Mengatasi kebutuhan Energi di Negeri ini.


Didalam pengelolaan kebutuhan bahan bakar yang kita rasakan dalam beberapa dekade belakangan ini, adalah hebohnya kenaikan bahan bakar. Masalahnya bukan berarti selesai sampai disini, penyelesaian yang ada sekarang hanya menunda masalah tersebut bahkan sama sekali belum menyelesaikan akar masalahnya.

Akar masalahnya sebenarnya ada pada availability bahan bakar itu sendiri, sementara yang diulur-ulur pemerintah baru masalah affordability-nya.  Kita baru mengkutak-katik terjangkau tidaknya harga bahan bakar itu saat ini, kita belum meletakkan strategi jangka panjang untuk ketersediaan bahan bakar itu sendiri.

Paling tidak sepengetahuan saya belum ada konsensus nasional, energi apa yang akan kita pakai untuk menggerakkan seluruh aspek kehidupan kita 10, 20, 30 tahun kedepan ketika anak-anak kita dewasa seusia kita sekarang. Bagaimana pula dengan 40, 50, 60 tahun dari sekarang ketika cucu-cucu kita dewasa juga seusia kita sekarang ?.

Memang sampai saat ini sumber bahan bakar yang paling murah pengadaannya – diukur dari EROI-nya (Energy Return on Investment), yaitu perbandingan antara energi yang dihasilkan dengan energi yang diperlukan untuk menghasilkannya, diduduki oleh Energi Hydro dengan EROI mendekati 100, disusul batu bara di kisaran 80, dan minyak bumi di kisaran 35. Sementara energi terbarukan seperti solar cell baru memiliki EROI sekitar 6.8, dan lebih rendah lagi biodiesel dan bioethanol yang EROI keduanya baru dikisaran 1.3.

Dari angka-angka tersebut diatas, pastilah pemerintah di negeri manapun saat ini – yang concern dengan pencitraan sesaat jaman ini ketika mereka berkuasa – dan tidak peduli citranya puluhan tahun yang akan datang – akan memilih energi air, batubara dan minyak bumi sebagai sumber energi utamanya.

Masalahnya adalah energi air belum tentu ada di seluruh daerah  dan yang adapun belum tentu langgeng keberadaannya karena kelestarian bumi yang terus dirusak. Energi batubara memiliki efek pencemaran yang luar biasa. Setiap 1 megawatt penggunaan batu bara, mengeluarkan CO2 sebanyak 1,600 pounds setiap jam-nya.  Negeri industri seperti China saat ini melepaskan sekitar 6 milyar ton CO2 setiap tahunnya.

Dan energi minyak, sekarang-pun sudah menjadi simalakama seperti tersebut di atas. Masih available saja sudah mulai tidak affordable bagi sebagian orang, apalagi bila availability-nya terus mengalami penurunan. Kalau Anda hari-hari ini menjadi pegawai negeri yang beruntung diberi mobil Dinas, Anda pasti pusing dengan urusan bahan bakar minyak ini. Anda tidak boleh lagi membeli bahan bakar bersubsidi, tetapi jatah uang bahan bakar Anda sebenarnya hanya cukup untuk bahan bakar bersubsidi. Pemerintah belum bisa menaikkan anggaran bahan bakar Anda untuk membeli bahan bakar pertamax yang harganya lebih dari dua kali lipat harga bensin premium.

Lantas bila era sumber energi murah seperti air, batu bara dan minyak bumi akan berakhir karena satu dan lain hal, apakah kita tidak mulai secara serius memikirkan penggantinya ?. Memang ini mestinya tugas pemerintah, pendidikan tinggi, lembaga-lembaga penelitian yang terkait dlsb. tetapi bagaimana bila mereka juga berfikir bahwa ini mestinya tugas lembaga lain ?, walhasil akhirnya tidak atau belum ada yang memikirkannya secara serius.

Maka orang kecil dari lembaga kecil yang tidak ada hubungannya dengan riset-riset energi sekalipun seperti kita-kita, tidak ada salahnya untuk ikut mulai memikirkan masalah energi ini secara serius. Seperti contohnya energi bioethanol, di negara maju bioethanol yang dibuat dari jagung hanya memberikan EROI 1.3 artinya nyaris impas saja antara energi yang dihasilkan dengan energi yang diperlukan untuk menghasilkannya. Tetapi kita bisa melihat ada peluang lain di negeri ini khusus untuk bioethanol tersebut di atas.

Dari hasil riset-riset perguruan tinggi yang saya baca,  dengan bahan baku singkong dapat dihasilkan ethanol di kisaran 15 %-30% berat, bahkan konon ada yang sudah bisa sampai 1/3 berat. Kemudian pengembangan singkong-singkong varietas unggul sudah mulai bisa dihasilkan tanaman singkong dengan hasil di atas 60 ton/ha panen. Bila hasil-hasil riset ini bisa konsisten dalam aplikasi lapangan dengan skala komersial, maka disitulah peluang besarnya.

Ada dua produk utama dari singkong ini, yaitu singkongnya sendiri (untuk pakan ternak dlsb) dan bioethanol. Untuk menjadi pakan ternak yang bergizi tinggi dan tahan lama (untuk disimpan), singkong memang perlu difermentasi. Ketika singkong difermentasi, hasil sampingnya ya antara lain bioethanol tersebut. Jadi bahan bakar bioethanol dari singkong bisa dianggap sebagai produk samping dari produksi pakan ternak.

Karena cost untuk memproduksinya di share dengan cost untuk memproduksi pakan ternak, maka EROI untuk biethanol berbahan singkong bisa melonjak. Yang tadinya tidak ekonomis, bisa jadi dalam waktu dekat menjadi sangat ekonomis.

Bayangkan bila per hektar tanaman singkong menghasilkan 60 ton singkong. Dari 60 ton singkong bisa dihasilkan 20 ton bahan bakar (sekitar 25,000 liter karena massa jenis ethanol 0.79). Dari proses ini juga dihasilkan pakan ternak terfermentasi 20 ton juga, maka wow ! secara teoritis produksi ethanol bersama pakan ternak ini bisa menjadi sangat menjanjikan.

Mungkinkah angka-angka teoritis ini diimplementasikan di lapangan ?. Itulah yang harus kita jawab dengan mencoba lakukannya di lapangan. Kalau kita mulai lakukannya sekarang dan mengatasi masalah-masalah yang mungkin timbul, insyallah saat anak-anak kita dewasa, saat cucu-cucu kita seusia kita – masak masalah ini tidak terselesaikan ?.

Memang masih ada yang keberatan dengan budidaya singkong ini secara besar-besaran karena konon merusak hara tanah, ini semua perlu difikirkan. Dugaan saya sementara ini rusaknya tanah bukan karena singkongnya, tetapi karena pupuk kimia yang dihamburkannya. Maka dengan pupuk organic yang kami kembangkan menggunakan Microbachteria Alfaafa – yang sudah bisa diperoleh oleh masyarakat yang ingin mencobanya, insyaallah kerusakan lahan tersebut dapat dihindari – sebaliknya lahan bisa terus bertambah subur secara alami.

Microbachteria Alfaafa yang sama, juga akan mempercepat dan meningkatkan hasil fermentasi sehinggga rasio rendemen 1/3 berat tersebut diatas insyaAllah bisa dicapai. Kami mengundang instansi atau perusahaan-perusahaan yang ingin kerjasama dengan kami untuk aplikasi Microbachteria Alfaafa ini.

Ketika ditemukan alfaafa sebagai salah satu berita besar dari surat An-Naba’ (QS 78 :16), maka - berita besar - berikutnya insyaAllah akan terus menyusul – termasuk rentetan turunannya Microbachteria Alfaafa yang antara lain akan kami gunakan untuk menyuburkan tanaman singkong dan mengolah hasilnya untuk energi dan pakan ternak tersebut di atas.

Kita perlu mulai lakukan sekarang, agar anak cucu kita tidak menjadi sandra bom waktu masalah bahan bakar warisan dari generasi ini – yang telah menyandera kita selama beberapa decade belakangan. Tugas kita memulai dan membuka jalan, biarlah Allah menuntunnya sampai mana upaya ini nanti hasilnya. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:

coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah

Meninggalkan Pesan

Meninggalkan Pesan
Form isian untuk meninggalkan Pesan