambaran umum dari sisi nilai ekonomi, kemampuan kurma dalam memberikan solusi pangan ini relatif terhadap bahan pangan pokok lainnya dapat dilihat secara langsung dari perbandingan hasil per luasan lahan di samping.

Food, Water & Energy ( FEW )
Food, Water & Energy ( FEW )
Tabel tersebut adalah data yang dikumpulkan oleh Bapak Agus S Djamil. Jelas di sini bahwa kurma adalah produk pangan yang paling efisien di muka bumi.

Yang tidak bisa dibandingkan secara langsung sangat banyak. Misalnya dari sisi penghematan energi. Ketika makanan kita berasal dari beras, gandum dlsb. diperlukan begitu banyak energi mulai dari penanganan pasca panennya sampai pengolahannya di tingkat rumah tangga.

Dari tahun ketahun siapapun yang memimpin negeri ini pusing tujuh keliling memikirkan subsidi energi untuk rumah tangga. Apakah itu minyak tanah dahulu ataupun gas LPG 3 kg-an kini. Untuk apa ini semua ?, agar ibu-ibu bisa memasak makanannya sehari rata-rata tiga kali.

Bayangkan kalau sebagian saja dari makanan kita itu digantikan dengan kurma ? penurunan konsumsi energi rumah tangga akan sangat besar bagi negeri ini. Penurunan subsidi ini kemudian bisa dipakai untuk kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya seperti memberikan layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat, peningkatan kwalitas SDM dlsb.

Kontribusi kurma dari sisi energi bukan hanya pada penghematannya saja, tetapi juga pada supply-nya. Sumber energi dari pohon yang diindikasikan di dua ayat (QS 36 :80 dan  QS 56 : 71-72) itu sejalan dengan ilmu pengetahuan modern yang menyimpulkan energi (bio ethanol misalnya) bisa dihasilkan dari tanaman apapun yang mengandung salah satu dari tiga unsur yaitu serat, pati atau gula. Pohon kurma dapat menghasilkan ketiganya sekaligus !

Yang kemudian juga tidak kalah menariknya adalah kontribusi tanaman kurma dalam penghematan dan konservasi air baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Perhatikan apa yang kita makan sehari-hari, dari memasak nasi, membuat roti, sayur lodeh, rendang dlsb. betapa banyak air yang harus kita gunakan untuk memproduksi makanan kita.  Lagi-lagi kebutuhan air untuk memproses makanan ini menjadi tidak lagi perlu manakala kita menggunakan kurma sebagai bagian utama dari makanan kita.

Ketika masih ditanam-pun kurma menjadi tanaman yang sangat efisien untuk mempertahankan air tanah. Bahkan ada petunjuk kuat bahwa tanaman kurma yang pada umumnya berumur sangat panjang itu – bisa ratusan tahun, dapat menghadirkan mata air tersendiri di tempat tumbuhnya .

Pada umumnya ayat-ayat di Al-Qur’an yang bercerita tentang air yang turun dari langit kemudian tanaman tumbuh dari padanya, demikian pula tentang kurma. Tetapi setidaknya ada dua ayat yang menyebutkan sebaliknya, yaitu air didatangkan atau dipancarkan setelah ada pohon kurma.

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air” (QS 36 :34)

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS 19 : 23-24)

Dengan dua ayat tersebut di atas, pemahaman kita tentang oasis – mata air di pada pasir akan bisa berbeda. Pada umumnya orang beranggapan bahwa karena ada oasis kemudian kurma tumbuh di sekitarnya. Padahal bisa juga sebaliknya, karena ada sekumpulan pohon kurma yang hidup di suatu daerah dalam jangka panjang, mata air-pun kemudian muncul di tempat tersebut.

Artinya dengan tanaman pohon kurma yang nantinya insyaAllah kita tebarkan di Jakarta misalnya, khususnya di pantai utara Jakarta, bukan hanya Jakarta tidak jadi tenggelam karena keberadaan kurma akan menahan instrusi air laut - tetapi ketersediaan air tawar bersih bagi masyarakat Jakarta di generasi anak cucu kita – bisa jadi akan tertolong dengan banyaknya pohon-pohon kurma ini. Bandingkan ini misalnya dengan biaya yang sangat besar bila pemerintah DKI harus membuat dan merawat dam-dam penampungan air dalam jangka panjang.

Yang masih mengganjal di kita barangkali adalah keyakinan bahwa apakah benar kurma akan tumbuh dan berbuah di negeri ini ? untuk menjawab keraguan inilah melalui tulisan kami sebelumnya tersebut di atas – kita undang sukarelawan yang mau melakukan percobaan bersama kami untuk jangka yang panjang.

Upaya-upaya ini memang akan melelahkan dan merupakan perjalanan yang panjang, namun bayangkan reward-nya bagi masyarakat anak cucu kita puluhan atau bahkan ratusan tahun kedepan. Tiga kebutuhan pokok mereka - yang menjadi alasan perang bangsa-bangsa modern sampai jaman kita ini - yaitu Food, Energy and Water (FEW) dapat diatasi antara lain melalui kontribusi pohon kurma ini.

Ilmu kita belum cukup dan bahkan tidak akan pernah cukup, maka kita serahkan kepadaNya Yang Maha Mengetahui dan Maha Perkasa untuk menuntun kita pada jalan dan petunjukNya. Agar kurma-kurma yang kita tanam berbuah dan mendatangkan keberkahan, agar bumi mengeluarkan rezeki yang masih tersimpan di dalamnya dan agar langit menurunkan rezeki yang masih tertahan di atasnya.

“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (14:25)

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (57:4)

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:


Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan